#5 Tenang

Aku ingin berada di Bali berdua denganmu.
Menjelajahi setiap keindahannya.
Menghirup udara segar yang ada di sana ketika pagi dan senja hari.
Memungut dengan rakus segala kesejukan di wilayah Ubud.
 
Apakah kau tahu?
Aku tak terlalu suka dengan Kuta.
Terasa panas membakar kulit.
Terlalu hingar yang memekakan telinga.
 
Aku pun tak terlalu suka kemolekan tubuh turis.
Bukannya aku tak normal.
Karena kemolekan sudah sangat mudah didapat.
Di televisi atau majalah di emperan pinggir jalan.
 
Aku tak terlalu menyukai hal yang mudah didapat.
Bukannya aku sombong
Setiap manusia pasti menyukai hal langka yang sulit didapatkan.
Karena itulah aku terus mencari sesuatu yang susah didapat
Dan salah satu diantaranya adalah sebuah tenang
 
Aku lebih menyukai tenang.
Dibandingkan hingar, dibandingkan glamour.
Biar saja orang bilang aku tak mengenal peradaban.
Biar saja semua orang bilang aku hidup di masa purba.
Asal hatiku mendapatkan sebuah ketenangan.
Persetan dengan semua penilaian.
Aku bahagia tanpa dinilai sekalipun
 
Aku lebih menyukai tenang

Ketika manusia jarang terlihat.
Ditempat kita berpijak.
 
Aku lebih menyukai tenang.
Ketika kicauan manusia tak terdengar.
Ketika tak ada perbincangan
yang terkadang malah menghasilkan gunjingan.
 
Tahukah engkau jumlah manusia sekarang melebihi dua milyar?
Fakta tersebut harusnya membuat kita sadar.
Bahwa ketenangan sekarang adalah sesuatu yang langka.
 
Seharusnya manusia membayar mahal ketenangan
Bukan malah membayar mahal akan brisiknya Mall di kota besar
Berjejalan dan tertawa riang duduk di food court
Sambil membicarakan segala hal, sampai warna celana dalam.
Apa menariknya semua itu, setiap saat kita mendapatkan hingar.
Tak mau kah mereka mendapatkan tenang?
Lalu untuk apalagi kita membayar mahal-mahal.
Untuk mendapatkan kicauan di tengah keramaian.
 
Apakah manusia tak pernah merasa bosan.
Bosan akan sebuah keramaian.
Apakah manusia tak kasihan dengan telinga
Yang setiap saat bekerja.
Mendengarkan segala hal yang terkadang tak berguna
 
Seandainya telinga bisa berbincang
Mungkin ia akan mencaci
Memaki atas kejengahannya mendengarkan segala bunyi.
Sayang telinga tak bisa berbicara.
Telinga hanya bisa mendengar
Dan itulah mengapa telinga tak bisa melawan.
 
Aku lebih menyukai tenang
Tenang terkadang mampu menggetarkan hati
Jauh lebih ampuh dibandingkan kita mendengarkan simfony
 
Baiklah aku ralat perkataanku di awal
Aku tak ingin mengajakmu ke Bali.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke tempat yang tenang.
Tak perduli itu Bali, Wakatobi, atau hutan kecil di belakang rumah.
Asalkan ada tenang
 
Aku ingin mengajakamu kembali ke alam.
Seberapa seringkah kamu berbincang dengan dedaunan dan rumput liar?
Jika kamu mau sedikit saja menyelami mereka.
Mereka akan berbincang mesra dengan kita.
Sentuh lembut hijau daunnya
Hati kita akan bergetar, karena di saat itulah kita berbincang
 
Aku ingin mengajakmu kembali ke alam.
Dimana tak ada bunyi selain nyanyian alam
Pernahkah kamu mendengar suara angin?
Jika belum, aku cuma mau bilang
Angin memiliki suara yang menenangkan
Pejamkan matamu, dan rasakan segalanya
Kulitmu akan hanyut
Gendang telingamu tersenyum merajut
 
Aku ingin mengajakmu berada di sebuah tempat.
Sebuah tempat yang tenang, yang sejuk, di bawah pohon rindang
Aku mohon saat itu kita jangan berbincang,
Membicarakan berbagai masalah yang dimanapun dapat kita bicarakan
Tak perlu memulai perbincangan.
 
Jauh lebih indah, jika kita hanya diam
Bukankah hati bisa berbincang
Biarkan hati kita saja yang bercengkrama
Bercerita banyak dan biarkan lidah hanya diam
Sudah saatnya lidah dan telinga beristirahat
 
Mata kita pun bisa berbincang
Tatap mataku dan rasakan hangatnya
Sorot mata kita layaknya sebuah bunyi
yang diterima dan dipahami oleh mata pula
inilah disaat satu organ memiliki tiga fungsi
melihat, berbicara dan mendengar
 
Maukah kamu menemani aku mencari tenang
Jika kamu mau, kamu akan menyimpulkan
Perbincangan sepanjang malam dapat disusutkan
Menjadi sebuah senyuman.
  
#Bukan sebuah puisi
 
Untuk M
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s