[Cerpen] Kembalikan Tempat Tenangku

Ini adalah salah satu cerpen yang aku buat guna mengikuti lomba cerpen antalogi pindahan. sampai sekarang aku tak tahu pengunguman pemenangnya–feelingku sih kalah. jadi dari pada nganggur menuhin harddisk, lebih baik aku posting di sini saja, hitung-hitung menuhin isi blog. Sebelumnya mohon kritik dan sarannya guna mempertajam insting menulis. Selamat mengunyah isi cerpen ini. 😀

 —-***—-

Kalau boleh jujur hal yang paling membuatku tak suka adalah berpindah tempat tinggal, entah itu pindah rumah atau pindah sekolah. Bagiku berpindah kesuatu tempat membuatku kehilangan sahabat-sahabatku, suasana tenang yang telah kubuat ditempat yang lama, hingga kebiasaanku yang mungkin akan berubah ketika aku menginjakkan kaki ditempat yang baru.

Aku adalah seseorang yang mencintai ketenangan, burung-burung berkicau disetiap harinya, sejuknya embun pagi yang bergulir didedaunan pohon yang berada dihalaman rumah, udara segar yang jauh dari polusi, matahari pagi yang menghangatkan.

Bukan itu saja, sungai jernih yang tak jauh dari rumah, yang setiap sore kudatangi untuk main air atau sekedar mencari kepiting bersama teman-teman masa kecil.

Bukit hijau yang kita lalui dengan bersepeda pada pagi hari, menaikinya sambil tersenyum riang, melihat sekeliling hanya hamparan perkebunan tebu yang luas menghijau hingga sejauh mata memandang hanya hijau, dan hijau. Semilir angin yang bergerak lembut menerpa rambut-rambut kering kami, menghasilkan sensasi yang berusaha kuserap dalam-dalam hingga suatu saat sensasi ini bisa kubuka dan kurasakan kembali ketika kesendirian menyapa.

Atau ketika kami mandi didanau yang jernih, hanya ketenangan dan kami yang ada disana. Betapa syahdunya suasana sore itu, awan sore sepertinya paham keberadaan kami, ia mencoba meneduhkan tempat kami tertawa itu dan ditambah simfoni alam yang menyanyikan nada-nada indahnya untuk kami, sebuah burung raja udang bertengger diatas pohon didekat danau, berkicau dengan merdunya sambil memantau kalau saja ada ikan kecil yang mungkin bisa menjadi makan malamnya.

“Gila dingin banget airnya fi,” sahutku kepada seorang teman

“Ya, iyalah, air ini berasal dari pegunungan yang ada disebrang sana. Ow ya fer, kalo kamu berani berenang ketengah, disitukan ada pulau, kita kesana yuk sambil mancing, katanya disitu banyak ikannya.”

“Wah ngga ah, biarpun aku bisa berenang tapi aku takut berenang sejauh itu. Danau ini kan dalam banget. Biar disini ajalah ngadem sambil menikmati raja udang berkicau, gila itu burung sudah bulunya bagus, suaranya bikin sejuk telinga, hehe”

“Ya, jelaslah, beruntung kita bisa bertemu burung ini, karena konon kabarnya burung ini mulai langka,” jelas seorang temanku

Serangga pohonpun ikut menyemarakkan suasana sore itu dengan krenyitnya yang bersahutan tanpa henti. Bagiku hal ini tak menganggu pendengaranku, tak memekakan telingaku, bagiku ini adalah sebuah ketenangan, sebuah ketenangan yang coba diciptakan oleh alam. Tak seperti mesin-mesin kota besar yang membuatku muak, muak akan bentuknya yang tak indah, muak akan suara yang ditimbulkannya yang membuatku bosan mendengar.

Suasana masa kecil yang indah bagiku tak akan pernah aku lupa, hingga disuatu waktu kata pindahan membuatku tertegun dan terhenyak, aku jarang mendengar kata ini ditelingaku bahkan sangat jarang sekali. Tapi kenapa kata ini tiba-tiba keluar dari mulut kedua orangtuaku, bukannya tak senang dengan rumah baru. Tapi suasana indah yang harus kutinggalkan disini, tak akan pernah bisa mampu dibeli oleh istana megah manapun.

