Negeri Para Pesulap

pesulapAku lahir di negeri sulap (negeri sulap)

Aku besar di republik sulap (republik sulap)

Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja

Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada

Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz

Bim salabim, bim salabim, abracadabra

Republik Sulap –  Tony Q Rastavara

Aku mendengar lagu ini lewat pengamen di Murjani beberapa hari yang lalu. Mereka bernanyi bergerombol, hampir sepuluh jumlahnya. Dan aku yakin, mereka mengamen bukan untuk mencari makan, tapi hanya sekedar mengisi waktu luang, bersenang-senang atau modus untuk mendekati cewek cantik lalu berkenalan.

Akan tetapi, dari sekian banyak pengamen yang menyanyikan lagu-lagu ternama. Hanya merekalah yang menarik telingaku untuk mendengarkan seksama lagu itu, jujur, baru pertama pula aku mendengarnya. Dan lirik lagu itu memancingku untuk menuliskannya di sini.

Katanya, negeri kita adalah negeri para pesulap. Jika dilihat secara nyata, tak benar adanya. Para pesulap di negeri ini yang terkenal hanya bisa dihitung jari. Itu pun ada yang beralih peran menjadi host acara bincang-bincang. Semenjak acara pencarian bakat para pesulap menghilang di televisi, semenjak itu pula para pesulap tak pernah lagi muncul untuk menampilkan atraksinya. Sepertinya pesulap sulit mendapatkan perannya untuk menjadi beken, kalah pamor dengan pelawak ataupun penyanyi.

Aku lahir di negeri sulap (negeri sulap)
Aku besar di republik sulap (republik sulap)

Jadi, Apakah ada yang salah dengan lirik lagu ini? Jika ditelisik lebih dalam lagi sepertinya tidak. Karena secara tersirat memang benar adanya, negeri kita adalah negeri para pesulap. Terlebih para pejabat yang sedang berada di atas sana.

Entah belajar dari pesulap mana, dan kurang ajar sekali pesulap yang mau mengajarkannya. Para pejabat kita hebat sekali melakukan muslihat. Pembangunan gedung olahraga membengkak biayanya. Proyek rekayasa motor dan mobil-mobilan untuk pengujian SIM-pun tak luput disulap. Banyak sekali, bahkan tak mampu dihitung jari. Membentang dari pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah, bahkan sampai level kepala desa.

Jembatan membengkak dua kali lipat biayanya, proyek pengaspalan jalan menurun kualitasnya—karena bahan bakunya ikut disulap, pengadaan alat tulis diganda-gandakan jumlahnya, pemberian beasiswa diasumsikan saja manusia yang menerimanya. Terpilih jadi bupati sogok hakim agung yang memeriksanya, ingin jadi pegawai negeri, dekati saja pejabat yang berwenang di dalamnya.

Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja
Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada

Memang benar adanya, negeri ini kini dipenuhi dengan para pesulap. Yang memunculkan apa saja, mengada-ngadakan apa yang ingin diadakan, menghilangkan apa yang telah ada. Semuanya bisa dilakukan, semuanya bisa, karena negeri ini telah dipenuhi oleh pakar pesulap.

Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz
Bim salabim, bim salabim, abrakadabra

Dan semuanya hilang dan semuanya mucul kepermukaan. Semudah mengucapkan bim salabim, abracadabra. Entah apa yang harus kulakukan, bingung aku memikirkan. Haruskah bangga dengan para pesulap yang menyulap apa saja dengan muslihatnya, ataukah ikut belajar sulap untuk mengikuti jejaknya, atau hanya puas menjadi penonton dan terkagum-kagum melihat atraksi mereka.

Aku lahir di negeri sulap.

Pelaihari, 1 November 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

One thought on “Negeri Para Pesulap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s