Aku Tidak Gila

Wanita yang menunggu lelaki idamannya
Wanita yang menunggu lelaki idamannya

Aku tak tahu seberapa lama lagi kamu pergi. Mungkin kali ini untuk selamanya. Kamu selalu saja tak pernah bilang untuk kembali.

Kamu hanya bilang, “Aku pergi..!!”, dengan pikiran kosong dan tungkai kaki yang tak pernah tegak untuk membuatmu berjalan lurus.

Kamu datang ketika aku mulai bosan untuk menunggu dan selalu saja aku menerimamu, karena ketika melihatmu kesalahanmu tak pernah kuanggap ada.

Tetapi kali ini pergimu lebih lama dari biasanya. Bahkan jika kamu meninggal dunia, sedihku sudah sirna jika aku melewati waktu selama ini. Ketidakpastian masih membuatku bertahan untuk menunggu.

Manusia mana di dunia ini yang menganggap ketidakpastian adalah sebuah harapan. Hanya aku yang percaya itu.

Aku selalu berjanji kepada hatiku untuk kali ini aku akan meninggalkanmu pula, tetapi apa? aku selalu mengkhianati janjiku kepada hati. Aku selalu berkhianat padamu dalam hati tetapi tak pernah kulakukan dalam kenyataan. Aku selalu iri mengapa aku tak mampu melakukan apa yang kamu lakukan kepadaku.

Sore ini aku menunggumu lebih lama. Berdiri diam di depan pintu, hingga gelap datang tanpa hadirmu di sisiku. Aku menunggumu hingga kakiku lupa dengan adanya waktu yang terus berjalan. Aku menunggumu hingga waktu bukan lagi menjadi sebuah ukuran dan jam tangan hanya seperti biang lala yang terus berputar.

Orangtuaku selalu heran—dan seringkali menyesal. Mengapa putri kesayangannya mendapatkan laki-laki yang sama sekali tak pantas disebut manusia, bahkan binatang masih menyayangi pasangannya.

Terkadang aku membanci orangtuaku, bukan karena aku durhaka. Melainkan karena mereka selalu mengucapkan kata “andai saja” lebih banyak dibandingkan “Kamu yang sabar ya..”

Orang tuaku selalu saja menyesali masa lalu, mereka lupa sejarah tidak untuk disesali tetapi untuk dijadikan pelajaran. Tetapi mereka malah bertambah heran atas ucapanku dan balik berkata.

“Apakah kamu tak belajar dari masa lalumu? Mampu bertahan hingga selama ini..?”

Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu, Aku akan terdiam dan berfikir keras. Apa yang membuatku mampu untuk bertahan menunggumu. Bahkan manusia manapun tak akan betah disisimu—aku malah betah menantimu datang.

Kali ini kamu datang ketika aku terlelap tidur, kamu datang ketika aku sejenak tak memikirkanmu dalam satu hari. kamu datang lagi-lagi dengan membawa penghancur hati.

“Siapa lagi yang kamu bawa itu?” mengapa aku tak mampu untuk mengeraskan suaraku?

“Sudahlah kamu jangan mencampuri urusanku, keluarlah dari kamar ini, aku ingin memakainya.”

Seperti biasa, aku tak mampu lagi mengeluarkan air mata. Tangisku sudah lama habis untuk mencoba membencimu. Aku hanya tidur di sofa malam ini, walaupun mata tak mampu terpejam. Aku hanya mengasihani kakiku yang lelah berdiri menunggu dan ketika kamu datang, kamu hanya menganggapku lebih rendah dari benda yang kini kamu injak.

Kakiku pasti merindukan di saat kakiku dan kakimu bertemu dan berhadapan merebahkan diri. Itulah alasan mengapa kakiku tak pernah bosan berdiri, menunggu.

Pagi ini kamu memelukku dengan mesra, mengecup keningku dan menggenggam tanganku dengan sepenuh jiwa. Aku bahagia sekali pagi ini, penantian panjangku kini terbayar lunas lewat pelukanmu pagi ini. Bahkan di saat seseorang yang menghancurkan hatiku malam tadi masih tertidur lelap di kamarku.

Banyak orang yang menganggapku gila. Mereka salah menilai. Aku hanya tergila-gila mencintaimu.

Banjarbaru, 5 April 2013.

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s