[Cerpen] Lelaki dalam Diam

Pria pendiam

Cerpen ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post

***

Sudah hampir enam bulan Donny koma di rumah sakit. Stroke yang dialaminya enam bulan lalu, berdampak buruk terhadap kesehatannya bahkan beberapa organ di tubuhnya tak berfungsi lagi. Berbicarapun sulit sekali dilakukan.

“U..um..murku taa aakk..aan bbeer..langsungg lamaa.. Se.. benn.. tar laa..gi”

Donny berbincang dengan istrinya. Isterinya hanya menangis dengan air mata yang membasahi seluruh pipinya, berlinangan.

“Jangan bicara seperti itu pa, kamu pasti akan sembuh lagi kok. Kita akan berumpul lagi dengan anak-anak kita pa. Bermain bersama, pergi ke pantai lagi, bermain pasir sampai senja kehilangan mentari”

“Aa kuu. See llaluu mencinnntaimu, saam paai akuu meeninggal kannmu. Jaa gaa aanakk kitaa, maa ff, aakuu tidd aak bii saa menjaadi ssuu ami yang baikk.”

“Sudah pa, jangan ngomong seperti itu famaly kata orang dulu. Papa istirahat saja dulu.”

Suasana hening setelah percakapan itu. Tak ada bunyi yang terdengar hanya sayup-sayup di luar. Sang isteri yang bernama Shorea  juga turut mengistirahatkan badannya.

Dokter dan suster tak berapa lama datang. Pemeriksaan rutin harian. Shorea terbangun ketika pintu dibuka. Dokter langsung memeriksa pasiennya, sama seperti biasanya. Raut muka dokter berubah, susterpun mengira ada sesuatu. Suasanapun ikut berubah.

“Ibu, Suaminya sejak kapan diam seperti ini” dokter bertanya meyakinkan.

“Sekitar setengah jam saja dok, Saya menyuruh dia untuk beristirahat. Memangnya ada apa dengan suami saya dok?”

“Mohon maaf ibu, bapak sudah menghembuskan nafas terakhir. Nyawanya tak tertolong”

“APA?? maksudnya apa dok? Suami saya ngga mungkin meninggal dia orang yang kuat. Dokter pasti salah periksa, periksa sekali lagi dok. Saya mohon.”

“Mohon maaf ibu, pada kenyataannya memang demikian. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya. Bapak memang orang kuat, sudah enam bulan bapak menahan rasa sakit itu. sekarang tuhan telah mencabut sakitnya dan mengajaknya bersama di sisi-Nya.”

“Tapi dok, ini tidak mungkin. Anak-anaknya masih membutuhkannya.” Shorea menangis tak henti-hentinya.

“Mohon maaf bu, Saya mohon pamit”

Dokter meninggalkan ruangan ini. Ruangan yang tadinya hening kini gagap gempita karena tangisan. Tangisan perpisahan penuh dengan kesedihan. Perpisahan yang menghapus kehadiran, sama seperti sebelum berjumpa dan kenal. Hidup memang akan dihiasi pertemuan dan perpisahan. Suster di ruangan ini berusaha menenangkan Shorea. Tangisnya tak kunjung putus mengharapkan suaminya datang kembali.

***

Upacara pemakaman tak lama dilangsungkan. Sanak keluarga dan rekan kerja banyak yang datang menghantarkan Donny Kurniawan kembali kepada bumi, kembali pada asal mula. Suasana duka tak dapat ditutupi walaupun senyuman coba untuk dihadirkan ditempat itu.

Silih berganti orang-orang menyalami dan memeluk Shorea. Mencoba memberikan semangat di tengah keterpurukan. Tangis mulai berkurang hari itu, tapi kesedihan terus bertambah hingga tanah menutupi raga yang tak lagi bergerak. Shorea memeluk erat kedua anaknya. Telah berpulang suami setia dan ayah yang jagoan.

“Ibu, ayah kok dikubur seperti itu. Emangnya ayah bisa bernafas di dalam situ?” anaknya yang berusia empat tahun bertanya tanpa tahu akan kenyataannya.

“Ayah sedang berkunjung ke rumah Tuhan nak, besok-besok kita yang akan datang kesana,” Kali ini Shorea menjelaskan dengan rumit sambil menangis, anak empat tahun bahkan tak mengerti makna yang tersirat sekalipun dari jawaban Shorea.

Orang-orang yang turut mengantarkan ke pemakaman mulai pamit pulang satu persatu. Tertinggal segilintir orang saja yang ada disana. Itupun dari kalangan keluarga yang menunggu Shorea beranjak dari kuburan suaminya. Tak tega untuk meminta dia pulang, hanya mampu melihat dari kejauhan. Menunggu Shorea menerima kenyataan.

Tiba-tiba ada sosok lelaki datang menghampiri Shorea beserta anak-anaknya. Sahabat akrab suaminya, Rendy. Bersahabat dari Sekolah dasar hingga kuliah. Bahkan sesekali terlibat dalam satu pekerjaan. Satu kota membuat Rendy sering mengunjungi Donny disela-sela libur minggu. Inilah yang membuat Rendy seperti keluarga sendiri dimata Shorea dan anak-anaknya.

