[Cerpen] Aku Ingin Indonesia kalah

timnas indonesiaSiapa manusia di dunia ini yang tak mempunyai rasa Nasionalisme. Sederhananya manusia mana yang tak mencintai negaranya sendiri. Seberapapun hancur, bobroknya negara sendiri, itu jauh lebih dicintai dibandingkan membanggakan negara orang lain.

Aku pun seperti itu pula. Walaupun hati ini terkadang miris, ada kalanya pula teriris. Haruskah aku mencintai negara yang tak sanggup untuk menghidupi aku dan keluarga. Dimanakah janji yang diikrarkan pemerintah, yang tertuang dalam undang-undang. Bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Rakyat kecil hanya bisa berteriak. Tapi gaungnya tak terdengar, mungkin di gedung dewan semua dindingnya ditempel peredam suara. Agar tak terdengar itu kritik mahasiswa, agar tak terdengar teriakan rakyat kecil, dan anak-anak menangis menahan lapar. Tak terdengar semuanya, semuanya senyap, Agar mereka bisa tidur nyenyak di ruangan ber-AC.

Sudah bosan aku berteriak, sudah bosan aku menunggu. Menunggu kepastian. Aku tak bisa untuk berdiam diri. Berdiam tak bisa mendatangkan nasi. Itulah yang menjadi alasan aku untuk meninggalkan negara yang ku cintai ini. Negara yang banyak orang katakan titisan dari surga. Tapi nyatanya di surga aku tak dapat makan teratur apalagi makan enak.

Sudah hampir empat tahun aku berada di negara ini. Negara tetangga. Meninggalkan suami yang bekerja sebagai tukang batu. Meninggalkan anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Aku merasa sangat kehilangan, kehilangan hangatnya berbincang bersama dan merasakan manisnya senyuman mereka.

Negara ini secara geografis bersebelahan dengan negaraku. Bahkan hanya dipisahkan oleh patok kayu kecil. Dibenakku pada saat pertama kali, di sini tak jauh berbeda dengan Indonesia. Kondisi  lingkungannya yang sama, bahasanya yang hampir sama, penduduknya yang sama pula.

Setidaknya aku tak perlu banyak beradaptasi, pikirku saat itu. Gaji yang dijanjikan juga lumayan, walaupun hanya sebagai pembantu rumah tangga. Maka mantaplah hatiku untuk meninggalkan anak-anakku, meninggalkan kampung halamanku, meninggalkan negara yang kata orang sebagai titisan surga.

Melalui jasa pengiriman TKI aku dilatih selama tiga bulan, agar aku bisa mempunyai skill dan kepribadian yang tak mengecewakan calon majikanku. Setelah dirasa mempunyai bekal, aku diterbangkan dengan pesawat ke Malaysia. Seumur hidup baru kali ini aku menaiki pesawat terbang. Melihat kota besar yang terlihat kesil dan semarak dari atas terlihat mengasyikan ternyata. Sorotan mataku hanya tertuju pada jendela kecil, tak memperdulikan pramaguri yang lalu lalang menawarkan makanan.

Tak lama bayangan kota tak terlihat lagi. Ku lihat hanya awan. Terlihat putih bergelombang dan saling kejar mengejar. Aku mengantuk berlama-lama melihat awan, tertidur dan setelah sadar aku telah berganti negara. Selamat datang di Malaysia.

Menginjakkan pertama kali di rumah majikanku. Rumahnya lumayan besar, halamannya sangat luas. Heran, tak di Jakarta, tak di Kuala Lumpur banyak orang berlomba-lomba mendirikan istana. Berkenalan secara singkat dengan keluarga yang ada. Majikanku bernama Muhammad Syahid, isterinya bernama Fauziah, wajahnya sekilas mirip penyanyi asal Malaysia, Siti Nurhaliza.

Pada awalnya aku merasa betah tinggal disini. Walaupun anggota keluarga di sini terlihat cuek dan acuh. Aku tak memperdulikannya, terpenting aku sudah menjalankan kewajiban dengan baik.

Lama kelamaan sifat cueknya berubah. Berubah menjadi cacian yang memanaskan telinga. Tak jarang cacian itu berpangkal pada asal negara. Betah sekali mereka menghina negara asalku, berjam-jam mulutnya betah saja mengumpat. Tak perlu berfikir panjang, bait-bait kalimat hinaan lancar sekali keluar. Keluar dari mulut dan masuk ketelingaku lalu menggumpal dalam sakit hati.

Aku mencoba bersabar. Bukan karena aku orang bodoh yang menerima saja negara beserta apa yang ada di dalamnya dihina habis-habisan. Aku bersabar, karena sesuap nasi bisa membuat manusia bertahan hidup daripada hidup tenang dengan perut melilit kelaparan. Biarlah cacian menjadi urusan telinga, asal tak mengganggu urusan perut apalagi perut anak-anakku yang membutuhkan gizi yang tercukupi.

