Tak Terlihat dan Kita Berharap

Beberapa hari terakhir yang terjadi membuatku tergerak untuk menuliskan hal ini. Ini bukan perkara yang baru di dunia, hal ini sudah ada sejak lama. Sejak para nenek moyang kita jauh lebih percaya sesuatu yang tak tampak dibandingkan sesuatu yang dapat terlihat di depan mata.

Semenjak minggu lalu aku melihat infotainment dipenuhi dengan Eyang Subur yang diduga menyebarkan aliran sesat, memiliki banyak harta hasil pesugihan dan memiliki kekuatan gaib yang kuat. Bahkan kematian-kematian aneh nan janggal bagi orang-orang yang berada di lingkarannya. Serta kharisma atau malah pelet yang membuat eyang subur bak playboy yang tak termakan oleh usia.

Akhir-akhir ini juga masyarakat Indonesia, khususnya para generasi muda kita dihantui oleh momok ujian nasional yang setiap tahun datang. Banyak persiapan yang mereka lakukan bahkan persiapan yang tak bisa diterima oleh logika. Mereka lebih sibuk dengan ritual dibandingkan belajar.

Bermandi-mandi membasahi diri dengan kembang tujuh rupa dan mencari dukun serta orang pintar agar pensil yang akan digunakannya untuk ujian mampu memberikan keberuntungan, mampu menjawab sendiri dengan jawaban yang benar.

Sudah. Sudah sejak lama. Masyarakat Indonesia jauh lebih mempercayai sesuatu yang masih tak mampu dijabarkan logika. Memang, memang benar adanya manusia harus mempercayai sesuatu yang gaib. Karena ada satu kehidupan yang tak terlihat mata, hidup berdampingan dengan kita.

Memang benar adanya ada sesuatu yang gaib yang bersliweran lalu lalang di kehidupan kita. Tetapi mengapa kita harus lebih mempercayai hal gaib tersebut dibandingkan dengan logika yang kita punya. Aku percaya dengan hal gaib, tetapi sebagai manusia aku akan berfikir dengan menggunakan logika terlebih dahulu.

Tak perduli dengan harta yang melimpah diakibatkan oleh tangan gaib jin. Tak perduli dengan pelet yang membuat kita dicintai seluruh manusia. Tak perduli dengan mandi kembang dan pensil yang sakti. Itu semua hanya ilusi yang membuat sugesti kita berharap banyak dan menumpulkan akal sehat kita.

Aku percaya dengan hal gaib, tetapi itu hanya sebatas percaya. Aku lebih percaya dengan logika. Sesuatu yang kita punya dan dapat kita maksimalkan.

Banjarbaru, 17 April 203

Iklan

One thought on “Tak Terlihat dan Kita Berharap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s