Banggakah Kartini?

raden-adjeng-kartiniAda rasa yang menggelitik. Sesuatu yang berubah dari seharusnya, sebuah bentuk kemajuan ataukah keterbelakangan. Zaman yang berganti ataukah manusia yang bangga dengan kemodernan yang mereka buat sendiri. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menghina, mengejek, apalagi menggurui. Apa yang kutulis berasal dari keheranan pribadi, yang melihat kaum wanita yang berlomba untuk mengalahkan pria.

Mungkinkah, sekarang Kartini bangga melihat kemajuan wanita negeri ini. Ataukah, dia kecewa dan sangat bersedih, melihat emansipasi yang dia perjuangkan mati-matian, kini disalah artikan oleh wanita yang telah bertahun-tahun mengenyam pendidikan.

Ada percakapan yang tak kusengaja dengar dari mereka yang bangga dengan perubahan ini.

“Wah, kalau sudah lulus nanti kamu mau kemana?” tanya seorang lelaki kepada wanita yang duduk di sebelahnya.

“Ya, cari kerja dulu lah,” jawab wanita singkat.

Lelaki itu menambahkan, selebihnya mungkin berharap. “Kenapa ngga nikah saja? Biar aja suami kamu yang bekerja.”

“Ngga mau ah, sia-sia dong aku kuliah capek-capek, kalau ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga juga.”

Lelaki itu sedikit kecewa mendengar jawaban wanita, lalu dia menjawab sekenanya, “Sekarang, untuk mendidik anak-anak, juga perlu wanita yang cerdas.”

Pria itu lantas meninggalkan wanita itu.

Ada pula percakapan dari sepasang wanita yang sedang berkeluh kesah di sebuah café mahal.

“Din, aku BT banget nih.”

“BT kenapa, Say?” jawab wanita yang memakai blazer hitam dan rok mini.

“Laki gue, Din, masa dia minta gue berhenti kerja.”

Lawan bicaranya terkejut setengah mati, “Hah, kok bisa? Alasannya kenapa?”

“Klise, masa gue diminta fokus ngurus anak-anak. Iya kalau gaji dia besar, bisa ngebiyayain sekeluarga. Ini, gaji dia aja masih besaran gaji gue. Mau makan apa kita nanti, Din.”

“Wah, laki lu kolot itu. Kampungan sekali, ngurus anak-anak kan bisa sehabis kerja.”

“Nah, itu maksud gue, Din. Keluarga gue perlu banyak duit untuk bisa bahagia. Maka dari itulah gue kerja, biar anak-anak gue ngga ketinggalan zaman. Nah ini, sekarang laki gue malah minta gue berhenti kerja. Bingung gue dengan jalan pikiran dia.”

Percakapan berhenti, berganti dengan percakapan baru. Café kini penuh, dengan dimasuki orang-orang baru. Sedangkan, orang-orang yang telah lama duduk, tak beranjak pergi. Sebagian besar diisi oleh para wanita yang asyik mengobrol, seraya lupa, jam kerja telah berakhir, dan anak-anak mereka telah lelah menunggu kasih sayang di rumah.

Itu mungkin percakapan manusia yang sering kudengar. Diceritakan oleh banyak orang, dengan maksud yang hampir sama. Salahkah wanita bekerja? Jawaban yang relatif, tergantung dari sudut pandang mana kita mau melihat.

Dari sudut pandang agama? Aku tak punya kapasitas untuk menjawab hal itu. Telah banyak tulisan di Internet yang menjelaskan. Dari sudut pandang sosial-masyarakat? Aku pun tak bisa menyeragamkan, karena setiap masyarakat memiliki pendapat berbeda antar satu dengan yang lainnya.

