[Cerpen] Manusia yang Perduli

save earthHari ini kakakku akan pulang kembali ke Indonesia, kembali menginjakkan kaki di Banjarmasin. Setelah lebih dua tahun mengambil gelar master di Swiss. Suatu kebanggaan bagiku, kakak berhasil menimba ilmunya di salah satu Universitas Top dunia. Salah satu universitas yang alumninya banyak mendapatkan penghargaan nobel. Universitas yang telah melahirkan ilmuwan terkenal sepanjang masa, Albert Einstein.

 Eidgenössische Technische Hochschule Zürich (ETH Zürich) itu nama universitas di mana kakak berkuliah. Masih terasa asing untuk diucapkan, mungkin sudah takdirku untuk tak berkuliah di sana. Mengucapkan nama universitasnya saja aku tak sanggup.

Menurut jadwal penerbangan, kakak akan tiba pukul sepuluh di Bandara Syamsuddin Noor. Kami sekeluarga sudah lama bersiap-siap, menjemput kakak yang sudah lama tak bertatap muka dengan kami. Sepertinya kakak akan banyak berubah, negara modern seperti Swiss pasti telah mengubah sifat kakak menjadi ‘kebarat-baratan’.

Dulu ketika masih berkuliah di Bandung, kakak seperti anak gaul masa kini. Segala kemajuan teknologi dia ikuti. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala ketika dia datang ke Banjarmasin. Membawa lima koper sekaligus dan isinya hanya pakaian. Aku hampir gila, mengapa kakakku yang seorang pria memiliki jiwa seorang wanita zaman sekarang. Suka mengoleksi pakaian. Aku saja yang wanita kalah dibuatnya.

Membayangkan kakak saat ini, pasti dia lebih gila lagi. Mungkin kali ini kakak akan membawa sepuluh koper baju. Karena aku yakin, Eropa selalu menggoda manusia untuk mengikuti perkembangan fashion. Segala macam produk branded dunia berasal dari Eropa. Eropa adalah tempat yang membuat manusia kesetanan untuk membeli apa saja. Tak perduli itu memang dibutuhkan atau tidak.

“Dian, ayo kita berangkat.”

Suara ibu membuyarkan segala imajinasiku terhadap kakak sekarang. Okee, tak perlu banyak menghayal, aku akan bertemu dengan dia. Akan aku acak-acak rambutnya jika lemari pakaian dia lebih banyak dari punyaku.

“Iya ma.”

Aku turuni anak tangga dengan riang, kakak jagoanku akan datang.

Tak lama menunggu, Pesawat dari Jakarta telah mendarat. Aku mencari-cari kakak, tak ada batang hidungnya. Apa mungkin kakak operasi plastik seperti Artis Korea atau mewarnai rambutnya menjadi pirang. Tak ada yang berambut pirang dan tak ada pria yang kelewat ganteng datang.

“Mama, kakak dimana? Kok sampai sekarang ngga ada lewat.”

“Sabar, mungkin lagi ngurus bagasi.”

Benar juga ya, koper yang kakak bawa pasti banyak, Jadi perlu waktu untuk mengumpulkan koper-kopernya. Dasar, masih belum berubah juga dia. Tak berapa lama, aku melihat kakak, dia tak berubah. Masih cokelat seperti dahulu. Aku kira kebanyakan kena salju membuat kulit menjadi putih.

“Kakak,..”

Aku langsung memeluk kakak dan dia tersenyum lebar memelukku. Pasti kakak akan terpesona melihat diriku sekarang. Terang saja, aku sekarang berubah menjadi gadis yang cantik.

“Widih adikku tambah gendut aja. Tetapi tetap ya, jelek kamu ngga pernah hilang.”

“Ahh, kakak tega. Baru datang sudah ngejek aku,”

Aku bergelayut manja di pundak kakak, sambil mataku melihat-lihat barang yang kakak bawa. Sebuah keajaiban, kakak hanya membawa satu koper dan satu tas ransel. Tak bisa dipercaya.

“Kakak, bawaan kakak kok sedikit sekali. Mana yang lainnya?”

“Ya memang ini aja yang aku bawa. Emangnya mau berapa banyak lagi?”

“Nah oleh-oleh buatku mana, buat papa, buat mama, buat keluarga yang lain mana? Pasti kakak lupa sama titipan aku ya.”

“Ngga kok, semua oleh-oleh ada di dalam koper ini.”

“Hahh? Ini mustahil ma. Dulu ketika kakak pulang dari Bandung saja bawa lima koper. Sekarang jauh-jauh dari Swiss cuma bawa satu? Ini mustahil, ini tak masuk akal. Ayoo, kakak ngaku. Pasti kopernya dipaketin semuakan?” aku masih tak percaya.

Mama dan Papa hanya tersenyum. Tawa mereka juga tersembunyi penasaran. Jin dari mana yang membuat kakak berubah sejauh ini.

“Widihh, kamu masih ya cerewet. Ngga usah memperdulikan barang yang kakak bawa, yang penting pesanan kamu sudah aku belikan.”

Kami beranjak pergi meninggalkan bandara. Di perjalanan, kami tak membahas lagi tentang koper. Kami asyik berbincang pengalaman kakak di Swiss, sial aku malah jadi iri. Salju disana dingin sekali katanya, tetapi lembut seperti pasir pantai. Aku kembali berimajinasi, disana masih ada orang jualan es krim ngga ya, jika ada pasti harganya pasti murah sekali. Waa, aku pengen Es Krim.

Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar kakak. Menagih oleh-oleh yang kuminta. Sambil membantu membereskan barang bawaannya.

“Kakak, pesananku mana? Hee,” aku melirik manja, menggoda kakakku yang sekarang nampak dewasa.

“Ini, benar ngga? Aku susah loh nyari barang kaya gini. Kamu ini aneh-aneh aja sih, aku di Swiss malah minta replika Menara Eifel, kenapa ngga sekalian aja minta Piramid Giza,” kakakku mencubit tanganku, dia tengah asik membereskan bajunya ke dalam lemari. Aku kembali tak percaya.

“Kak.. Itukan baju-baju kakak waktu masih di Bandung, kok masih dipakai sampai sekarang sih. Mana baju-baju kakak semasa di Swiss.”

“Yah ini aja yang aku punya, di Swiss aku cuma beli baju hangat dan aku berikan sama orang lain ketika pulang, karena di sini ngga mungkin dipakai juga. Hehe”

“Jauh-jauh dari Swiss kok ga banyak belanja fashion sih. Dasar kakak sekarang makin aneh aja. Berubah seratus dua derajat”

“Yee, Seratus delapan puluh kali. Gini ya adikku yang cerewet tiada tara sepanjang hari. Manusia sesungguhnya mampu bertahan hidup dengan tiga pasang pakaian saja. Atas nama kebutuhan manusia mungkin hanya membutuhkan tiga pasang pakaian, tetapi atas nama fashion dan gaya hidup kebutuhan pakaian itu menjadi tak terbatas. Coba lihat lemari bajumu, atas nama fashion pakaian kamu cuma mampu dipakai satu atau dua bulan saja. Setelah itu berganti lagi fashion terbaru.”

Aku hanya melongok tak menyangka, bibirku tak mampu lagi terkatup. Kakak benar-benar sedang kerasukan Jin Swiss.

“Coba kita renungkan lagi, saat kamu memasuki Duta Mall, Pasar Sudimampir, Pasar Martapura, atau pasar-pasar lainnya. Coba lihat jajaran penjual pakaian, semua pakaian itu sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan pakaian satu kota. Tetapi kenapa barang-barang itu tidak ada habisnya diproduksi. Setiap hari ada saja jubelan baju baru yang datang mengikuti trend. Padahal kebutuhan kita sudah lama tercukupi dengan pakaian yang ada di dalam lemari. Pernahkah kita coba merenung, apa yang kita inginkan telah jauh melampaui apa yang kita butuhkan. Jadi atas nama selera dan nafsu, sesungguhnya seisi Bumi ini tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.”

Kini aku benar-benar syok, kakak benar juga. Kakak baru saja menyadarkanku. Aku bergegas menuju lemari pakaianku. Mengeluarkan pakaian yang tak kupakai lagi, mengumpulkannya dan memberikannya kepada yang tak mampu. Dan akhirnya aku berhasil mengosongkan satu dari dua lemari pakaian yang kupunya, ternyata aku masih bisa hidup dengan satu lemari pakaian, bahkan mungkin dengan setengah lemari. Terima kasih kak, aku telah mendapatkan pelajaran berharga dari Jin Swiss.

Keesokan harinya aku meminta kakak menemaniku menyumbangkan pakaian ke panti asuhan. Pulangnya kami pergi ke supermarket membeli beberapa kebutuhan yang diminta mama. Memilih barang yang membuat kakakku hampir gila, bagaimana tidak, katanya pilihan varian susu kemasan saja panjangnya hampir selebar lapangan bola. Padahal perut manusia yang paling lebar sekalipun tak lebih dari satu meter.

Aku hanya tertawa lebar, menertawakan pemikiran kakakku ini. Membawa dua buah troly ke kasir, kakakku cuma bisa tertegun. Keluarga macam apa yang makan sebanyak ini, katanya.

“Semuanya sembilan ratus duapuluh ribu pak,” kasir itu menghitung dan memasukkan ke dalam plastik.

“Emm, di sini ada kantong belanja ramah lingkungan ngga mba?” kakakku bertanya.

“Ada pak, harganya lima ribu rupiah.”

“Tolong bungkus dengan itu aja ya mba, sekalian hemat plastik.”

“Kakak, kenapa harus pakai kantong kain itu sih. Ngga praktis, mahal lagi.”

“Jadi gini adikku, orang gila mana yang menciptakan sesuatu yang tak musnah ratusan tahun, tetapi masa penggunaannya hanya dalam hitungan jam, bahkan detik. Plastik ini cuma kita butuhkan beberapa jam, setelah sampai di rumah lalu kita buang ke tempat sampah, lalu ditimbun tanah dan baru hancur setelah kita menjadi fosil.”

Aku kembali melongok, bibirku terbuka lebih lebar. Kasir supermarket inipun juga demikian.

“Rantai pengetahuan kita sempit, kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan plastik ini pergi setelah dipakai. Berapa banyak pohon ditebang hanya untuk koran yang kita baca setengah jam saja. Berapa banyak batubara yang dibakar untuk menyalakan gemerlap lampu Supermarket ini.”

Aku terdiam

“Bumi ini tidak butuh orang pintar dik, Bumi ini hanya butuh orang yeng perduli.”

Semenjak kakak datang dari Swiss, anggapanku berubah. Negara modern tidak hanya menghasilkan manusia yang hedonis tapi juga mampu menghasilkan manusia yang bijak dan sederhana. Ya, bumi kita hanya membutuhkan manusia yang perduli.

Oleh : Ferry Irawan

Pelaihari, 18 Februari 2013

Sumber foto: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s