Segalanya Mahal

Membayar mahalBesok atau lusa kita akan mengerti. Mimpi yang selama ini kita junjung tinggi, tak selamanya akan mendatangi. Besok atau lusa kita akan tahu. Kita tak akan mampu menjadi manusia yang dihormati dan disegani. Bukan karena apa dan mengapa, tapi karena memang kita tak menjadi apa-apa.

Sudah kita ketahui bersama. Kehormatan itu akan datang bersama dengan kesuksesan yang kita dapat. Keramahan, perhatian, bahkan sifat perduli hanya tulus diberikan kepada manusia-manusia yang telah mendapatkan materi mencukupi. Sedangkan, bagi manusia yang apa adanya, bahkan untuk makan sekalipun harus menahan diri terlebih dahulu. Segala bentuk keramahan, perhatian, dan sifat perduli itu hanyalah mimpi belaka.

Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Dunia yang berubah dengan hanya memandang materi, ataukah manusia yang dibutakan oleh harta. Semua manusia sepertinya mengharapkan pamrih atas segala bantuan yang diberi. Adakah manusia yang benar-benar tulus dalam membantu? Adakah mereka yang benar-benar ikhlas dalam memberi?

Ceritakan padaku dimana mereka itu? Dimana mereka berkumpul dan saling hidup tanpa memperdulikan harta maupun kelas sosial? Siapakah guru mereka yang mengajarkan semua ketulusan itu? Bagaimana bentuk kejernihan hati mereka?

Adakah manusia seperti itu?

Aku letih untuk berprasangka. Tak mampukah kita hidup tanpa prasangka yang tidak-tidak. Tak ada pikiran negatif yang menghukum seseorang lebih dahulu, tanpa mengenal dalam-dalam seseorang itu sebelumnya. Tak adakah manusia yang bersikap ramah tanpa melihat pakaian yang mereka kenakan sebelumnya. Adakah yang perduli dengan manusia yang hanya memiliki satu baju yang melekat di tubuhnya saja.

Baru kusadari, hal itu mungkin sulit terjadi.

Manusia akan selalu saja berprasangka yang tidak-tidak. Manusia akan berfikir negatif terhadap manusia lainnya. Hal ini dikarenakan mereka telah melakukan itu sebelumnya. Heran? Ya, Kebanyakan manusia telah menipu, mengecewakan, mengharap, menjilat, mengiba, menyikut manusia lainnya. Itulah mengapa mereka tak ingin kejadian itu dialami olehnya pula.

Sesungguhnya manusia hanya ingin kelakuannya tak kembali kepadanya. Mereka tak ingin senjata yang dia letuskan malah berbalik melukainya. Wajar saja, manusia harus membayar mahal atas kesalahan yang telah mereka lakukan dulu.

Pelaihari, 9 Oktober 2013

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s