Terasa Berat

Masih berat untuk memulai. Ketika kenyataan telah berkata banyak akan sebuah harapan yang terbuang. Masih berat untuk mengawalinya kembali. Ketika ketakutan kini lebih cenderung mendominasi dibandingkan optimis yang perlu untuk dipupuk dan diperbanyak. Pesimisku berhasil menidurkanku untuk terus berada kepada kekalutan yang tak pernah berani aku perangi. Sampai kapan ini? Sampai kapan mereka tertawa disaat aku hanya bisa terduduk di pojokan yang kelam.

Aku seperti menyublim, menguap menjadi gas dan melayang-layang di udara, setelah itu benar-benar raib dari penglihatan alam nyata. Aku tak akan kembali menjadi air ketika hujan jatuh, apalagi menjadi wujud kembali ketika gas-gas yang menyublim itu terpencar dan hilang satu persatu terhirup oleh paru-paru ketakutan yang mendalam. Aku terperangkap, aku terpenjara dan tak ada keberanian untuk keluar kembali melalui hidung atau kentut yang kata banyak orang menjijikan, tapi sebenarnya sangat dibutuhkan.

Terasa berat untukku merajut asa yang selama ini telah robek dan berhamburan menjadi kain perca yang bahkan tak laku untuk dijadikan keset daur ulang atau serbet makan. Sebegitu hancurnya harapanku, roboh dan sulit untuk dibangun kembali. Bagaimana bisa kita mengembalikan gedung menjulang dengan bahan bangunan awal yang sekarang hanya menjadi sisa puing. Atap yang pecah berhamburan, bata yang tak berwujud lagi, dan besi beton yang telah dipungut pemulungan dengan saling berebutan antar mereka.

Tuhan tak memberikan jalan buntu. Hanya jalannya saja yang terasa berat untuk dijalani. Bukan berarti aku tak akan mampu untuk menempuhnya. Selalu ada jalan, selalu ada harapan. Itu yang selalu dikatakan manusia bijak, ketika menyemangati orang yang diajak bicara sedang mendapatkan masalah. Padahal, belum tentu dia sendiri mampu menjalani itu semua. Berbicara memang sangat mudah.

Tetapi memang benar adanya, harapan memang selalu ada. Benar kata manusia—sok—bijak itu, harapan mungkin datang tertunda, itu mungkin jawaban agar aku senantiasa belajar. Pondasi masih bisa digunakan, Materi tak mungkin dimusnahkan, hanya bisa dirubah bentuknya. Gas yang telah menyublim mungkin saja akan manjadi wujud kembali. Semuanya dengan membutuhkan waktu dan pengorbanan, walaupun terasa berat. Keberatan itu yang akan menjadikan fisik kita berotot dan mental kita tak terpatahkan.

Ahh, mengapa aku baru saja menyadari. Jalan yang mudah tak akan menjadikan diri kita hebat. Tak ada pelaut ulung yang lahir dari gelombang tenang, mereka lahir lewat terjangan badai dan taklukan gelombang besar. Kapal yang di dermaga memang aman, tapi bukan itu maksud dibuatnya kapal. Itulah kata-kata bijak yang sengaja tertempel di dinding kamar. Selama ini aku tak meresapi kalimat itu, aku hanya membaca dan mengaggumi begitu saja.

Kegagalan memiliki andil besar untuk menghancurkan hidup kita, tapi lewat kegagalan itu jua memintaku untuk membangun gedung yang lebih tinggi lagi. Memintaku membangun pondasi yang kokoh dan memperbaiki susunan besi beton agar mampu berdiri tegak ketika diterjang angin, dan tegar menghadapi panas terik.

Terasa berat memang, tapi hanya awalnya saja aku rasa.

Pelaihari, 16 Oktober 2013

Iklan

One thought on “Terasa Berat

  1. Sangat menguatkan jiwa saya yg sudah sangat letih.. Terimakasih.. Ya, kapal di dermaga memang aman, Namun bukan itu maksudnya dibuatnya kapal.. Saya sangat mengerti jalan di depan tidak Akan mudah, namun saya amat senang mengetahui saya tidak sendiri.. Bahwa Anda mengetahui persis apa yg saya rasakan. Sekali lg terima masih atas tulisan yg menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s