Hipotermia – Cat 3

Aku tahu kamu menyukai bulan, kamu bilang cantik, walaupun sebenarnya cahayanya palsu. Tapi bukankah kita biasanya hanya puas ketika melihat bagian depan, tanpa mengetuk dan melongok dulu kedalam.

Sama seperti dulu, malam ini masih dingin, tapi sekarang lebih membekukan. Menusuk tulang dan menyumbat darah untuk mengalir hangat. Persis ketika aku meringkuk kaku di kaki bukit ketika aku dan teman-teman mendirikan tenda ketika api unggun sudah mulai padam.

Bulan malam ini terlihat besar. Puas sekali jika kita potong seperdelapan, lalu kita lahap dengan kalap seperti pizza yang datang disaat hujan hampir petang.

Tapi bulan malam ini terlalu berharga untuk dipotong-potong karena akan lebih cantik jika cukup hanya dilihat dari teras rumah yabg atapnya berlubang. Bukankah keindahan pelangi hanya dapat direngkuh dengan cara dilihat bukan dipeluk atau disimpan dalam selipan halaman buku.

Sepertinya cukup, tanganku sudah mulai beku dan otakku tak sanggup untuk menentukan gerakannya. Hipotermia tanpa baju yang mengurung dingin sungguh menyiksa ternyata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s