cat 9 – Makan Malam

Hari ini aku bangun pagi. Biasanya aku dibangunkan siang. Siang membangunkan dengan cahaya. Pagi membangunkan dengan kesegaran. Aku tak bisa menikmati pagi. Aku cepat mandi dan berpakaian. Semua ku lakukan dengan cepat. Pagi ku acuhkan dengan kejam.

Aku menghirup udara pagi dalam-dalam. Inginku berubah pikiran. Menikmati pagi, sambil minum kopi. Tapi aku berubah pikiran, berubah pikiran sebelum kulakukan. Minum kopi sebelum makan bisa membuat lambungku marah. Dia bisa jadi perih, perlu antasida buat meredakan amarahnya. Aku lupa ini penyakit apa. Aku baca petunjuk dari obat Mylanta, oh ternyata namanya maag.

Maag yang selama ini membuat lambungku marah. Aku jadi bingung, kopi atau maag yang membuat lambungku marah. Aku berfikir lama. Pagiku jadi hilang, udara pagiku ikut hilang. Cahaya siang datang, aku memutuskan makan. Kini aku berfikir lagi, untuk apa aku bangun pagi jika makanku disebut makan siang. Aku ingin makan pagi, agar nanti jika chatting dengan bule PD bilang Breakfast bukan Lunch.

Aku mahasiswa, tingkat akhir. Masih belum lulus. Masih belum kerja. Disebut pengangguran lebih tepatnya, tapi di kartu pengenal status tertulis mahasiswa. Supaya terlihat keren, supaya tidak malu ketika berkenalan dengan cewek di Mall, supaya tidak dituntut menikahi anaknya oleh calon mertua.

Aku ulang. Aku mahasiswa, tingkat akhir tepatnya. Uang sedang tak punya. Ingin makan pagi tertunda jadi makan siang. Ingin makan siang tertunda karena ga ada uang. Makan malam masih tidak tahu bisa dilakukan atau tidak. Aku bingung apa yang bisa kumakan hari ini? Apakah aku harus puasa? Puasa juga perlu berbuka, berbuka dengan apa? Air ledeng jalan dengan lancar. Kadang keruh, kadang jernih. Air minum terjamin keadaanya. Makanan pokok yang belum terjamin.

Ingin mencari makan tak ada uang. Ingin mencari uang tak ada kerja. Aku bingung lagi, jadi aku ini mahasiswa apa pengangguran, apa perlu ditambah jadi anak jalanan? Anak jalanankan jarang makan, sama seperti aku, aku yang sedang kelaparan.

Tak sadar sudah jam sepuluh lewat tiga lima. Masih lama menunggu makan malam. Masih lama menunggu keajaiban datang. Aku tidur saja, semoga mimpi makan enak. Mimpi ngga bisa buat kenyang, tapi bisa menunda lapar. Selamat menunggu makan malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s