Ketenangan yang telah tercipta disini tak akan pernah mampu tergantikan oleh tempat modern manapun. Bagiku rumah yang sederhana ini telah kuanggap sebagai istana raja dihatiku, begitu indah, begitu mewah dan begitu luas dibenakku.

Keputusan untuk pindah rumah mengharuskanku juga untuk pindah sekolah, ahh, harus berpisah dengan teman-teman, beradaptasi lagi dengan suasana sekitar, dan meninggalkan cinta monyet yang telah lama terjalin.

Tapi kehilangan cinta monyetku tak akan berpengaruh besar dengan hidupku karena bagiku jalianan cinta masa kecil itu bisa dicari dimana saja ditempat mana saja, bahkan konon dikota cewek-ceweknya cantik-cantik, jadi aku tak terlalu khawatir oleh hal ini.

Kehilangan terbesarku adalah ketika aku kehilangan suasana tenang ini dan kehilangan para sahabat terbaik yang telah tuhan berikan, kehilangan salah satu ruh hidupku, bagaikan kehilangan salah satu organ vital kebahagiaan masa kecilku. Mereka tak pernah bisa dibeli, mereka tak pernah bisa terganti, oleh apapun dan sampai kapanpun.

Tapi mau bagaimana lagi, waktu akan terus berjalan, jam dinding akan terus berputar.

“Lari dari kenyataan bukanlah sifat dari seorang lelaki, bersembunyi dari hidup ini adalah sifat para pengecut sejati.”

Kata-kata itu yang selalu diucapkan oleh sahabatku ketika kami kalah bermain bola dibawah pohon akasia, walaupun kalau dipikirkan sekali lagi, kata-kata itu terlalu berlebihan untuk mengobati sakit hati kami ketika kalah bermain bola. Apalagi kami sekedar bermain bola antar RT, bukan kompetisi yang memperebutkan hadiah yang ditonton oleh ratusan orang atau disoraki teman-teman cewek kami.

Tapi tak apalah dunia masa kecilku memang penuh dengan keanehan. Pernah juga ketika aku ditampar oleh guruku, karena secara tak sengaja aku melukai pelipis mata anaknya yang juga sekelas dengan kami, mereka menghiburku dengan kata-kata sakti yang tak pernah dipikirkan anak seusia kami saat itu.

“Hidup ini memang keras sobat, jangalah kau bunuh diri gara-gara hal ini kawan. Anggap saja tamparan itu tadi sebagai pembentuk mental kau agar menjadi pribadi yang tangguh tahan akan berbagai masalah yang menghadang,” hibur Santo

“Giillaaa kau, bahasa kamu ketinggian, ini nih efek kebanyakan makan keju, gaya omongan kamu seperti politikus berdasi,” sahutku kesal

Dan kata-kata kami ketika kalah main bola itulah yang sekarang menjadi pelecut semangatku untuk berani menghadapi kenyataan berpisah dengan tempat tenang ini dan berpisah dengan sahabat terbaik yang pernah kumiliki.

“Santo, Lutfi, dan lainnya, hari ini aku mau pindah rumah keluar kota, entah mengapa sangat sulit menerima kenyataan ini. Keceriaan masa kecilku saat ini adalah memori terindah yang akan ku simpan, aku tak tahu apakah nanti ditempat yang baru aku akan menemukan sahabat seperti kalian, mohon maaf semuanya kawan,”

“Yupp, santai aja fer, aku yakin engkau akan mendapatkan sahabat seperti kami, bahkan mungkin lebih dari ini. Ya, kalau ada waktu pasti kita akan bertemu lagi. Bumi ini tak pernah kejam untuk memisahkan keceriaan kita, bumi ini akan mempertemukan kita disaat yang tak pernah kita duga, dan Allah-lah yang tahu segalanya kapan saat indah itu tiba.” Jelas Santo

