Komunikasi Tanpa Bahasa

Hal ini mungkin aneh didengar. Semua manusia mungkin tak sependapat. Ya, merupakan suatu kewajaran jika setiap manusia saling berkomunikasi dengan bahasa yang mereka mengerti. Manusia saling mendengar lewat sarana verbal yang mereka ucapkan.

Akan tetapi, entah mengapa aku merasa yakin, bahwa manusia bisa saling berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa yang saling dimengerti. Bahkan, lebih gila lagi, manusia bisa saling berkomunikasi, walaupun mereka dipisahkan oleh ukuran jarak yang tak dekat. Tak perlu menatap mata, tak perlu saling mendengar, kita bisa saling memahami tanpa saling bertutur.

Jelas, banyak orang yang tak mempercayaiku, bahkan menganggapku gila. Tetapi, keyakinan tetaplah keyakinan. Bukankah Edisson merasa yakin dapat menemukan sesuatu untuk menerangi dunia ketika malam hari, padahal banyak orang yang menganggapnya gila tentang penelitiannya.

Aku pun merasa yakin, tentang semua ini. Dulu, sewaktu kita kecil, sewaktu tak ada memory yang dapat kita ingat ketika sekarang dewasa. Aku yakin kita bisa saling berkomunikasi tanpa suara, kita bisa saling memahami ke seluruh manusia di dunia. Tetapi sayangnya, orang tua kita mengajarkan bahasa, mengajarkan kita berkomunikasi menurut versi mereka, menurut kebiasaan mereka. Ini semualah yang memperkerdil kemampuan kita untuk bisa saling berkomunikasi. Kemampuan kita semakin hari, semakin memudar, hingga akhirnya kita seperti sekarang ini. Hanya bisa berkomunikasi dengan sesama manusia yang menggunakan bahasa yang sama.

Aku tetap yakin, bahwa manusia bahkan bisa berbicara dengan semesta ini. Dengan pohon, dengan hewan, dan seluruh makhluk hidup lainnya. Kita bisa saling berkomunikasi. Tetapi semua itu kita tinggalkan, ketika kita telah asyik menggunakan ‘bahasa’ yang telah orang tua kita ajarkan dengan susah payah.

Aku tak tahu, apakah hanya aku yang memiliki keyakinan seperti ini. Telah kucari berbagai info di internet, tentang bagaimana cara berkomunikasi tanpa perlu berbicara dengan bahasa, dan dipisahkan jarak yang saling membuat kita tak bertatap muka. Hasilnya tak memuaskan. Ada yang menyarankan menggunakan Skype, tidak, itu memang bisa membuat kita berkomunikasi di jarak manapun kita terpisah, tetapi semua itu terlalu remeh, kita tak selemah itu, yang membutuhkan teknologi dan bahasa baru bisa berbicara.

Adapula website yang menyebutkan cara itu merupakan telepati. Hmm, mungkin ada benarnya. Aku cari penjelasan lebih mendalam tentang telepati, hampir mendekati. Semua teori yang mereka tuliskan, hampir sama dengan logika yang kuyakini. Tetapi, ada satu yang kurang. Dalam telepati, mereka tak menjelaskan, bahwa manusia bisa berkomunikasi dengan binatang, pohon dan alam semesta ini. Telepati masih belum bisa memuaskan logikaku.

Aku yakin, kawan. Yakin dengan seyakinnya, bahwa kita bisa saling mengerti tanpa perlu ada lisan yang terucap dan kata yang didengar. Kita bisa memahami semuanya, tanpa ada batasan yang menjadikan kita terbatas.

Itulah mengapa bumi itu bulat, kita berada di bumi yang sama. Kita sebenarnya saling terhubung, cuma kita saja yang tak menyadari kemampuan luar biasa yang telah lama kita buang. Kita bisa berkomunikasi tanpa bahasa.

Banjarbaru, 27 September 2013

Iklan

4 thoughts on “Komunikasi Tanpa Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s