Cat 18 – Kopi Sachet

kopi sachetSore kali ini datang dengan hembusan hawa dingin. Berasal dari sisa-sisa hujan yang belum sempat pudar. Tak ada matahari yang menyembul ke permukaan, mungkin dia keasyikan bermain ketika hujan turun, sampai lupa, bahwa dia belum juga turun perlahan-lahan menciptakan senja yang memendar jingga.

Tak ada pelukan yang menghangatkan tubuh. Hanya ditemani secangkir kopi sachet seharga seribu. Tetapi, ternyata seribu juga bisa menghasilkan kenikmatan. Siapa bilang tak ada kebahagiaan yang kini bernilai seribu? Satu permen seharga dua ratus pun akan membuat aku berbahagia. Asal waktunya tepat dan syukurnya ikut dibuat.

Hangatnya kopi perlahan-lahan menjadi dingin. Tak ada yang selalu panas kecuali api—matahari dan keluarga-keluarganya. Berarti, tak ada yang kekal di dunia ini. Kenikmatan berharga murah pun nantinya berubah menjadi sesuatu yang biasa. Yang berharga mahal tak mampu dibeli oleh manusia sepertiku ini. Jadilah aku hanya bisa bermimpi dan berharap ada manusia yang mau memberi—dan itu jelas hanya ada di dunia mimpi.

Jika suatu saat aku bisa mendapatkan kenikmatan yang berharga mahal. Akankah sama jadinya dengan kopi sachet seribu yang mulai dingin ini? Tak senikmat saat diseduh, menjadi hambar karena kopi dingin memang tak menarik untuk diminum.

Apakah akan sama jadinya? Bermahal-mahal mendapatkannya, tapi setelah puas merasakan, nilainya jatuh bahkan berbanding sama dengan kopi sachet seribu yang telah dingin. Sebegitu mudahnya Tuhan memutar balikan kebahagiaan. Membanting tulang mendapatkan kenikmatan berharga mahal, setelah puas akan muncul lagi kenikmatan yang berharga lebih mahal lagi. Dan aku akan berlomba lagi mendapatkannya. Mencampakan lagi. Berlari lagi mencari yang baru. Membuangnya lagi. Dan menerjang lagi sesuatu yang megah. Dan pada akhirnya, lagi-lagi aku mengacuhkannya.

Seperti inikah aku nantinya. Mencari, mengacuhkan, berlomba, lalu membuang. Jika kopi sachet seribu ini memberikan kenikmatan di awal, mengapa dia tak menjadi kekal untuk menjadi suatu kenikmatan? Ahh, aku terlampau dungu untuk dunia yang dipenuhi dengan misteri dan prasangka. Sepertinya tak ada kenikmatan kekal dunia ini, lalu mengapa aku harus membanting tulang untuk mendapatkannya.

Jika kopi sachet mampu memberikan kenikmatan, lalu tak lama nikmat itu menghilang. Sesungguhnya bahagia itu tak sederhana. Ia rumit penuh dengan tanda tanya.

Banjarbaru, 22 Oktober 2013

Sumber foto: Klik

Iklan

5 thoughts on “Cat 18 – Kopi Sachet

    1. Iya, bahagia memang sederhana. tapi, setelah mendapatkannya kita mencari lagi kebahagiaan yg lain dan trus saja mencari lg hingga tak pernah berakhir. Itulah mengapa kebahagiaan yg tdny sederhana menjadi tak sederhana lg, menurutku. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s