Orang Gila

Orang gilaSering aku bertemu orang gila di luar sana. Tampilannya tentu saja tak serapi dan sebersih kita. Tetapi ada satu hal yang kukagumi dari orang gila, yang jarang dimiliki oleh manusia normal seperti kita. Apa itu? Jangan jawab kekayaan, kasih sayang atau pasangan hidup. Karena dia mungkin tak memilikinya.

Satu hal yang kukagumi ini karena dia berhasil menjadi dirinya sendiri. Dia memang bukan makhluk sosial, hidupnya dianggap sampah oleh masyarakat, tak berguna bahkan menyusahkan saja. Hidupnya sering sekali nonmaden, tak punya tempat tinggal tetap. Kalaupun ada dia pasti diusir dari sana. Tak ada penghormatan untuk dirinya, manusia lain hanya memandangnya jijik, sesekali yang berhati baik memandangnya iba.

Akan tetapi apa? Dia tak memperdulikan penilaian itu. Dia tak butuh penghormatan, dia menjalani hidup tanpa penilaian subjektif dari manusia. Ketika manusia normal hidup dengan keinginan muluk yang menjadikannya gila untuk mencari harta. Ingin punya mobil, satu ada, ingin dua. ingin punya rumah, kalau bisa punya yang mewah. Ingin punya harta dan perhiasan sebanyak-banyaknya, bahkan perhiasan itu bukan lagi memiliki fungsi untuk menghias anggota tubuh, melainkan hanya menjadi harta karun yang dipendam saja.

Orang gila tak membutuhkan itu, dia hanya butuh makan. Siapa yang mau memberi dia, dia akan menerima dengan bahagia.  Dia hidup dari standar paling sederhana manusia, asal bisa makan, asal bisa hidup. Tak ada kebutuhan tersier yang tercukupi, kebutuhan primer saja hanya satu dan yang mampu terpenuhi.

Akan tetapi apakah orang gila itu marah kepada Tuhan, marah karena dia tak mempunyai apa-apa. Pernahkah melihat orang gila bersedih dan menangis sejadi-jadinya. Orang gila hanya tertawa dan tersenyum, seolah menertawakan hidup di dunia ini yang mudah saja, padahal hidupnya penuh kekurangan. Senyum dan tawa orang gila itu ikhlas, tak memakai topeng atau akting belaka.

Pantaskah kita malu dengan orang gila? Dia dapat tersenyum dikondisi apapun. Dia tetap tertawa ketika orang lain mencacinya sedemikian rupa. Dia menjalani hidup dengan penuh sederhana, asal bisa makan, dia akan terus hidup.

Sepertinya memang kita harus malu dengan orang gila. Kita terlampau tinggi dalam menargetkan standar hidup kita. Sampai kita lupa bahagia dan bersyukur itu sederhana. Mungkin sesekali kita hidup seperti orang gila, hidup sederhana, tak memperdulikan penilaian orang lain dan kita masih dapat tersenyum dan tertawa.

Tuhan menciptakan orang gila bukan karena sia-sia. Tetapi menginginkan kita selalu bersyukur agar akal kita tak menjadi gila ketika kita selalu melihat ke atas.

Pelaihari, 25 Februari 2013

Sumber foto: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s