#6 Pohon

Beb aku ingin bercerita tentang kisah sebuah biji. Biji yang menjadi awal kehidupan bukan sisa buah yang tak mampu dimakan.

Biji itu terjatuh di sebuah petak tanah yang diselimuti semak kecil. Seiring waktu biji itu mulai tumbuh. Geliat kecilnya mulai menumbuhkan akar, sisi atasnya menumbuhkan tunas. Biji terus bersabar untuk terus tumbuh. Mendapatkan segala gizi baik dari hara tanah untuk mempercepat tumbuh dan berkembang.

Seiring waktu kemudian biji itu menjadi kecambah. Setiap hari kecambah berharap agar hidupnya bisa panjang, agar tubuhnya tak dicabik dan dimakan oleh ayam liar. Karena dia tak dapat berpindah, tak mampu bersembunyi, karena hanya sepetak tanah itulah tempat dia mengadu nasib. Iring-iringan semut serdadu waktu itu seperti iringan kereta raksasa yang menggetarkan bumi.

Hujan dan kemarau silih berganti, sampailah dimana masa biji itu tumbuh tegak menjadi sebuah batang yang berdiri. Masa ini batang tetap berharap agar hidupnya bisa panjang, agar batang kecil ini tak diinjak secara tidak sengaja oleh manusia yang sedang berjalan atau terhindar dari nasib sial terinjak anjing liar yang sedang mengejar mangsa.

Batang itu terus membesar hari demi hari, tapi ia belum cukup kokoh. Semilir angin telah membuatnya limbung kekanan atau kiri. Kupu-kupu yang hinggap sudah cukup membuat tubuhnya terbungkuk menahan beban.

Batang terus membesar, sampai saatnya ia menjadi tempat menghinggap burung-burung kecil yang baru bisa terbang. Semut-semut serdadu yang dulu menjadi kereta raksasa kini terlihat mengecil. Batang itu terkadang bingung, dia yang terlalu cepat tumbuh atau semut itu yang tak mampu lagi membesar. Sering kali batang terlihat ketakutan ketika awan mulai gelap dan angin bertiup kencang.

Batang itu mulai ditumbuhi dahan, seiring waktu dahan ditumbuhi ranting, ranting ditumbuhi daun. Batang mulai berfikir, inikah fase hidup? Seiring waktu pula kini ia mulai berdiri sejajar dengan pohon sekitarnya. Ia mulai melihat pola awan. Indah sekali, terkadang awan membuat pola-pola seperti lukisan. Dibenaknya awan itu seperti kasur empuk lebih lembut dari embun yang ia dapati ketika pagi.

Pohon itu terus membesar dia terus melihat keatas, melihat burung-burung dewasa yang berterbangan membelah angin, kadang kala ia melihat pesawat yang melayang membelah awan.

Suatu ketika ia melihat kebawah melirik tubuhnya. Ia terkesima melihat tubuhnya menjadi raksasa, sepetak tanah yang dulu ia rasa terasa luas sekarang seperti baju yang dipakai kekecilan. Tak muat dipakai hingga menutupi sepetak tanah itu.

Pohon itu berfikir, dulu waktu masih biji, aku akan mendapati banyak masalah karena tubuhku yang lemah dan tidak stabil. Dibenakku jika menjadi pohon besar maka masalah-masalah itu akan menghilang. Tetapi ketika aku telah menjadi raksasa. Kenapa selalu saja ada masalah yang hinggap. Dulu aku takut semut, lalu takut ayam, takut diinjak, takut daunku dimakan kambing, takut angin mematahkan batangku. Kini takutku terus bertambah. Takut badai, takut petir yang menyambar, takut manusia gila yang suka menebang, takut kemarau panjang.

Akan selalu ada ketakutan yang datang. Tak perduli umur ini yang makin hari makin menua lalu di ujungnya akhirnya mati karena layu. Karena daun enggan tumbuh lagi, ranting pun mulai berjatuhan. Tak lama dahan yang menjadi rapuh. Dan akhirnya batang yang menjadi tumbang. Hingga matiku datang, aku masih takut dengan segala macam hal.

Akan selalu ada ketakutan, kekahawatiran, masalah yang datang.

Kita tak ubahnya seperti pohon semakin tua umur, semakin banyak masalah yang datang. Sekarang kita bukanlah kecambah yang takut dimakan ayam. Kita sekarang adalah pohon dewasa yang terus tubuh tegak, menumbuhkan dahan dan ranting untuk menjadi besar. Sanggupkah kita melawan segala hal yang datang?

Kita pohon yang berawal dari biji. Telah lama diterpa segala cobaan. Akar kita telah jauh masuk kedalam untuk menopang. Batang yang kini kokoh menjulang.

Sanggupkah kita melawan segala hal yang datang?

Untuk A

Sumber foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s