Dua tahun berselang majikanku mulai sedikit bosan mencaci. Mulutnya sudah penat rupanya. Tapi sayang tangannya mulai bergerilya. Ya benar, mulut terkadang menjadi harimau, tapi tangan yang berbicara benar-benar menjadi harimau yang nyata.

Bukan hanya tamparan. Makin hari mereka makin kreatif menyiksa. Air panas yang dengan seenaknya disimbur ke wajah, setrika panas yang dengan gila mendarat di punggung. Aku sudah tak tahan menerima ini. Berulang kali aku mencoba melarikan diri. Berulang kali pula siksaan itu bertambah keras karena aku gagal meninggalkan rumah ini.

Aku mulai mengadu dengan pembantu tetangga yang berasal dari Indonesia juga. Berharap dia bisa memberikan jalan keluar. Tapi sayang nasibnya tak jauh berbeda. Malah aku sedikit beruntung, penyiksaan baru ku terima pada tahun kedua. Sedangkan dia sudah menerimanya pada bulan ketiga. Wajahnya terlihat tak berbentuk lagi, hatinya bahkan sudah lama hancur pecah belah.

Suatu hari baru ku tahu ada moment pertandingan sepakbola antar negara Asia Tenggara. Tuan rumahnya adalah Indonesia. Aku wanita, tapi aku suka sekali dengan sepakbola, apalagi jika Timnas bermain. Sepakbola mungkin olahraga yang paling aku suka. Mungkin karena faktor suamiku yang kerap begadang tengah malam menonton liga di Eropa sana,

Majikanku suka pula dengan sepakbola, maniak sekali malah. Moment piala AFF saat itu menjadi perang nyata antara dua nasionalisme yang kami punya. Perang harga diri yang masih aku punya ketika tak ada lagi yang tersisa.

Perangpun dimulai Indonesia dan Malaysia bertemu di babak penyisihan. Malam itu aku bahagia sekali, Indonesia menang besar, 5-1, Jarang sekali Indonesia menang besar dengan musuh bebuyutannya Malaysia.

Sepanjang pertandingan majikanku memendam amarah. Pada saat gol kedua aku dicaci maki karena membuat teh manis kurang gula. Gol ketiga aku ditampar tanpa ada alasan. Ketika ku tanya, dia hanya bilang, negara kamu seronok sekali kalau main bola.

Di akhir pertandingan aku disiksa sepanjang malam. Tanpa belas kasihan, tanpa menganggap manusia. Bahkan hewanpun tak pantas menerimanya. Sejak saat itu aku tak pernah ingin lagi Indonesia menang pertandingan.

Secara kebetulan final pertandingan kembali mempertemukan Indonesia dan Malaysia. Saat itu aku berdoa sepanjang siang, agar Indonesia kalah. Bukannya aku tak mencintai negaraku. Aku mencintai Indonesia, aku juga mencintai sepakbolanya. Tapi aku juga tak tahan menerima siksaan dari orang gila seperti mereka.

Akhirnya doaku terjawab. Memang dalam hati kecilku kecewa. Tapi aku bisa tersenyum bahagia, malam itu aku tak disiksa. Dia hanya mendiamkanku, terlihat dia bahagia sekali. Akupun bahagia, diamnya mereka saja itu sudah cukup membuatku tidur nyenyak malam itu.

Dua tahun berlalu, Piala AFF 2012 kembali digelar. Kali ini Malaysia yang menjadi tuan rumahnya. Dan lagi-lagi Indonesia berada di group yang sama. Jauh-jauh hari aku berdoa agar Indonesia kalah. Dan doaku terjawab lagi. Kali ini, untuk urusan sepakbola aku mendukung Malaysia.

Bukan aku tak mencintai bangsaku sendiri. Itu karena aku tak pernah tahan menerima siksaan ketika Indonesia berhasil menang. Aku ingin Indonesia kalah.

Sumber foto: Klik

Iklan

2 thoughts on “[Cerpen] Aku Ingin Indonesia kalah

  1. Ini adalah tulisan terjelek yang pernah saya baca, dan hanya ditulis oleh orang yang bermental budak belian. Kalau anda mempunyai sedikit saja mental pejuang, maka pikiran semacam itu tak pernah terlintas di benak anda. Saran dari saya buat anda adalah bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan berdoalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Anda terlahir sebagai orang indonesia bukan karena kebetulan, tetapi ada tugas berbuat dan berjuang yang baik-baik, bukan untuk mengeluh.. Semoga setelah membaca komentar saya ini anda sadar dan malu tidak mengulangi cara berpikir yang rendah itu..sekian dari saya Bintang Rina.

    1. Terima kasih atas komentarnya. tulisan ini hanya murni fiksi, tidak ada maksud untuk merendahkan atau menghinakan sesorang maupun golongan. Saya mohon maaf jika tulisan saya kurang berkenan di hati bapak. Salam blogger..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s