“Bener tuh kata Santo, tumben dia bisa ngomong serius kaya gini. Okee, selamat tinggal kawan, tapi camkan kata-kata ini baik-baik kawan, aku tak akan mengulangnya dua kali. Sahabat sejati akan selalu ada dihati, dia akan selalu ada dan tak akan pernah pergi,” sahut Luthfi mantap

“Akan selalu ada dan tak pernah pergi!” kata-kata itu kita ucapkan bersama menutup segala kesedihanku akan kehilangan mereka.

“Ya, akan selalu ada dihati dan tak pernah pergi,” gumamku menghapal semua kata-kata itu, ketika aku sedang termangu dimobil saat meninggalkan tempat tenang ini, tempat dimana aku dilahirkan yang penuh ketenangan dan kesejukkan.

Kata-kata itu kini menjadi penyemangat keduaku setelah, kata-kata kami kalah main bola. Kalau dipikirkan lagi secara mendalam, kata-kata itu memang benar. Sahabat itu tempatnya bukan disamping, dibelakang atau didepan kita, tapi ia tepat berada dalam hati. Kadang ia tak terlihat raga kita, tapi kita selalu saja menemani kita kapanpun itu, ia terasa dekat dengan kita, mereka selalu mengisi hari-hari indah kita, dengan hadirnya atau dengan kata-kata dan kenangan manis yang telah kita lalui bersama.

Sesampainya dirumah baru ku, jauh berbeda dengan tempat tenangku. Tak ada pohon disana, hampir bisa dibilang gersang karena hanya ditumbuhi ilalang liar. Suasanaya pun jauh dari ketenangan, banyak hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang. Kalau siang hari udaranya terasa panas, tak tahu kenapa bisa begitu.

Aku berusaha untuk menikmati lingkungan disini, dengan tetangga yang terlihat acuh sana-sini. Setelah aku mengangkat dan membereskan barang-barangku, aku mencoba berjalan menyelusuri lingkungan disini dengan sepedaku, kali aja aku bisa bertemu sahabat baru atau bisa menemukan pengganti tempat tenangku.

Setelah cukup jauh bersepeda, aku menemukan sungai, wajahku sedikit bahagia. Ya hitung-hitung pengganti sungai di tempat tenangku, gumamku waktu itu. Tapi setelah dekat, aku kecewa karena sungainya tak jernih, sangat keruh, bahkan aku tak mampu melihat dasar sungainya, apalagi melihat ikan-ikan yang berenang disana. Waktu aku mencelupkan kakiku pun aku terkejut, karena dengan sekejap ada binatang yang mendekat dan menempel dikakiku, bentuknya menyerupai cacing, setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa itu lintah yang menghisap darahku. Aku berpikir dulu aku bisa menangkap ikan dan kepiting disungai jernihku, tapi sekarang aku malah dimangsa oleh gerombolan lintah yang menjijikan.

Ahh, tempatku yang baru sungguh tak nyaman, tak ada pohon, tak ada ketenangan, sungainya pun banyak dihuni lintah yang menghisap darah. Aku tak ingin berada disini, aku ingin berada ditempat tenangku, menghirup udara pagi-pagi dalam-dalam dan mandi disungai tanpa perlu ada yang dikhawatirkan.

Tapi aku tersadar setidaknya aku pasti bisa menjalani ini semua, bukannya manusia diciptakan dengan keunggulan cepat beradaptasi. Tak perlu dikhawatirkan, mungkin hanya sedikit pembiasaan. Bagaimana soal sahabat? Belum ku dapatkan sahabat yang terbaik ditempat baruku ini, sama dengan belum ku temukannya sungai jernih disini.

Tapi akan selalu kuingat kata-kata mereka dipenghujung pertemuanku.

“Sahabat sejati akan selalu ada dihati, dia kan selalu ada dan tak akan pernah pergi”

–The end–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s