[Cerpen] Bahkan Tuhan Tak Pernah Menghukum

Cerpen ini pernah diterbitkan di harian Banjarmasin Post tanggal 26 Agustus 2012.

***

Usia Anton sudah menginjak kepala tiga. Anaknya yang tertua sudah berada di kelas lima. Sang bungsu masih sangat belia, setiap celotehannya menghasilkan senyum siapa saja yang melihatnya.

Kelelahan hari ini membuat Anton berfikir panjang. Menyandarkan tubuh di dinding rumahnya yang kini mulai mengeropos karena terlalu banyak di singgahi rayap. Mata Anton masih melihat ke atas menatap semua ketakutan tentang hari esok, merefleksikan semua ketakutannya berfokus kepada lampu hemat energi yang berpendar lima watt. Memicingkan mata berharap lampu itu bisa pecah, sehingga pecah berhamburanlah segala masalah yang menghantuinya.

“Ayah kok melamun aja. Sudah sholat Isya belum?”

Teguran sang istri membuyarkan segala lamunan Anton.

“Hahh, ngga kok, Cuma lagi istirahat saja sejenak,” mata Anton terlihat sayu melihat wajah istrinya

“Jangan bohong yah, aku tahu banget sifat ayah kalau sudah melamun seperti ini pasti ada masalah. Cerita saja sama istrimu ini. Bukannya kamu pernah bilang, segala apapun yang menggantung berat di pundak kita angkat bersama-sama, kita pikul berdua walaupun kita sama-sama telah kehabisan tenaga”

“Ayah sadar bu, tapi entah mengapa masalah yang kita hadapi seperti tak ada habisnya. Ayah tak mengerti apakah tuhan sayang sekali sama kita bu, masalah sepertinya datang tak putus-putus. Kalau diibaratkan layang-layang benang kita yang paling kuat. Ngga ada waktu buat istirahat, kita terus bersitegang dengan layangan musuh.”

“Haha, ayah metafora sekali. Pasti dapat nilai bagus ya pelajaran Bahasa Indonesia,” sang istri mengajak suami bercanda agar melupakan sejenak masalah yang ada.

“Ibu becanda terus deh, ayah lagi serius ini. Besok dan lusa kita mau makan apa lagi bu. Hasil dagangan keliling ayah seminggu ini saja cuma bisa mengembalikan modal pembelian barang. Untungnya ngga ada sama sekali, utang kita sudah menumpuk, dua hari lagi kita akan dicari-cari. Rejeki dari langit sepertinya sekarang hanya menjadi mimpi”

“Ya ampun ayah, nyebut yah, istighfar. Sudah berapa lama kita memikul semua masalah bersama, perut kita sudah kebal jika kita sering puasa karena makanan sudah tak ada. Nafsu ibu mudah dikendalikan ketika rasa iri datang melihat tetangga sebelah punya baju dan perhiasan baru. Anak-anak kita juga tak terlalu manja meminta aneka mainan yang sudah dimiliki teman sebayanya. Kita sudah belajar mengendalikan pernak-pernik dunia yang terkadang menggiurkan. Kita telah belajar banyak yah, tentang lapar, tentan papa, tentang pandangan sinis tetangga yang memandang sebelah mata.”

“Ayah sadar bu, tapi kondisi kali ini semakin sulit. Dagangan ayah sulit sekali untuk laku. Sudah tiga hari ayah keliling melawan terik dari satu kampung ke kampung yang lain, yang  laku cuma dua buah. Kita perlu makan bu, anak-anak kita perlu gizi. Apakah ibu tega melihat anak kita tak dapat tidur nyenyak karena perutnya baru diisi satu kali seharian penuh. Kita mungkin bisa menahannya tapi ayah tak tahan melihat mereka merasakan seperti kita,” Sang ayah mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dengan berat.

“Ibu mengerti, tanpa ayah jelaskan panjang lebar. Tapi apakah dengan mengeluh beras dan lauk akan datang sendiri. Apa uang bisa mengetuk pintu rumah kita sedangkan kita hanya berada di dalam dengan meratapi nasib,”

Suasana rumah hening, anak-anak sudah lama tertidur setelah makan nasi dengan lauk kerupuk dan kuah kecap. Pasangan suami istri itu saling tatap dengan air mata menghiasi pipi masing-masing. Tak ada sedih, karena bibir yang tersenyum ketika mata telah banjir itu sangat indah.

