[Cerpen] Dalam Diam

Cerpen ini pernah dimuat di harian Banjarmasin Post hari minggu, 15 Juli 2012.

***

Kemarin aku berfikir bahwa aku harus mengartikan dulu apa bentuk rasa ini. Rasanya unik, melihatnya aku bahagia, tak bertemu dengannya seperti selalu dahaga. Kemarin siang aku melihat senyumnya. Indah sekali. Tapi aku merasa tak pernah cukup. Entah mengapa aku tak pernah serakus ini sebelumnya.

Aku bingung mengartikan ini semua, sepertinya tiga perempat jiwaku menginginkan dia. Seperempatnya lagi masih memikirkan logika, karena ‘Beauty and the Beast’ hanya ada di film drama.

Hari ini aku kembali bertemu dengannya. Kau duduk di depanku mendengarkan penjelasan dosen dengan seksama. Sedangkan pikiranku merayap dibalik kursi-kursi kampus untuk mendekat denganmu dan mencoba untuk bertanya ‘apa kabarmu hari ini?’ atau ‘apakah kamu sudah makan pagi ini’.

“Hey Don, kita main game yuk pulang kuliah ini, aku baru beli cash lo. Senjata sama karakterku dewa semua.”

“Don, Dony,”

Ada kicauan yang mengganggu khayalanku yang hampir menemukan ujung pelangi.

“Don, kamu lagi ngelamun ya? Kampret kamu ya, sudah ga ngehargaain penjelasan dosen, ga ngehargain aku ngomong lagi,” sahut Rizal yang baru aku sadari bahwa dia sedang berbicara dibalik punggung kursiku tadi.

“Sorry zal, aku lagi fokus dengerin penjelasan dosen ni. Oh ya kamu tadi ngomong apa sih zal?”

“Pinter ngeles kamu ya, mulai tadi matamu fokus sama Siska kok mana ada dengerin dosen. Ini aku ngajakin main game, maukan?”

Aku mengangguk dan ku akhiri semua pembicaraan seenaknya. Aku malas bercanda kuliah kali ini. Sepertinya lebih nyaman memandang Siska daripada menghadirkan keributan diselingi tawa angkuh masa muda.

Ya Siska telah mengalihkan semua konsetrasiku. Bahkan untuk makan dan tidur yang menjadi kebutuhan pokok anak manusia. Dia mungkin tak terlalu cantik bila dibandingkan gadis primadona kampus ini. Tapi entah mengapa aku melihatnya seperti sosok bidadari yang dijanjikan tuhan bagi hamba yang bertakwa. Walaupun sebelumnya aku tak pernah melihat bidadari, tapi aku bolehkan mengambil kesimpulan bahwa makhluk tercantik di dunia ini ku beri nama bidadari.

—-

Pulang kuliah ku coba menyimpulkan bahwa rasa ini adalah cinta. Sebuah rasa yang membuat orang waras jadi gila dan gila menjadi bijak. Sebuah rasa yang membuat manusia berjuang bertahan hidup dan berkorban menyerahkan apa saja.

Akan tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan cintanya, jika selama ini aku hanya dianggap sebuah arca. Selama ini aku memang menjadi biang onar keributan di dalam kelas. Segala yang aku ucapkan bisa menjadi ledakan tawa yang terkadang membuat dosen teruji kesabarannya. Kata teman-temanku jika aku tak ada, kelas seperti berada di surga penuh dengan ketenangan. Aku tak memperdulikan kata temanku yang entah serius atau bercanda.

Semua itu berbanding terbalik jika aku berhadapan dengannya, aku seperti siput yang kehilangan rumahnya. Tak percaya diri dan tak ada pelindung jika wajah memerah karena malu. Rekor perbincangan kami hanaya sekali yaitu pada saat awal kuliah. Aku memberanikan diri melawan segala bentuk rasa malu untuk menanyakan nomor HPmu berapa? Setelah memilikinya aku tak pernah menggunakan nomor itu sama sekali. Aku terlampau malu untuk menuliskan kata ‘Hi’ atau berucap ‘hallo’.

