[Cerpen] Alam Berbicara

OLYMPUS DIGITAL CAMERA*Cerpen ini pernah diterbitkan dalam harian Banjarmasin Post. Edisi Minggu, 21 Juli 2013 dengan judul ‘Sabda Alam’*

Oleh: Ferry Irawan K

Debur pantai datang bersama dengan awan hitam. Di tempat ini jika hari libur akan dipenuhi suara riang para anak manusia, yang sepanjang hari sebelumnya hanya ditemani kebisingan kota. Cemara pantai bergoyang hebat, karena angin laut dan badai kecil pertanda akan hujan.

“Apa yang sedang kamu lamunkan, nak?

“Tidak ada apa-apa, bah, hanya sekedar menikmati angin laut.”

“Tak perlulah kamu berbohong, matamu kosong. Tak ada yang kamu pandangi, tak ada yang kamu lihat.”

“Apakah mata harus fokus, baru dia dikatakan melihat, bah?”

“Terserah kamu saja, nak. Hari sudah mau hujan, ayo cepat masuk ke rumah.”

“Nanti saja, bah. Ulun menunggu hujan turun. Agar awan hitam itu tak sia-sia memberikan pertanda.”

“Kamu sedang berbicara apa sih? Abah sama sekali tidak paham.”

“Ulun, sedang memikirkan keterikatan bumi dan isinya, bah.”

“Wah, pemikiran kamu berat sekali, nak. Abah masuk dulu, jika hujan datang, kamu masuk ke rumah.!”

Anak itu mengangguk saja. Dia kembali kepada lamunannya.

Pantai ini menuju gelap, padahal ini baru sore hari, baru sekitar pukul empat. Sepertinya akan terjadi hujan yang sangat lebat. Tak ada pengunjung di pantai ini terlihat, hanya beberapa warga sekitar yang membenarkan terpal-terpal di warung mereka agar tak terbang di tiup angin.

Pantai ini adalah Pantai Batakan, pantai yang menjadi favorit pengunjung, bagi warga Kalimantan Selatan dan sekitarnya. Garis pantai yang memanjang dan tak adanya karang yang menghujam membuat pantai ini disenangi pengunjung untuk bermain air di pantai. Jajaran cemara pantai juga menjadi alasan pengunjung memilih pantai ini agar tak kepanasan ketika bersantai menikmati deburan ombak.

Benar pertanda yang dikabarkan awan hitam. Tak lama kemunculannya, di pantai ini turun hujan dengan lebatnya. Cemara pohon ikut mengamuk ke kanan dan kiri menahan tusukan air hujan. Semua warga memasuki rumahnya, menutup pintu dengan rapat.

Hanya anak ini yang sedari tadi tak beranjak dari lamunannya. Tak menghiraukan lagi datangnya hujan.

“Nak, Ayo masuk ke rumah. Hujannya lebat sekali.”

Sang ayah memanggilnya dengan berteriak. Dia tak menghiraukan. Ayahnya pun berlari menjemputnya.

“Apa yang sebenarnya yang kamu lakukan ini, nak? Abah sama sekali tak mengerti.”

“Ulun bingung, bah. Jika alam memberikan pertanda untuk semua yang akan dilakukannya. Mengapa manusia tak diberikan alam pertanda? Apakah alam sudah membenci manusia?”

“Maksudnya apa, nak?” sang ayah mengusap wajahnya yang ditimpa cucuran hujan.

“Hujan datang, sebelumnya datang awan mendung. Air laut pasang datang, sebelumnya ada pertanda dari bulan. Bahkan bencana alam sekalipun datang, sebelumnya ada kawanan hewan yang berlari ke arah yang aman. Mengapa manusia tak diberi pertanda akan sebuah kejadian besar yang menimpa dirinya?”

“Semua sudah diceritakan alam, nak. Semua sudah diberi pertanda oleh Tuhan. Tidak ada yang mendadak.”

“Terus kenapa ketika mama meninggal kita tak diberi pertanda, bah? Mengapa ketika mama tiada, alam tak pernah membisikannya pada kita sebelumnya, bah? Kita kan bisa mencegahnya jika tahu.. hikss..” anak itu menangis, ingin mengalahkan hujan untuk membasahi wajahnya.

