Bekorban

Apa yang sudah aku korbankan untuk orang lain? Momentum hari raya Idul Adha seharusnya memantik diriku untuk mencontoh pengorbanan Nabi Ibrahim untuk menjalankan ketakwaannya kepada Allah. Keikhlasan dan kepasrahan Nabi Ismail pun seharusnya menjadikan diriku malu. Bagaimana tidak, seorang anak kecil yang bahkan belum dewasa secara akal dan pikiran, dengan rela mengikhlaskan hidupnya untuk disembelih ayahnya hidup-hidup atas dasar perintah Tuhan.

Kesedihan mungkin menaungi Nabi Ibrahim waktu itu, bagaimana tidak, anak yang selama ini telah dinantinya puluhan tahun harus dia bunuh dengan tangannya sendiri. Mengapa begitu singkatnya Tuhan memberikan kebahagiaam kepada diriku? Mungkin itu yang ada dibenak Nabi Ibrahim waktu itu.

Aku sebagai manusia awam, mungkin tak akan pernah sanggup untuk melakukan pengorbanan seperti itu. Tetapi, itulah yang membedakan kualitas Wali Allah dengan manusia biasa yang masih berfikir enak-tidaknya dalam menjalankan ibadah.

Nabi Ibrahim dan Ismail yang dengan ikhlasnya berkorban atas dasar ketakwaan dan cintanya kepada Allah. Sedangkan, sudah berapa banyak pengorbanan yang telah aku berikan untuk menguji ketakwaanku kepada-Nya. Sedikit sekali, bahkan mungkin tidak ada, jika semuanya dinilai atas dasar keikhlasan dalam berbuat. Dalam menjalankah ibadah wajib saja aku terkadang berat untuk melaksanakannya, menjalankan sholat saja ingin cepat-cepat aku tuntaskan, seraya pikiran melayang-layang memikirkan apa saja, sedangkan lisan seolah khusyuk dalam memuja nama-Nya.  

Pengorbanan apa yang sudah aku berikan kepada Tuhan. Tak sanggup rasanya jika aku di tempatkan diri menjadi Nabi Ibrahim yang ikhlas menyembelih anaknya. Hidup ini, katanya, bukan tentang bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan berlimpah ruah. Tetapi, seberapa banyak pengorbanan yang kita berikan untuk orang banyak.

Itu dasarnya, dan sampai saat ini rasanya aku masih belum banyak bekorban untuk orang lain. Jangankan itu untuk bekorban untuk orang tua sendiri rasanya masih mengharapkan pamrih. Manusia seperti apa rasanya diriku ini. Rasanya terlalu egois aku selama ini, selalu memikirkan kesenangan pribadi dibandingkan untuk orang lain.

Masih banyak pengorbanan yang harus aku lakukan. Selama ini, untuk bekorban demi kebaikan diriku sendiri saja masih dirasa sangat berat. Sifat malas yang kumiliki selalu saja menjadi raja dan menidurkan segala bentuk kebaikan yang seharusnya telah kulakukan. Usia yang kini akan menginjak seperempat abad tak berkontribusi sama sekali rasanya untuk kebaikan orang banyak. Bagaimana tidak, untuk kebaikan diri sendiri saja masih ditelantarkan.

Banyak pengorbanan yang harus kulakukan saat ini. Terlebih bekorban untuk diri sendiri, menggapai asa dan meraih mimpi. Dan semua itu tak akan mungkin terjadi jika aku hanya terus bermimpi sedangkan tak ada gerak untuk mewujudkannya. Segala sesuatu yang besar harus ada yang dikorbankan untuk meraihnya: waktu, tenaga, materi adalah suatu modal yang harus dibayarkan.

Idul Adha kini mengajarkanku untuk ikhlas bekorban, baik untuk diri sendiri, terlebih untuk banyak orang. Idul Adha bukan perkara aku mampu menyisihkan sebagian rezeki untuk membeli hewan Qurban. Tetapi, bagaimana aku ikhlas untuk mengorbankan apa saja, serendah-rendahnya usaha, sekecil-kecilnya pengorbanan.

Pelaihari, 16 Oktober 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s