Daripada aku larut memikirkan ini semua, lebih baik aku bermain game. Setidaknya aku bisa melupakan sebentar semua tentang dia. Game memang mampu menjadi senjata ampuhku menelan apapun untuk sementara, bermain hingga larut pagi bisa memberikan sedikir waktu agar pikiran ku tak dipenuhi oleh senyum dan wajahnya.

Hari ini aku kembali melihat dia di tempat makan. Dia tersenyum kepadaku, kubalas senyumnya. Tapi aku masih tetap saja diam. Aku hanya bisa memandangnya dengan penuh rasa. Itupun hanya dibalik punggungnya. Jika berhadapan langsung, aku lebih suka menunduk kali aja ada uang yang jatuh di bawah.

Aku sudah mencoba memberanikan diri untuk berbincang dengannya, tapi tetap tak bisa. Entah mengapa lidah ini terkadang menjadi kaku dan kelu.

Akupun mencoba menyenangai apa yang dia suka. Dia amat menyukai hamster, aku mengetahuinya karena dia suka bercerita dengan sahabatnya tentang hamsternya yang beranak empat, dia bercerita heboh sekali. Bagiku hamster beranak empat itu hal yang biasa, kalau sapi beranak empat itu baru luar biasa.

Akupun mencoba memelihara hamster juga. Aku kira hamster itu sejenis ikan hias yang berwarna-warni. Tapi ternyata itu keluarga jauh dari tikus got yang paling aku benci. Aku bersikeras mencari hamster yang tidak mirip tikus.

“Ada ga yang bentuknya ga seperti ini?  Yang mirip kadal atau ular ga papa deh, asal namanya hamster,” aku bertanya sama pegawai pet shop.

“Wah yang namanya hamster itu ya seperti ini, kecil imut-imut.”

Aku memutuskan untuk membeli sepasang hamster dan berdoa mudahan besok bisa beranak-pinak. Sayang sekali, keesokan harinya hamsterku mati, kematiannya tragis dimakan kucingku yang bernama Mikail. Benar-benar malaikat pencabut nyawa bagi kaum hamster.

Aku melakukan ini semua agar aku bisa memiliki obrolan menarik jika sewaktu-waktu kami tak sengaja untuk duduk bersebelahan, bercerita banyak dengan kau, tentang hamster dan berbagai kesukanmu yang aku tak suka tapi pura-pura aku suka,

Aku telah mencoba memberanikan diri untuk berbincang dan bercerita banyak, syukur-syukur aku bisa mengutarakan banyak. Tapi hasilnya sama saja seperti sebelumnya.

“Don, aku boleh duduk di sini ga? Ga ada temen ngobrol ni,” tanya Siska yang bersiap untuk duduk di sebelahku sambil melirik makananku yang hampir habis.

Aku mengangguk sambil menatapnya, ini rekorku kedua aku berhasil beradu pandang dengannya. Maka saat-saat ini aku hanya bisa memandangmu lewat mata dan berbicara denganmu lewat mata pula.

Aku memohon dan berdoa jika aku memandang wajah dan matamu, jangalah kau membalasnya tapi cobalah dengar dengan hatimu. Karena pada saat itu aku tidak sedang melihatmu, tapi sedang berbicang mesra dengamu.

Tak lama aku memutuskan untuk meninggalkan dia, untuk apa juga berlama-lama dekat dengan dia jika aku hanya diam saja. Aku merutuki kebodohanku sendiri sambil berjalan jauh meninggalkan dia.

“Kenapa kamu cuma diam jika berhadapan dengan ku? Aku sangat menunggu kata-kata apa saja yang keluar dari mulutmu untukku. Karena di dalam diam aku mencintaimu,” gumam Siska melihat Dony menjauh pergi.

Pelaihari, 24 Juni 2012

Iklan

2 thoughts on “[Cerpen] Dalam Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s