[Cerpen] Kapak, Gergaji, dan Api

Cerpen ini pernah diterbitkan pada harian Banjarmasin Post edisi Minggu, 21 Oktober 2012.

***

Letih juga tubuh ini, selarut ini aku baru bisa menuju pulang kerumah. Banyak orang di kanan kiri sering bertanya, mengapa aku bisa betah di penjara rutinitas seperti ini. Jawabanku sederhana, aku tidak merasa seperti di penjara. Aku memang mencintai apa yang aku kerjakan sekarang. Aku menyukai jika setiap waktu yang aku miliki, aku gunakan secara maksimal. Satu hal yang kadang kala aku sesali, itu adalah ketika aku tidak memiliki waktu berkualitas yang aku habiskan bersama keluarga.

Pukul satu lewat lima, aku baru sampai di rumah. Anak-anak sudah lama tertidur. Tapi aku selalu saja pergi kekamarnya terlebih dahulu. Menciumi kening mereka satu-satu. Membingkiskan kasih sayang yang telah aku kumpulkan seharian penuh lewat sebuah ciuman di kening.

“Belum tidur bu?” aku disambut oleh senyuman isteriku ketika sampai di kamar. Aku curiga isteriku selalu menyimpan senyumannya di lemari pendingin ketika aku pergi, senyumannya selalu terlihat segar walaupun waktu sudah selarut ini.

“Belum yah, aku masih belum bisa tidur”

 “Wah, wah,  pasti lagi kangen sama aku ya?”

Isteriku tak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Aku memutuskan untuk mandi melepaskan segala macam bau dan gerah yang menempel di badan. Tak perduli dengan kata mitos mandi tengah malam akan mendatangkan penyakit.

“Ibu mau aku ceritain sebuah kisah ga?” aku merebahkan badan di kasur kamar ini.

“Kisah apa?”

“Kisah tentang kapak, gergaji dan api. Kamu sudah tahu tentang cerita ini?”

“Belum, pasti ayah habis baca di internet ya?”

“Wah, kok tau.. he. Cerita ini bagus banget, penuh hikmah bu”

“Ayo cepet ceritain dong”

***

Ada sebuah kisah persahabatan tentang kapak, gergaji dan api. Mereka memiliki fisik, sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Dan karena perbedaan itulah yang membuat mereka bersahabat dengan baik.

Suatu hari mereka bertiga memutuskan untuk pergi kehutan. Konon terdengar kabar ada sebuah tempat yang sangat indah di pedalaman hutan. Air terjun yang menjulang tinggi, diselingi aneka bunga langka yang sangat indah. Beberapa tanaman buah yang sangat lezat tumbuh di sana, di dahannnya tempat burung-burung bersuara merdu bertengger. Menambah segala keindahan yang ada. Beberapa orang yang pernah kesana menyimpulkan bahwa tempat itu seperti surga.

Namun untuk menuju ke tempat itu tak mudah. Hanya beberapa orang saja yang berhasil pergi kesana. Puluhan orang yang menuju kesana tersesat dan pulang hanya membawa letih. Sebagian lagi terhalang tembok tinggi menjulang.

Kabar tentang keindahan tempat itu telah didengar tiga sahabat karib tersebut beberapa hari lalu. Setelah melakukan persiapan yang matang hari ini mereka memutuskan untuk pergi ketempat itu.

“Gergaji, Api, kamu sudah menyiapkan segala sesuatu?” tanya kapak ketika mereka telah berkumpul

“Tenang, aku sudah menyiapkan kondisi tubuhku sesehat mungkin. Kita tak perlu takut dengan hutan kayu yang mencoba menghalangi kita. Sekali mereka menghalangi kita, akan aku belah batangnya hingga tumbang,” sahut gergaji mantap

“Aku akan membuat api unggun ketika malam datang. Aku jamin kita tidak bakal kedinginan dan di ganggu binatang buas,” sahut api dengan santun.

“Oke kalau begitu ayo kita berangkat. Kita habisi siapa saja yang mecoba menghalangi kita,” kapak menjadi komando yang memimpin perjalanan.

Benar saja segala macam rintangan yang coba menghalangi, mereka babat sampai habis. Segala semak yang menyulitkan perjalanan ditebas dengan sadis oleh kapak. Pohon tumbang yang menghentikan perjalanan dimutilasi hingga menjadi sepuluh bagian oleh gergaji. Dan ketika malam datang api membuat api unggun yang menghangatkan mereka.

“Sepertinya cukup untuk perjalanan kita hari ini, saatnya untuk beristirahat. Besok direncanakan kita akan bertemu dengan tembok tinggi yang akan menghalangi kita. Siapkan tubuh kita untuk besok, besok kita akan benar-benar bekerja keras,” kapak mencoba memberikan gambaran untuk besok.

