#3 Teknologi, gombal, dan puisi

Kamu tahu mengapa terkadang aku membenci kemajuan teknologi. Bukan karena konten dewasa yang mudah didapatkan seperti membeli sebatang rokok di pinggir jalan. Keduanya menjadi racun memang, tapi itu bukan menjadi alasan sebenarnya.

Bukan pula karena keluh dan ghibah menjadi ampuh meraih eksistensi di jejaring sosial. Keduanya sering kita lihat memang, terkadang memang sangat memuakkan. Tapi bukan itu yang menjadi alasan nyata.

Aku membenci kemajuan teknologi karena puisi.

Kamu mungkin terheran-heran dengan mulut yang tak hentinya untuk membuka. Apa hubungannya? Kamu berfikir sekali lagi, memahami alasanku, lebih keras lagi. Tetap saja, kamu tak menemukan hubungan keduanya. Tak ada terkaitan seperti Medusa yang bersuamikan Pasha.

Kamu mencoba bertanya. Sebelum sebuah kata keluar aku sudah berbicara.

Karena puisi sekarang diartikan sebuah gombalan. Dan tahukah kamu mengapa aku membenci kata gombal? Kata itu sekarang menyempit menjadi sebuah kalimat indah untuk menipu dan mengelabui seseorang. Semua orang selalu bilang ‘ihh gombal’ dengan raut muka yang ditekuk padahal di hatinya bahagia mendengarnya. Tak berapa lama dia percaya dan diakhir kisah dia hanya mencaci dan mendefenisikan omongan lelaki hanya gombal belaka.

Kamu bertambah bingung, kamu mengira aku sedang membuat labirin. Tanda tanya makin melebar antar tiga kata yang kini kerap kuucapkan; teknologi, puisi, gombal. Kamu sedang menggaruk kepalamu yang sedang tidak gatal. Bingungmu makin bertambah dan akupun baru akan menjelaskan.

Teknologi membuat segalanya menjadi mudah, aku kamu bahkan mereka menyukai itu tentunya. Ya memang benar adanya, terkecuali untuk puisi. Aku tak suka teknologi mencampuri urusan perpuisian di dunia ini. Mengapa demikian? Kamu selalu saja tak sabar untuk bertanya, aku belum selesai berkata.

Coba kamu tuliskan ‘puisi cinta’ atau ‘puisi khalil gibran’ di google. Akan muncul ribuan bahkan jutaan puisi yang tersaji untukmu. Sepanjang hidupmu mungkin tak akan tuntas membacanya. Disitulah letak kebencianku.

Aku suka menulis puisi, terutama untuk yang terkasih. Membuatnya pun tak mudah, butuh berjam-jam untuk memikirkan ide dan menuliskannya.

Tapi semuanya seakan sirna. Jika harus berhadapan dengan jutaan puisi yang ada di google. Kemurnian puisi seakan sirna akibat datangnya google.  Kesakralan puisi seakan hanya seperti dongeng mitologi yunani. Zeus yang kata orang dewa dari segala dewa, hanya mendapatkan peran sebagai nama tukang siomay yang singgah setiap sore di depan rumah.

Puisi di google membuatku resah. Bukan karena aku takut jika puisi ku disandingkan dengan puisi di sana. Walaupun akan kalah telak dengan keindahan bahasa puisi google, tak mengapa. Aku tak kecewa, yang aku kecewakan hanya satu. Puisi yang murni aku buat disangka hanya kutipan dari google yang didapat tak lama, cukup beberapa detik saja.

Itulah mengapa aku terkadang tak menyukai teknologi. Alasannya karena puisi. Puisi yang sekarang berubah makna bukan lagi keindahan bahasa melainkan keindahan bualan yang didapatkan dengan mudah.

Hanya berapa detik saja kamu bisa mendapatkan puisi. Tapi yakinlah puisi yang aku berikan padamu bukanlah hasil kutipan. Aku tak mau mengambil isi pikiran orang lain. Puisi itu hasil ciptaaan aku sendiri, walaupun bahasanya tak indah, itu tak mengapa. Karena kamulah orang yang pertama kali di dunia ini membacanya. Itulah alasan menjadi indah. Menurutku.

Untuk T

Sumber foto: Klik

Iklan

One thought on “#3 Teknologi, gombal, dan puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s