Kebun bunga

Sedikit tergerak hati ini untuk menuliskan tentang masalah awal syawal tahun ini. Bukan bermaksud latah mengikuti tren tulisan banyak orang, tapi aku hanya ingin sedikit berbagi isi pikiran diotak ini.

Tapi aku juga tak bermaksud untuk sombong, angkuh atau dedemitnya yang mengatakan bahwa pendapat ku lah yang paling benar, dan kalian semua harus mengikuti jalan kebenaran dipikiranku. Tidak, aku bukanlah seorang dewa kebenaran, atau seorang nabi palsu yang ingin meracuni pemikiran kalian. Aku hanyalah aku, tak ubahnya seperti puisi terkenal itu.

Malam kemarin mungkin trending topic di negara ini adalah tenang penetapan awal syawal, yang menjadi hari raya umat Islam setelah satu bulan berpuasa. Tapi aku bingung, ketika sidang penetapan awal syawal itu berjalan tenang, damai, adem ayem dan sedap dipandang. Eh, para penghuni jejaring sosial yang malah ribut, seolah mereka ingin memaksakan kehendak mereka.

Jujur, sebenarnya aku tak banyak mengerti tentang apa itu hilal, hisab atau istilah-istilah dalam penetapan awal bulan hijriyyah ini. Tentang istikmal aja aku baru tahu tahun ini, ah betapa bodohnya diriku ternyata. Tapi aku tak mau menjadi sok pintar untuk menentang para ahli atau alim ulama yang kemarin mengikuti sidang itsbat disana.

Bukan seperti kau, kau, dan kau—jangan dikira aku sedang emosi ya, cuma sedikit melampiaskan kekecewaan. Kamu dengan mudahnya dimedia umum mengatakan bahwa pemerintah sedang melakukkan kebodohan, bahwa ormas ini sesat, kalau puasa besok hari berdosa, kalau besok wajib berhari raya dan segala macam wacana yang kau update agar semua orang memilih jalan pikiranmu, mengikuti kehendakmu.

Kamu dengan sok pintarnya dan sok alimnya mengatakan dalil ini paling benar, cara ini paling tepat. Sekali lagi kita memiliki alasan yang kuat, dalil yang kita yakini masing-masing dan tugas anda hanya mengikuti yang mana yang menurut kamu benar dan kamu yakini. Mau hari raya hari ini silahkan, mau besok juga monggo.

Jadi tak perlulah kamu mencap orang-orang yang berbeda dengan pemikiranmu sebagai orang yang sesat dan yang berbeda denganmu akan berdosa,  nabikah kamu? Malaikatkah kamu?

Maaf bung, sudah banyak di negeri ini yang sudah menjabat sebagai provokator, tak perlulah kamu grasak-grusuk untuk menjadi itu. Carilah pekerjaan yang cocok untukmu, mungkin kamu cocok kerja di air, daripada kamu menjadi pembuat onar atau seorang trouble maker.

Ya kalau kamu mau bersikeras mau jadi pemecah persatuan, silahkan, tapi jangan tinggal di Indonesia ya, tinggal aja diplanet mana kek. Karena sudah jelas semboyan negara kita, bhineka tunggal ika, tahukan artinya?

Aku tak ingin membahas tentang pendapat mana yang paling benar, jelas aku tak sanggup untuk mendebatnya. Ilmuku masih seiprit, jauh dari para alim yang kemarin berada disana. Tapi aku hanya ingin meluruskan pemikiranmu untuk mau menerima sebuah perbedaan yang dilandasi dengan alasan yang sama kuat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Ya, janganlah kamu mengganggap perbedaan itu seperti jurang yang memisahkan kita, jangan anggap seperti tembok raksasa yang menghalangi kita. Kalau kamu beranggapan seperti itu, kamu tak akan pernah bisa menghargai perbedaan dari berbagai hal didunia ini.

Anggaplah seperti sebuah kebun bunga. Kebun bunga yang memiliki satu jenis bunga memang indah, tapi akan jauh lebih indah lagi jika memiliki berbagai jenis bunga, beraneka rupa bentuk, dan bermacam warna. Ya tugas kita tak perlulah untuk sakit hati mendapati hal itu, kita nikmati saja kebun bunga ini, sambil menikmati teh hangat dan renyahnya gorengan. Uppss, aku kan masih puasa. hehe

Iklan

2 thoughts on “Kebun bunga

  1. Semoga perbedaan tidaklah dijadikan suatu alasan untuk memberikan ruang sebagai provokasi umat.

    Perbedaan merupakan suatu keragaman, tanpa harus menjadi yang tertindas. Karena hanya orang yang tidak mengontrol hatinya, maka ia yang akan termakan oleh egonya sendiri.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s