Aku yang masih kolot dan kampungan ini, mungkin hanya bisa berpendapat. Tanpa bisa menegaskan dengan dalil yang kuat, atau tatanan hukum yang telah tercantum dalam undang-undang. Aku hanya bisa beragumen, walaupun dengan kapasitas yang kupunya, argumen apapun yang kukatakan akan mudah dipatahkan. Aku menyadari, pemikiranku dangkal, tetapi ijinkan aku untuk sedikit mengutarakan maksud yang selama ini mengganjal.

Salahkah wanita memperoleh pendidikan, bekerja, dan mencari uang? Tidak, sama sekali tidak. Manusia mempunyai hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Hak mereka untuk memilih.

Tetapi, bagiku kewajiban utama wanita adalah membesarkan, mendidik, dan mengajari anak-anak mereka. Pemikiran itu, mungkin di-amini oleh semua orang. Wanita modern mungkin masih mengerti tentang ini. Tetapi, sebagaian dari mereka yang telah meneguk bulat-bulat feminisme, akan berkilah dengan berbagai alasan. Aku harus memperoleh pendidikan setinggi mungkin, agar aku bisa bekerja di tempat yang baik. Setelah berkerja, aku harus bekerja sekeras mungkin, agar aku bisa membiyayai anakku, agar mereka bisa bahagia, memperoleh pendidikan di sekolah terbaik dan memiliki fasilitas yang terbaik.

Alasan yang sungguh bijak, tetapi sayang, mereka telah lupa akan kodrat yang seharusnya. Bekerja bukan menjadi kewajiban wanita, itu milik suami mereka. Tak masalah, jika mereka bersepakat dengan suami mereka untuk membantu perekonomian, asal saja kewajiban utamanya tak ditinggalkan.

Tetapi itu akan menjadi masalah, jika wanita modern memiliki jalan pikiran yang menumpukan kebahagiaan anak-anaknya dengan uang yang mereka dapat. Hanya omong kosong, jika para wanita beralasan bekerja keras hingga tak mempunyai waktu untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah terbaik dan mendapatkan fasilitas terbaik,

Wake up ! Pendidikan terbaik untuk anak ada dalam rumah, bukan di sekolah. Pendidikan formal hanya penunjang. Pendidikan utama ada di rumah, dan guru terbaiknya adalah ibu mereka sendiri. Aku heran, jika para ibu lega menitipkan anak-anaknya di sekolah, dan selepas itu tak mengajari apapun lagi di rumah mereka. Seolah mereka telah merasa memenuhi kewajibannya, dengan memberikan rupiah kepada guru di sekolah.

Ini kah yang diinginkan Kartini? Tidak. Kartini menginginkan penyamaan pendidikan, agar kaum wanita bisa menjadi wanita cerdas yang akan mendidik anak-anak mereka di rumah. Dia menuliskan kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya,

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Kartini tak menginginkan agar wanita bersaing dengan laki-laki. Dia hanya menginginkan mendapat pendidikan yang sama. Agar wanita bisa mendidik anak-anaknya dengan lebih baik. Bukanah, ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang cerdas pula, itulah yang diinginkan Kartini.

Jujur, aku sedikit kecewa. Jika para wanita masa kini, memiliki jalan pikiran, bahwa kuliah  yang tinggi harus mendapatkan pekerjaan, bukan untuk menjadi bekal mendidik anak-anak nantinya. Aku pun merasa kecewa, ketika wanita memutuskan bekerja, karena merasa suaminya tak becus dalam mencari uang. Feminisme sepertinya telah mengakar kuat dibenak mereka.

Aku pun miris, ketika melihat anak-anak kecil, lebih merasa asyik bermain di game center. Mendapatkan kebahagiaan semu, lewat karakter yang mereka mainkan. Dimana ibu mereka? wanita yang seharusnya berpagut mesra penuh kasih sayang disamping mereka.

Kini, jika Kartini masih hidup. Apakah dia akan bangga melihat wanita modern negeri ini? Kewajiban wanita bukan bekerja, melainkan mendidik anak-anaknya di rumah. Itu yang ingin aku tegaskan.

Banjarbaru, 27 Agustus 2013.

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s