Filosofi Angin

Kini aku mengerti tak ada gunanya aku banyak berharap denganmu. Kini aku tersadar bahwa berharap banyak sama dengan melepaskan banyak. Bukankah ketika menggenggam erat segenggam pasir kita akan kehilangan pasir itu sendiri, pasir itu akan melayang hilang ditiup terpaan angin walaupun itu hanya semilir.

Sekarang aku tak akan lagi memaksakan hadirmu, aku tak akan menuntut wujudmu. Karena baru ku sadari kamu ternyata hanya semilir angin yang bertiup. Aku tak mungkin bisa memaksakan angin untuk menerpa tubuhku, menyentil hidungku atau mengibaskan rambutku. Angin tetaplah angin, dia tak bisa dipaksakan untuk hadir dan kehadirannyapun tak mungkin kita duga.

Memaksakan kehadiran angin sama dengan menyalakan kipas angin, tak alami dan tidak natural dan tentunya bukan itu yang ku inginkan, aku tak ingin sesuatu yang dipaksakan. Ya aku simpulkan kini kau hanyalah semilir angin. Aku tak ingin lelah menunggumu lagi, aku tak ingin kecewa menanti kedatanganmu. Aku cuma cukup menikmatinya ketika angin itu datang tanpa repot-repot untuk memaksanya datang.

Untuk apa berharap banyak datangnya angin, bukankah kita tak dapat mengetahui arah dan kapan datangnya. Sama seperti hati manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s