“Bukankah ayah pernah bilang, seberapa besarpun masalah kita, kita mempunyai tuhan yang lebih besar, bahkan Maha besar. Jarak kita dengan Tuhan-pun tak jauh, sangat dekat, sedekat urat nadi kita. Jika kita mendekati Tuhan dengan berjalan, maka Tuhan mendekati kita dengan berlari. Lalu apalagi yang harus kita takutkan yah? Kita berada di bawah perlindungan sang pemilik dunia,” sang istri memberi semangat.

Beruntung sekali Anton memiliki istri yang selalu menyemangatinya ketika ia tersungkur ataupun sekarat tak ada semangat untuk bangkit. Kini ia menyadari ia memang tak memiliki harta yang bisa dibanggakan di depan orang banyak. Tetapi ia memiliki orang-orang dekat yang mampu membesarkan jiwanya, melapangkan hatinya. Sepertinya itu sudah cukup sebagai syarat untuk hidup bahagia.

“Terima kasih bu. Ibu terkadang menjadi api yang membakar, tak menghanguskan untuk ayah, tapi menjadikannya membara. Besok ayah akan bekerja lebih keras lagi, doakan ayah ya bu.”

“Selalu yah, tanpa diminta ibu akan melakukannya.”

***

Pagi ini cerah, bulir embun sudah mulai mengering. Semua orang mulai menjalankan aktifitasnya, hampir semua kaum lelaki sudah tak ada di rumah, para wanita menyibukkan diri untuk melanjutkan tidur atau membersihkan rumah yang tiap hari terlihat berantakan padahal sudah dibersihkan hari sebelumnya.

Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan barang. Agar terhenti tangis anakku dan kecewa yang di bungkus senyum ibunya. Tetapi satu jam lamanya aku berjalan tak ada satupun yang perduli, bahkan untuk memberikan senyuman yang sangat mudah sekali untuk dilemparkan.

“Ibu mau beli selimut, bed cover, sarung bantal, dan lainnya bu? Harganya murah bu, kualitasnya bagus,” aku mencoba untuk menawarkan barang kepada ibu rumah tangga yang sedang menjemur bantal di pekarangan rumahnya.

Tak ada kata yang membalas tawaranku. Apa susahnya menjawab kata ‘tidak’ dan memberikan senyum hangat. Apakah dia bisu, tetapi mengapa sorot matanya tajam sekali seperti ingin menelanjangi jiwaku.

Mengapa semua orang memandangku curiga, padahal Tuhan di atas sana tak pernah menghukumku seperti ini, dengan sinar mata yang lebih tajam dari matahari. Terkadang sorot mata mereka saja telah membuatku tercabik.

Aku mencoba untuk terus berjalan, meninggalkan jalan ini, menghilangkan penghinaan yang aku terima dari pikiranku. Aku sudah berjanji dengan istriku untuk terus bekerja, mencari lembaran rupiah yang tak ku tahu terselip di rumah mana. Aku harus terus mencari, di bagian mana Tuhan menurunkan rezeki untukku, untuk anak-anakku, untuk keluargaku. Aku yakin Tuhan tak pelit, Dia maha kaya.

Tak ada waktu untuk sakit hati ketika menerima penolakan, karena nantinya aku akan sangat sakit hati jika anak-anakku bertanya malam ini kita makan apa.

Aku terus berjalan, pukul tiga sudah, perut sudah lama kosong, tenagaku sudah lama terkuras, yang menggerakkan kakiku hanyalah semangat untuk terus berjalan dan mencari rezeki untuk makan malam ini.

Aku tak sanggup lagi. Tuhan aku menyerah untuk hari ini. Puluhan kilo aku berjalan aku tak mendapatkan hasil. Aku tahu engkau sedang mengujiku, aku sudah bersabar. Dan dengarlah keluahnku.

Mataku mulai remang, tubuhku terasa lunglai, kakiku tak mampu lagi memberikan tumpuan. Tiba-tiba datang gelap dan aku tak sadarkan diri.

Sumber foto; Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s