“Semuanya sudah diberi pertanda, nak. Hanya saja mungkin hanya mama yang mendapatkan pertanda itu. Hanya mama yang tahu. Tak ada yang bisa menolak kematian, nak. Walaupun kita sudah tahu dengan detail pertanda yang datang. Kematian itu takdir, bukan sesuatu yang dapat kita tunda.”

“Ulun sama sekali kecewa dengan alam. Dia pilih kasih dalam memberikan pertanda. Alam telah membenci manusia, dia marah karena hutan, air dan tanahnya di rusak manusia. Dia marah, dan tak perduli lagi dengan manusia.”

“Jangan bicara seperti itu, nak. Jika kamu marah dengan alam, maka kamu juga marah dengan Tuhan. Karena Tuhan-lah yang berkuasa atas alam semesta ini. Alam tak pernah melupakanmu, nak. Dia senantiasa memberikan kabar kepada manusia. Tetapi sayangnya, hati manusia sudah tidak peka lagi. Manusia sendirilah yang menjauh dari alam dan merasa dialah yang paling mengerti dirinya sendiri.”

“Maksudnya apa, bah? Ulun tidak mengerti.”

“Alam dari awal kamu lahir telah berbicara denganmu, lewat kehendak tuhan. dia menjaga dan melindungimu. Tetapi sejak awal kita menghiraukannya, hingga alam bawah sadar kita pun ikut melupakannya. Hingga jadilah kita yang berpisah diri dari komunikasi alam. Kita lebih senang menghabiskan waktu dengan sesama manusia, game dan kesibukan lainnya. Tanpa meluangkan waktu barang sedikit dengan alam, nak.”

“Jadi sebenarnya kita sendirilah yang menjauh itu, bah?”

“Iya nak, alam masih seperti dulu. Tak pernah berubah, dia masih ramah dengan kita. Manusia dan alam serta makhluk hidup lainnya itu saling terikat satu sama lain. Apa yang kita lakukan hari ini juga berpengaruh besar terhadap alam dan sekitarnya. Jadi jangalah merasa kitalah yang berkuasa di bumi ini. Kita hidup saling berbagi, alam selalu memberikan nasihat untuk kita. Hanya saja, mungkin kita yang tak mendengar atau kita yang mungkin tak pernah lagi merasa.”

Anak itu terdiam, meresapi kata-kata ayahnya.

“Kematian mamamu sudah menjadi takdir yang tak dapat diindahkan. Alam tak dapat berbuat banyak, itu sudah menjadi ketentuan Tuhan. Sekarang mendekatlah dengan alam, maka kamu akan menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Jadikan hati kita peka, nak. Maka kamu akan mendengar alam berbicara tanpa henti denganmu.”

“Caranya bagaimana, bah?”

“Hanya kamu yang tahu. Rendahkan hatimu, jangan bersombong diri. Tutup matamu, terlalu banyak sudah kamu melihat dunia. Biarkan telingamu saja yang melihat dan rasakan apa yang terjadi?”

Anak itu memejamkan mata. Mengadahkan wajahnya ke atas, merentangkan tangannya dan memusatkan pendengarannya.

“Alam berbicara, bah..,” anak itu berteriak dengan riang. “Tetapi melalui bahasa yang tak ulun mengerti.”

“Itulah suara alam, dia tak berbicara lugas, kamu tak akan pernah mengerti maksud sebenarnya. Tetapi seiring waktu kamu akan mengerti maksudnya, asal hati kita peka.”

“Aku berjanji untuk terus berbicara dengan alam, bah.”

“Itu berarti kamu harus mengurangi kekhawatiranmu tentang dunia yang kamu jalani. Karena suara alam tak akan hadir jika hati tidak tenang, anakku.”

“Iya bah. Aku sekarang mengerti.”

Hujan mendadak berhenti, langsung digantikan oleh mentari yang akan terbenam. Pantai Batakan sekarang berubah menjadi Jingga. Hampir tak berbatas antara langit dan laut, semuanya melebur menyanyikan nyanyian alam.

“Alam baru saja memberikan pertanda, bah”

“Apa pertandanya, nak, kalau abah boleh tahu?”

“Akan datang kebahagiaan, ketika kesedihan berlalu.”

Anak itu tersenyum lalu berjalan beriringan dengan ayahnya memasuki rumah.

Pelaihari, 9 Juli 2013

Nb: Ulun    = Aku/Saya

Abah   = Ayah

Sumber foto: Klik

Iklan

One thought on “[Cerpen] Alam Berbicara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s