Influence

Aku tipe orang yang mudah sekali ter-influence oleh tulisan orang lain. Terutama tulisan-tulisan yang aku sukai. Oke sedikit gambaran, influence mungkin menurut definisi nyata adalah sebuah virus yang menularkan kepada orang lain. Tak jauh berbeda influence di dunia tulis menulis adalah tertularnya gaya penulisan kita dengan gaya penulisan penulis-penulis yang kita sukai. Hal ini mungkin dikarenakan kita sering membaca buku-buku penulis tersebut atau terlalu menganggap gaya penulisannya sangat menarik sehingga terbawa kedalam gaya penulisan kita.

Oke mungkin itu sedikit intermezzo tentang influence. Kembali kepada awal yang ku katakan tadi, aku adalah tipe orang yang sangat mudah sekali ter-influence oleh gaya penulisan orang lain terutama penulis-penulis yang aku sukai.

Hal ini berawal dari kesukaan aku membaca hasil karya mereka. Bukannya hanya satu buku, bahkan beberapa buku dari mereka telah aku baca.

Diawali dengan ter-influence aku dengan tulisan Habiburrahman El Shirazy. Beberapa buku beliau telah ku baca, bahkan jumlahnya mungkin lebih dari 6 buku dan pada akhirnya gaya penulisan, bahkan genre tulisan ngga jauh berbeda dengan beliau. Dan titik kulminasi tertinggi aku terhadap beliau, aku membuat novel yang berlatar sisi relegius sama dengan genre tulisan kang abik. Walaupun novel itu masih belum rampung, baru jadi 23 lembar lalu kutinggalkan kabur tanpa ijin pamit sedikitpun karena aku telah ter-influence oleh penulis lain.

Setelah Kang Abik, aku kembali ter-influence, kali ini oleh gaya penulisan Raditya Dika semua novel Radit pada waktu itu telah aku baca, apalagi trend penulisan banyak orang waktu itu ngga jauh berbeda dengan dia—berbau humor dan komedi yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Aku pun mulai menulis kehidupan sehari-hari aku mulai waktu kecil hingga pada zaman awal kuliah. Semua ini kulakukan karena aku ingin membuat novel yang ber-genre seperti novel-novel Raditya Dika. Aku pun telah melist kejadian-kejadian yang aku anggap lucu dari awal aku mulai bernafas hingga bau nafasku yang sekarang dijauhi banyak orang. Mulai dari kelakuan bengalku waktu kecil, hingga kejadian-kejadian absurd-ku masa SMA telah aku list, bahkan sebagian telah menjadi sebuah tulisan yang sekarang aku sadari tak bernyawa.

Setelah Raditya Dika, tak berselang lama dan tanpa menyelesaikan novelku yang ber-genre komedi. Aku ter-influence kembali oleh gaya tulisan Andrea Hirata. Walupun tidak separah kedua penulis diatas. Setidaknya saat itu aku tak berniat untuk membuat buku/novel dengan genre atau gaya penulisan Andrea. Tapi sedikit banyak influence Andrea masih melekat di gaya penulisanku. Seperti bagaimana ia medeskripsikan kejadian yang sederhana dengan panjang lebar dan tentunya menarik hingga melebih-lebihkan sesuatu yang sederhana hingga terkesan metafora. Influence Andrea hirata ini juga diakibatkan karena aku telah membaca semua novel Tetralogy Laskar Pelangi-nya. Tapi syukurlah influence Andrea hirata tak terlalu merasuk kedalam jiwaku.

