Selamat Datang Mahasiswa Terbaik

Arikel ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post edisi Selasa, 28 Agustus 2012

***

Dalam waktu dekat ini para mahasiswa baru dari berbagai universitas akan mulai memasuki hari pertamanya. Hari dimana mereka tak lagi mengemban predikat siswa, melainkan mahasiswa, fase dimana sesorang dianggap memiliki daya kritis dan idealis.
Mahasiswa yang selama ini diharapkan oleh masyarakat menjadi agent of change untuk perubahan bangsa dimasa akan datang. Menjadi sebuah tunas baru yang sehat agar hari kedepan bisa menggantikan pohon-pohon tinggi yang telah lama sakit dan tak berguna. Mahasiswa tak ubahnya menjadi harapan masyarakat. Ketika wakil rakyat tempat mereka menumpukan harapan besar tak menghiraukan secara sepihak.
Mahasiswa dibenak masyarakat luas juga menjadi social control atau kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan baik pusat maupun daerah. Masyarakat masih percaya bahwa darah muda yang bergelora di dalam darah mahasiswa tak mudah dipatahkan oleh iming-iming janji manis. Masyarakat masih percaya akan kemurnian idealisme yang sekarang mahal sekali harganya, yang masih dimiliki oleh segelintir mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat kecil.
Akan tetapi menjadi mahasiswa diatas akan dirasa susah jika calon mahasiswa baru tak mampu beradaptasi terhadap susana, tempat dan aturan baru yang jelas berbeda ketika mereka masih bersekolah. Adaptasi yang sederhana, tapi terkadang ada yang kandas dan gagal untuk melanjutkannya kembali.
Kerap kita jumpai banyak mahasiswa yang Drop Out di tahun pertama mereka berkuliah. Hal ini dikarenakan kegagalan mereka dalam beradaptasi di kampus dan ada juga faktor dari ketidak-cocokan mereka dalam memilih jurusan pada awal kuliah.
Adapun adaptasi sederhana agar mahasiswa dapat bertahan diantaranya adalah:
Pertama, Di sekolah menengah, siswa biasanya bersifat lebih pasif dalam menerima pelajaran. Sementara guru yang lebih aktif dalam memberikan ilmu pengetahuan. Di perguruan tinggi jauh berbeda, mahasiswa dituntut untuk aktif dan mandiri mencari ilmu dan informasi berkaitan tentang mata pelajaran baik itu melalui buku-buku maupun informasi di dunia maya. Sedangkan dosen hanya menjadi fasilitator membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah disepakati. Sederhananya dosen menjadi tempat bertanya dan meminta penjelasan, bukan pemberi informasi secara panjang lebar.
Kedua, Tugas akademik di pergurtuan tinggi jauh lebih sulit daripada tugas akademik di sekolah menengah. Kuantitasnya pun terkadang sangat besar sehingga, banyak waktu harus dialokasikan untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Mendapati hal ini, mahasiswa baru dituntut untuk memanajemen waktu dengan sebaik-baiknya. Agar tugas dapat selesai sebelum batas akhir pengumpulan. Tugas yang terlampau berat dan banyak inilah yang terkadang menjadi alasan kebanyakan mahasiswa untuk menyerah dan berhenti dalam perkuliahan.
Ketiga, Di sekolah menengah kita diwajibkan untuk menghadiri setiap pelajaran. Di perguruan tinggi, hal ini sering kali tidak berlaku. Banyak dosen di perguruan tinggi yang tidak mengabsen mahasiswanya. Mereka tampaknya tidak begitu peduli apakah kita hadir di ruang kuliah atau tidak. Mungkin yang terpenting bagi mereka adalah apakah kita dapat memenuhi standar kompetensi yang telah mereka tetapkan untuk mata kuliah tersebut.
Di perguruan tinggi, kita akan mudah sekali menemukan hal-hal yang lebih menarik bagi kita daripada mengikuti perkuliahan secara teratur. Disinilah terkadang kita dituntut untuk dewasa mengambil sikap diantara pilihan membolos atau tetap mengikuti perkuliahan. Dengan rajin mengikuti perkuliahan kita akan mendapatkan ilmu tentunya.
Keempat, Mahasiswa baru terkadang seperti baru mendapatkan kebebasan yang mutlak. Hal ini mungkin dikarenakan mereka yang harus meninggalkan kampung halaman mereka untuk berkuliah. Sedikit terbebas dari pengawasan orang tua dan aturan-aturan yang harus dipatuhi di rumah. Kebebasan inilah yang terkadang menjadi boomerang bagi kita. Disatu sisi kebebasan jauh dari orang tua menjadi sarana menjadikan kita lebih mandiri dan dewasa dalam menentukan sikap. Tetapi di sisi lain terkadang kebebasan ini disalahgunakan untuk mencoba hal-hal negatif yang selama ini belum pernah kita coba.
Banyak sekali sebenarnya adaptasi yang harus kita lakukan di dunia kampus. Terlalu panjang untuk dijabarkan satu persatu. Akan tetapi penulis yakin, semua itu akan mudah dilalui para mahasiswa baru asalkan mereka mempunyai kemauan kuat untuk berkuliah.
Beberapa periode lalu Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki tagline untuk menyambut mahasiswa baru yang berbunyi “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa.” Pertama kali mendengar tagline tersebut saya sedikit iri, mengapa harus mahasiswa ITB yang mendapatkan sanjungan luar biasa tersebut. Tetapi seiring waktu, sanjungan tersebut sepertinya pantas diberikan untuk mahasiswa di universitas manapun. Karena mahasiswa di manapun mereka berada, mereka merupakan salah satu tonggak perubahan dan pemimpin masa depan.
Dimanapun mereka berkuliah mereka akan menjadi salah satu harapan perbaikan bangsa ini, maka diakhir tulisan ini penulis ingin mengucapkan.
“Selamat Datang Mahasiswa Terbaik Negeri Ini”

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s