Keesokan harinya dengan kondisi tubuh yang kembali fit, mereka melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah mereka di tembok yang menjulang tinggi. Mereka bertiga hanya bisa tertegun, tak mengira sebelumnya tembok ini begitu kokoh menjulang.

Perkiraan mereka sebelumnya tembok ini hanya terbuat dari kayu hutan yang mungkin saja akan dengan mudah dibelah oleh gergaji. Atau kalau tidak terbuat dari susunan batu bata, yang mungkin saja dapat dihancurkan oleh kapak.

Akan tetapi kenyataan yang ada tembok itu terbuat dari baja yang sangat kuat. Baru kali ini mereka bertemu dengan baja. Kapak dan gergaji wajahnya pucat, bagaimana tidak, mereka berdua hanya terbuat dari kepingan besi sisa yang ditempa berkali-kali. Bagaimana mungkin mereka bisa melawan baja kokoh yang tak memiliki sedikitpun karat. Apipun hanya tertunduk diam, baja ini terlalu besar untuk tubuhnya.

“Sepertinya kita tak mungkin melewati tembok ini,” gergaji pesimis

“Kita belum mencoba ji, biar aku mencoba menghancurkan baja sombong ini,” kapak maju kedepan, membenturkan kepalanya berkali-kali. Percikan apipun tercipta, baja tak bergeming. Hingga akhirnya kepala kapak terlepas dari kayunya.

“Aku menyerah,” kata kapak kesakitan.

“Biar aku mencoba,”

Gergaji maju kedepan, mencoba membelah baja. Lagi-lagi baja tak bergeming. Lama kelamaan mata gergaji yang tajam menjadi tumpul karena gesekan dengan baja. Gergajipun menyerah. Baja memang bukan tandingan untuk kepingan besi seperti  kapak dan gergaji.

“Ayo kita pulang, kita tak mungkin mengalahkan baja itu,” kata kapak mengajak sahabat-sahabatnya pulang.

“Tunggu pak, aku belum mencoba,” sahut api dan langsung maju kedepan.

“Kamu ga mungkin bisa mengalahkan baja itu pi, ayolah berfikir realistis. Aku dan gergaji yang kuat saja tumbang melawan dia. Apalagi kamu yang hanya gumpalan api kecil.”

Api tak menghiraukan, dia maju dan memeluk dengan mesra baja itu. seluruh tubuh api mencoba menyelimuti seisi baja. Berjam-jam hingga hari hampir malam api tak merubah posisinya. Melihat ini semua kapak dan gergaji mulai terlihat bosan.

“Ayo pi, hal konyol apa yang kamu lakukan itu. lebih baik kita pulang saja,” ajak kapak

Api tak menghiraukan panggilan itu. beberapa saat kemudian baja mulai bergerak. Kapak dan gergaji tak menyangka. Baja yang kokoh tak bergerak tadi siang kini mulai bergerak, bukan itu saja, bahkan kini baja mulai meleleh. Seperti es krim yang mencair. Dan akhirnya baja pun luluh membanjiri tanah sekitar.

Api tersenyum berbalik melihat wajah sahabatnya.

“Ayo kita pergi ketempat yang indah” ajak api sambil berjalan jauh kedepan

“Tunggu pi, bagaimana bisa kamu melakukannya” gergaji dan kapak serempak bertanya, berlari terseok mengejar api.

***

“Bagaimana bu cerita ayah? Bisa mengambil hikmah didalamnya? “

“Bagus banget yah, apa yah? Aku ga tahu hikmahnya”

“Begini bu, dalam hidup terkadang kita mendapati seseorang atau situasi yang keras menguras emosi. Mendapati hal ini terkadang kita keras kepala mencoba lebih keras lagi terhadap orang itu, merasa bisa memenangkan pertarungan emosi tersebut.

Terkadang kita salah, ketika melawan ternyata kita hanyalah menjadi gergaji dan kapak yang melawan baja kokoh. Kita tak mungkin menang melawannya, bahkan menyakiti diri sendiri dan menghancurkan hubungan tersebut.

Melawan orang yang keras kita hanya perlu menjadi api yang memeluk baja dengan lembut, tak perlu merasa kuat, karena kuat belum tentu bisa memenangkan pertarungan emosi.” Aku terdiam, isteriku sepertinya sudah tertidur. Akupun mencoba untuk berbaring tidur, menghilangkan lelah.

Tiba-tiba isteriku memelukku dengan lembut, mendekap rapat sambil mata terus berpejam. Tak berapa lama dia berbisik.

“Aku ingin menjadi api”

Iklan

One thought on “[Cerpen] Kapak, Gergaji, dan Api

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s