Cat 12 Petarung Hidup

sepi sendiriBeberapa menit yang lalu, aku baru saja mengakhiri percakapanku dengan teman lama. Teman semasa SMA. Banyak hal yang kami ceritakan mulai dari kenangan pada sekolah yang lalu, kemana rimbanya teman-teman kita yang lain, hingga pengalaman pribadi temanku semenjak dia lulus dari SMA.

Karena percakapan aku dengannya inilah, sedikit membuka pandanganku tentang hidup ini. Aku menyadari pengalamanku di hidup ini terasa sangat sedikit sekali, berbeda dengan dirinya—padahal umur kami relatif sama.

Kuakui dia kaya akan pengalaman. Semasa kuliah dia sudah beberapa kali kerja part time. Pekerjaannya sendiripun bisa dibilang bukan perkerjaan yang mudah. Membutuhkan kerja keras, rajin dan yang pasti tahan akan rasa malu dari jiwa muda yang masih mengaggungkan keaku-an dan eksistensi yang tak mau direndahkan. Dia telah menaklukannya, disaat aku sendiri bahkan belum pernah merasakannya.

Beberapa saat setelah kami mengakhiri percakapan kami, aku termenung. Setelah itu malu. Dia memiliki keinginan yang kuat untuk menggapai cita. Dia melakukan segenap usaha keras  untuk mendapatkannya. Tak terhitung lagi berapa bulir keringat yang keluar. Tak terasa lagi rasa lelah yang menghinggap. Tak terhiraukan lagi rasa malas yang datang. Semua dia lakukan semata-mata untuk meraih impiannya.

Tetapi sayang, banyak impian besar yang dia impikan tak terwujud. Bukan, bukan karena dia kalah dan menyerah dengan kerasnya proses untuk menggapainya. Tetapi dia dikalahkan oleh beberapa oknum manusia yang tak pernah menghargai arti ketulusan sebuah impian dan kerja keras. Sekumpulan manusia yang mampu terbeli oleh uang dan menggadaikan nuraninya diantara selipan rupiah.

Dia terkalahkan oleh uang, dia dikalahkan oleh manusia yang tak punya lagi nurani. Sia-sia rasanya kerja kerasnya, tak berguna rasanya latihan setiap harinya. Putus asa rasanya hidupnya kini.

Akan tetapi di titik kulminasi hidupnya, dia mengerti. Ada sebuah jalan yang sudah jauh-jauh hari ditetapkan Tuhan untuk dirinya. Tak dapat dipaksakan hidup ini atas dasar impian yang diharapkan.  Dia mengerti, dia sadar. Tidak mencaci, tidak memaki kepada siapa saja yang dia temui. Dia mengerti akan ada jalan yang sudah ditakdirkan.

Aku salut dengan dia, bukan saja dia menerima dengan lapang dada dengan takdir yang sudah ditakdirkan untuknya. Tetapi dia berjuang keras hingga tak mengenal bosan untuk menggapai apa yang dia harapkan, apa yang dia citakan.

Itulah titik tertinggi aku iri padanya. Banyak impian yang ingin aku raih, tetapi usahaku tak pernah lebih tinggi dari apa yang kucitakan. Padahal dengan usaha keras saja banyak faktor yang akan menggulingkan kita, apalagi dengan usaha yang seadanya dan mimpi yang terus melambung tinggi.

Kuakui, dia memiliki keteguhan hati yang kokoh. Lebih dari itu, dia memiliki prinsip hidup yang sulit untuk digoyahkan. Ramalanku sederhana, tak berapa lama lagi dia akan menjadi orang yang sukses. Sedikit lagi dia akan menemukan takdirnya, jalan terbaik yang digariskan oleh Tuhan. Aku yakin itu..!!

Sedangkan aku di sini menjadi apa? Masih banyak yang aku harus lakukan untuk mempunyai prinsip yang kokoh seperti dia. Aku memang mudah untuk termotivasi dan aku dengan mudah pula terpengaruh untuk berhenti dan merasa telah lelah. Aku merasa telah melakukan usaha yang sangat maksimal, padahal jika dilihat dari kacamata orang lain, aku tak melakukan apa-apa. Menyedihkan sekali.. Sangat menyedihkan..!

Mungkin semua ini karena aku terlalu nyaman dalam menjalani hidup. Aku masih saja berada di zona nyaman. Tak berani aku melangkah, selangkah saja keluar dari zona nyaman ini. Aku terlalu pengecut untuk keluar dan bertarung. Aku terlalu dilenakan oleh hidup yang aku alami sekarang.

Sehingga aku lupa. Di luar sana. Terjadi pertempuran yang sangat keras, yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Di luar sana, terjadi perkelahian untuk mampu bertahan hidup dan untuk dihargai sebagai manusia yang memiliki harga diri.

Aku masih belum merasakan pertempuran itu. Secara terseirat temanku berkata, telah banyak merasakannya.  Dan aku iri padanya. Inginku menjadi petarung yang hebat, tetapi aku sadar, aku hanya manusia kerdil yang sama sekali tak kuat.

Aku harus berlatih dulu sebelum terjun ke sana. Dan latihan terbaik adalah tak pernah malas untuk melakukannya, mengulangnya, dan belatih lebih keras lagi. Peningkatan setiap level yang membuat kita pantas untuk dapat terjun langsung ke medan pertempuran.

Aku masih belum siap bertarung, aku memutuskan untuk serius berlatih terlebih dahulu.

24 Mei 2013.

–Ketika berakhirnya percakapan dengan teman SMA–

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s