Karena tak beberapa lama kemudian aku ter-influence oleh gaya penulisan Edi Mulyono. Bukan penulis ternama memang. Tapi buku Best Seller-nya yang berjudul “Andai aku jalan kaki, masihkah engkau selalu ada untukku?” membuat aku benar ter-influence cukup lama dengan gaya penulisan bang Edi. Bahkan lagi-lagi aku berniat membuat buku dengan gaya penulisan seperti dia. Aku pun membeli beberapa buku beliau dan membaca catatan di faebook-nya—yang kebanyakan isinya dibuat kedalam buku yang beliau cetak. Gaya penulisannya yang ceplas-ceplos, langsung tepat sasaran, dan tanpa banyak kata-kata “penghalusan” untuk menjelaskan “sesuatu”, sempat membuatku merasa bahwa inilah gaya tulisanku, inilah soul tulisan yang aku cari dari satu penulis ke penulis ternama yang lain. Ini lah akhir dari pencarian soul dari gaya penulisanku dan ini lumayan berlangsung lama sehingga aku berhasil membuat berbagai tulisan dengan influence dari Edi Mulyono.

Hal ini ternyata lagi-lagi terkaburkan kembali ketika aku mulai membaca tulisan dari Dewi Lestari. Seorang penyanyi wanita ternama Indonesia yang ternyata memiliki bakat luar biasa dalam menulis. Berawal dari aku membaca novel Supernova : akar yang tak sengaja ku temukan di tumpukan buku kuliah kakaku. Pada awalnya aku membaca sekilas, aku merasa bosan karena memang isinya yang sangat sulit untuk dipahami.

Akan tetapi ketika aku sedang libur dan tak ada kerjaan, aku memutuskan untuk memulai membaca novel tersebut kembali, aku mulai merasakan tanda-tanda maniak terhadap tulisan Dewi. Sampai sekarang aku mengumpulkan sedikit demi sedikit novel dia, merelakan banyak uang jajan untuk membeli novel dia. Dan tentunya aku kembali ter-influence oleh gaya penulisan dia yang bagiku banyak menampilkan kalimat tersirat tapi tepat mengenai sasaran.

Aku pun mulai menulis dengan influence yang diberikan Dewi lewat tulisan-tulisannnya. Sampai pada suatu hari aku membuat tulisan yang meruupakan hasil dari influence dari Dewi Lestari dan aku meminta temanku untuk melakukan penilaian terahadap hasil tulisanku.

Jawabanya mengejutkna aku, dia tidak menyukai tulisan yang “berkarakter” Dewi lestari itu, padahal aku telah mati-matian agar hasil tulisanku semenarik tulisan-tulisan Dewi Lestari. Tapi kenyataannya berbeda. Dia bahkan lebih menyukai tulisan yang aku buat dengan jiwa aku sendiri, padahal pada saat membuatnya, tulisan ini akan menjadi sangat sederhana dan tanpa ada soul-nya, itu pemikiranku waktu itu.

Sekarang aku baru mengerti setelah beberapa tahun aku menyukai menulis, aku baru menyadari bahwa aku memiliki monster yang luar biasa dalam jiwa ku. Aku memiliki soul menulis yang mungkin lebih hebat dari penulis-penulis yang aku tulis diatas. Aku salah menilai diriku sendiri, aku kira aku bisa menjadi penulis hebat dengan memakai “baju” dari penulis yang sudah ternama. Ternyata aku salah, aku memiliki Soul aku sendiri, aku memiliki style aku sendiri, aku mempunyai karakter aku sendiri.

Lalu untuk apa selama ini aku mencoba untuk menyerupai Habiburrahman, seperti Raditya Dika, Mengikuti Andrea Hirata, mencontek Edi Mulyono, dan memplagiat Dewi Lestari, sedangkan aku sendiri memiliki karakter yang kuat yaitu karakter Ferry Irawan. Karakter yang selama ini aku sembunyikan dibalik kerah-kerah baju influence penulis ternama.

Aku salah, aku bodoh dan aku membuang-buang waktuku hanya untuk mengasah gaya tulisan yang aku anggap keren. Sedangkan Soul Ferry Irawan aku biarkan mengendap terbengkalai. Aku tak ingin mengulanginya lagi aku akan menghidupkan monsterku sekarang, saat ini, detik ini. Dan ku ucapkan Selamat datang di “tulisan-tulisan” Ferry Irawan.

Iklan

2 thoughts on “Influence

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s