“Aku turut berduka cita ya Sor. Tak kusangka hari minggu kemarin adalah hari minggu terakhir aku melihat dia. Aku telah kehilangan sahabat terbaik yang kutemukan sejak kecil”

“Sungai kecil, padang ilalang, layang-layang, lapangan bola kami sewaktu kecil mungkin sekarang sudah tak ada lagi. tapi kenangan kami masih kuat membekas. Tawa renyah kita masih jelas terdengar. Bukan kamu saja yang kehilangan sangat Sor. Aku juga” Rendy berdiri termangu melihat makam sahabatnya. Sahabat terbaik.

“Aku tahu Ren, Suamiku sering bercerita tentang kamu. Masa kecilnya indah sekali katanya ketika berdua bersama denganmu. Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik untuknya”

“Tak usah berterima kasih. Karena aku juga beruntung memiliki sahabat seperti dia. Aku yakin kamu bisa melewati hal ini Sor, karena sejak dulu aku iri dengan Donny, memiliki isteri yang kuat dan tangguh seperti dirimu.”

“Aku pamit pulang dulu Sor, Pintu rumahku terbuka lebar untukmu jika kamu ingin berkeluh kesah atau sedang tertimpa masalah. Jangan khawatirkan masalah biaya hidup anak-anak, aku akan menanggung semuanya.”

Shorea hanya mengangguk matanya hanya tertuju pada gundukan tanah dimana suaminya berada dibawahnya. Rendy pulang, sebelumnya dia mengamati Shorea dalam-dalam, menyentuh rambut anak-anak dan meninggalkan pergi mereka bertiga.

***

Sudah tiga bulan dari suaminya meninggal, Shorea mulai bangkit dari keterpurukan. Rumah yang kemarin tak terurus kini mulai bersih sedikit demi sedikit. Hari ini Shorea mulai membersihkan lemari baju suaminya. Dia berniat untuk memberikan baju suaminya untuk orang-orang yang tak mampu. Daripada tidak dipakai, lebih berguna jika ada yang memakainya. Tiba-tiba Shorea menemukan surat di kantong baju batik berwarna biru. Batik ini sudah lama sekali tak dipakai lagi oleh suaminya. Bergegas shorea membaca surat itu.

Dari seorang suami yang tak sempurna.

Beberapa tahun yang lalu aku menjadi orang paling bahagia di dunia. Karena setelah sepuluh tahun menikah akhirnya kita dikaruniai seorang anak. Senyum bahagiaku kuberikan kepada siapa saja saat aku mengetahui kabar itu. padahal dua jam sebelumnya aku baru saja memeriksakan kesuburanku karena putus asa kita tak kunjung juga memperoleh anak. 

Beberapa hari kemudian pihak rumah sakit menelponku karena hasil tesku sudah keluar dan memohon maaf atas keterlambatan hasil yang seharusnya bisa lebih cepat. Aku tak memperdulikan telpon itu. Toh aku sudah tahu hasil tesnya sekarang.

Lagi-lagi pihak rumah sakit menelponku. Aku memutuskan mengambil hasil tes itu saja, berhubung jarak rumah sakit dengan kantorku juga dekat. Setelah pulang kerja aku kesana dan betapa terkejutnya aku melihat hasil tes yang mengatakan bahwa aku mandul dan sulit untuk memiliki anak.

Aku hampir gila saat itu, bagaimana aku bisa dikatakan mandul jika isteriku sedang mengandung di rumah. Aku mengira rumah sakit ini pasti salah tes. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lain. Malam itu aku tidak pulang ke rumah, kamu menelponku beberapa kali. Aku jawab aku keluar kota mendadak dan baru lusa bisa pulang ke rumah.

Aku benar jadi orang gila malam itu. keesokan harinya aku pulang ke rumah. Mencoba membicarakan hal ini baik-baik denganmu. Di depan rumah ada mobil Rendy. Bergegas aku masuk,, di ruang tamu tak ada kamu dengan Rendy, tempat seharusnya kamu dan dia berada.

Aku melihat pintu kamar kita tertutup, aku hanya berdiri membeku. Aku tak dapat lagi menggerakan kakiku berteriakpun aku tak mampu. aku menangis dan hatiku hancur berkeping-keping.

Aku memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Itulah alasanku ketika aku meninggalkanmu tiga bulan tanpa kabar. Alasan yang coba ingin kamu tahu bahkan hingga sekarang. Alasan yang membuatku meninggalkan lama isteri yang sedang mengandung anak yang selama ini didamba.

Teganya kamu melakukan semua ini,. Aku tak bisa berkata lagi. itulah mengapa aku hanya diam dan hanya bisa menangis ketika sendiri.

5 Juli 2007

Empat hari setelah aku mendengar kabar engkau mengandung anak kedua.

***

Setelah membaca surat ini Shorea hanya bisa menangis, melebihi ketika ditinggal suaminya pergi.

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s