Sniper

Entah mengapa jika terjadi sebuah pertempuran aku lebih menyukai menjadi seorang sniper dibandingkan harus terjun langsung dimedan pertempuran dengan senjata AK 47 atau M16 ditangan, dan tentunya dengan melakukan aksi heroik ini resiko kita ditembak musuh sangat terbuka lebar. Aku pun tak berminat masuk kedalam tank Merkava untuk membor-bardir daerah pertahanan lawan. Tak pula aku berminat menaiki F-22 Raptor walaupun pesawat ini sulit untuk ditembak jatuh, karena kemampuan silumannya yang tidak terdeteksi oleh radar musuh.

Bukan, bukan berarti aku seorang pengecut yang mencari tempat tersembunyi dari pandangan musuh seperti bertengger diatas pohon, berlindung dibalik puing, atau merunduk dengan Ghillie Suit (baju kamuflase berupa semak)

Akan tetapi bagiku sniper adalah bagian dari ketenangan, implimentasi dari kesabaran, perlambang dari sebuah kecermatan, tapi tak mengurangi sedikitpun nilai keberanian dan kegarangan seorang tentara. menjadi sniper dibenakku seperti memancing perlu kesabaran dan ketenangan extra tinggi menunggu mangsa, tak boleh gegabah melakukan gerakan mencurigakan, dan selalu fokus terhadap target yang ingin diincar.

Sniper bukan berbicara tentang pasukan pengecut yang paling lambat mati saat pertempuran. Akan tetapi sebenarnya sniper adalah sumber ketakutan para pasukan musuh. Jangankan melihat sosok sniper yang menembak, melihat siluetenya, bahkan menemukan arah suara dari tembakan sniper ini pun terkadang tak terendus oleh musuh. Inilah yang menjadikan sumber ketakutan musuh, bak berhadapan dengan monster yang tak terlihat. Dalam benak mereka

“apakah kepalaku masih selamat jika berlari 5 meter saja kedepan”

Tak ada yang tahu sasaran teleskop para sniper mengarah kearah siapa dan berakhir dikepala atau jantung siapa

Dan ada beberapa hal yang selalu dan harus diperhatikan oleh para sniper. “Sniper lawan adalah lawan utamamu” hal ini harus diingat, karena seberapa mudahnya kamu menembak tentara musuh didepan itu sebaiknya jangan dilakuakan, karena sniper musuh juga seperti dirimu. Ia bersembunyi, mengintai pergerakanmu dan telinganya senantiasa mendengarkan suara hembusan nafasmu. Sekali kamu menembakkan senjata itu sama saja dengan membokar kamuflase yang sudah dibuat. Tak butuh waktu lama hidupmu berujung pada peluru sniper lawan.

Hal ini kerap terjadi, pertempuran antar sniper top dan yang paling terkenal adalah berhadapanya antara Vasily Zaytsev dengan sniper top Jerman, Mayor Koenig.

Bagi yang sudah menonton film Enemy At The Gates? Pasti sudha mengetahui jalan ceritanya, film yang diambil dari kisah nyata ini becerita tentang seorang pertempuran yang didominasi para sniper. Sniper dari kedua belah Negara—Jerman dan Rusia—saling tembak sehingga banyak tentara meninggal dari kedua belah pihak, mereka menggali terowongan, dan bersembunyi dibalik puing, perang semacam ini sering disebut “War of Rats” atau perang tikus.

Jerman mulai ketakutan akan ulah Vasily maka untuk mengimbanginya dikirim sniper top dari Berling Jerman menuju Stalingrad, Mayor Koenig. Duel antar sniper-pun tak dielakkan, berhari-hari mereka saling observasi hingga kemenangan duel sniper top ini dimenangkan oleh Vasily.

Selalu menembak satu kali pada posisimu, atau kamu akan terdeteksi. Ini merupakan salah satu cara para sniper agar tidak ditemukan oleh para musuhnya. Bahkan ada sebuah kalimat Bertahan hidup seorang sniper ialah 10 kali kamuflase dan 1 kali menembak.

Keahlian para sniper berkamuflase dan membunuh musuh tanpa diketahui merupakan keunggulan sniper dibandingkan metode perang lainnya.

Salah satu contoh sniper handal yang memiliki rekor kill hit terbanyak dipegang oleh Simo Hayha dengan total 542 orang yang berhasil ditumbangkannya. Sehingga para tentara musuh memberi gelar padanya “White Death” ini dikarenakan ratusan tentara musuh harus jatuh tersungkur hanya karena satu orang yang menggunakan pakaian kamuflse serba putih di hutan Finlandia saat turun salju.

Mendapati pasukan khusus yang diturunkan untuk membunuh Hayha tewas Rusia mengirimkan sniper-snipernya untuk melawan hayha (Sniper vs Sniper). Namun semua sniper yang diturunkan tak ada selamat dari bidikan Hayha, dan yang sungguh luar biasa Simo Hayha hanya menggunakan senapan bolt action Mosin-Nagant M39 kaliber 7,62 mm buatan Rusia standar tanpa teleskop, cukup dengan iron sight atau pisir besi. Bagi Hayha penggunaan teleskop pada area bersalju justru akan merugikannya karena akan memantulkan cahaya dan persembunyian si sniper akan mudah diketahui.

Begitu ampuhnya sniper dalam membunuh musuh, sehingga terkadang sniper menjadi strategi perang disaat peralatan perang atau senjata tak secanggih senjata musuh. Dengan menjadi sniper kita dapat bersembunyi dan menembak musuh disaat lengah. Salah satu strategi yang cukup cerdas dibandingkan kita harus menyerang langsung dengan senjata yang sangat sederhana.

–Bersambung–

cerita ini akan menjadi sangat panjang. hahhaa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s