Hal Kecil untuk Bumi

Artkel ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post edisi Selasa, 14 Agustus 2012.

***

Akhir-akhir ini banyak orang sadar tentang masalah pencemaran lingkungan yang makin hari makin bertambah parah. Ketika masyarakat mulai banyak menuntut untuk perbaikan kondisi lingkungan di wilayahnya atau siapa pun mereka yang menuntut kepada Pemerintah maupun badan terkait akan sebuah tindakan tegas berupa perundang-undangan yang berlaku untuk menyelamatkan bumi ini.

Tak menutup kemungkinan sekarang banyak oknum yang saling melempar tanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Mereka saling salah menyalahkan dan terkadang mereka berdiri sendiri merasa bersih tanpa ingin merangkul segala pihak untuk melakukan perbaikan.

Mereka sibuk untuk menyalahkan pihak pertambangan atas kerusakan lingkungan karena aktivitas mereka lebih banyak merusak lingkungan daripada proses perbaikannya, proses pembukaan lahan, air asam, hingga lahan pasca tambang yang kebanyakan dibiarkan terbengkalai. Pihak industripun tak luput dari sorotan karena limbah yang dihasilkan dibuang langsung ke lingkungan tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Ada pula yang mengkambinghitamkan kepada pihak perekebunan, pertanian, kehutanan permukiman umum atau pihak-pihak manapun yang ikut menjadi kambing hitam atas kerusakan lingkungan yang terjadi di negeri ini.

Terlepas dari benar tidaknya fakta kerusakan lingkungan yang pihak-pihak di atas hasilkan. Mengapa kebanyakan dari kita lebih senang untuk mencari kambing hitam tanpa mengintropeksi apakah kita juga ikut andil di sana. Alih-alih dapat melestarikan lingkungan, kita kebanyakan hanya bergerak di wilayah abu-abu yaitu rencana dan keinginan. Tanpa aksi yang nyata. Pada kenyataannya kita tak butuh siapa yang benar dan yang salah sebagai asas pergerakan kita melestarikan lingkungan, cukup kemauan yang tulus hadir dari hati dan tanggung jawab atas akibat yang telah kita lakukan.

Karena pada dasarnya lewat tindakan kecil yang berawal dari diri sendiri ternyata mampu  memberikan sumbangsih yang besar untuk lingkungan kita. Bukankah sesuatu yang kecil tetapi dilakukan oleh banyak orang maka akan berakumulasi menjadi sesuatu yang besar bahkan amat besar.

Hal kecil itu dapat berawal dan bermula di dalam rumah kita seperti. Di sebuah tempat yang kita habiskan bersama keluarga. Tempat kita pulang dan tempat kita berdiam. Dari tempat sederhana inilah hal-hal kecil ini akan bermula.

Di dapur kita bisa melakukan penghematan penggunaan minyak goreng, karena jutaan hektar hutan diubah jadi perkebunan kelapa sawit. Jangan membuang-buang makanan karena limbahnya dapat menimbulkan gas methan. Selalu membersihkan kulkas secara berkala, hal ini dapat mengurangi konsumsi listrik. Hindari penggunaan barang sekali pakai seperti sumpit dan sedotan. (Beli yang bisa dipergunakan berkali-kali). Biasakan mengkonsumsi makanan lokal ketimbang import kare na tidak membuang-buang emisi banyak untuk pengirimannya.

Di ruang tamu bisa dimulai dengan mematikan peralatan listrik jika tidak digunakan, jangan dibiarkan stand by karena listrik tetap mengalir 5%. Menggunakan peralatan digital yang mampu discharge ulang, bukan menggunakan baterai yang malah menghasilkan limbah berbahaya. Menggunakan lampu hemat energi, karena konon lebih hemat energi hingga 8 x  dibandingkan lampu pijar. Usahakan jangan menggunakan peralatan listrik berdaya listrik besar saat beban puncak 17-22. Gunakan sinar matahari sebagai penerang utama rumah pada siang hari.

Di perjalanan ketika berkendara diusahakan menggunakan kendaraan umum jika memungkinkan. Selalu mencek tekanan ban kendaraan, karena apabila tekanan kurang 0,5 bar dari kondisi normal akan meningkatkan penggunaan bahan bakar sebesar 5%. Matikan mobil apabila menunggu lebih dari 30 detik. Menghindari menggunakan rem secara mendadak karena mengonsumsi bahan bakar dengan cepat. Mengurangi bawaan dalam mobil yang tidak perlu, mengurangi 30 kg barang dapat mengefesiensi 2% pemakaian bahan bakar. Usahakan untuk tidak memanaskan mobil dalam posisi berhenti. Mobil akan lebih cepat panas apabila dikendarai, sehingga akan menghemat bahan bakar.

Hal yang kecil nan sederhana bukan? Tetapi, jika kita lakukan secara bersamaan dan kontinu hasilnya akan mengejutkan. Saatnya kita mengintopeksi diri kita, karena sedikit atau banyak kita juga memiliki andil atas kerusakan lingkungan yang terjadi. Diakhir tulisan ini saya ingin mengutip kalimat dari Greenpeace yang sangat menyentil kita.

“Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan terakhir telah ditangkap. Baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa makan uang”

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s