Siapa yang mau mengangis bersamaku?

Siapa yang mau menangis denganku ketika para bintang hanya mengejar nilai dan gelar?

Sebuah status facebook yang mengehentak naluriku, status yang ku amini kebenarnnya. Memang benar adanya sekarang banyak sekali para bintang intelektual yang hanya mementingkan nilai dan gelar tak perduli dengan apa mereka mendapatkannya.

Cara mereka beraneka macam, ada yang jungkir balik belajar sepanjang waktu. Baginya menjadi mahasiswa tak ubahnya siswa masa SMP dan SMA yang selalu mereka geluti dengan belajar tiada henti. Rutinitas masa lampaunya selalu mereka ulang, pagi berangkat kuliah, siang makan-belajar, malam belajar sambil mengerjakan tugas yang makin hari membuat gila. Itu-itu saja setiap harinya, dan ini telah berlangsung lebih dari 12 tahun. Tak ada raut kebosanan dibenak mereka, bagaikan tetesan air yang dengan setia melubangi batu selama bertahun-tahun.

Dibenaknya jika ingin pintar kita harus banyak belajar dan memang benar teorinya seperti itu. Tapi mendapati hal ini pemerintah bisa tertawa lebar, dengan membiarkan generasi mudanya asik belajar. Mereka bebas melakukkan apa saja. Korupsi, tidur, berjudi, menghamburkan uang rakyat kemana saja atau bahkan berzina dilokalisasi papan atas saat jam kerja. Mereka merasa aman saja, toh para mahasiswa tengah asik belajar mengerjakan rumus yang sukar dipecahkan, menghapal berbagai teori atau bahkan mengerjakan proyek dosen hitung-hitung buat nambah uang jajan. “Kan enak tuh para mahasiswa tengah asik beronani dengan mata pelajarannya, jadi tak ada kritik sosial buat kelakuan bejat kita, kita bebas melakukkan apa saja.” Gumam para wakil rakyat yang sedang tertawa terbahak-bahak disana

Ya ketika mahasiswa terlalu khusuk dengan pelajarannya, kita lupa mengasah kekritisan kita akan permasalahan yang pelik di gedung bundar sana, kita melupakan kritik untuk yang katanya “para wakil rakyat”.  Wong ketika banyak mahasiswa berdemo saja mereka masih bisa mengambing hitamkan kecurangan mereka, mereka masih bisa menutupi bahkan menganggap benar sesuatu yang seluruh rakyat sudah tau belangnya. Ngga usah jauh-jauhlah, kita lihat tentang kasus century? Dimana gaungnya sekarang, dulu mereka bak harimau ingin menelanjangi kasus ini sampai keakar-akar. Tapi sekarang? Geliat cacing tanahpun tak kelihatan geraknya. Ahh tau arti tai banteng ga? Bullshit itu namanya.

Dibenakku, jangan sampailah mahasiswa dinegeri ini terlalu asik berlomba meraih nilai dengan asik belajar sampai melupakan tugas utama mereka yaitu salah satu bagian pengontrol jalannya pemerintahan. Kekeritisan kita jangan sampai berkarat karena teralu banyak kena larutan asam atau ditinggalkan begitu saja dalam waktu yang lama tanpa ada tindakan untuk mengasahnya walaupun hanya sekedar kritik lewat tulisan.

Ada juga mahasiswa yang asik meraih nilai dan gelar dengan mengahalalkan segala cara, tak perduli bagaimana caranya yang penting nilai semester ini memuaskan. Tak perduli lewat jalan mana dan dengan apa, yang penting di khs kelak nilainya berjeret A tanpa cacat.

“Aku ngga mau mengecewakan orang tuaku dikampung halaman, pokoknya bagaimanapun juga semester ini nilaiku harus membuat mata orang tuaku terpesona. Biar aku cepat lulus atau biar uang jajanku bertambah atau malah bisa merengek dibelikan motor baru atau mobil baru, biar cewe-cewe dikota ini semakin lengket dibawah ketiakku.” Ini mungkin dibenak sebagian mahasiswa sekarang.

Persetanlah dengan ilmu toh sekarang orang lebih menghargai nilai dibandingkan ilmu, lebih hormat kepada orang yang memiliki jejeran gelar diawal dan diakhir nama mereka dibandingkan otak encer tapi hanya lulusan S1 atau bahkan SMA. Tak penting apa isi otak mereka, yang penting bagaimana gelar menghiasi deret indah namanya.

Kita lihat apakah pemerintah menghargai para orang pintar negeri ini? Ngga, para orang-orang pintar dinegeri kita cenderung mengabdikan otak encernya kepada negara lain. Karena baginya hasil penelitian yang ia lakukkan dinegeri ini tidak akan dihargai. Cuma sekedar ucapan selamat lalu hilang dimakan rayap. Tak ada sekalipun bentuk hadiah ataupun tanda penghargaan berupa materi ataupun benda yang mampu membuat ilmuwan semakin bersemangat meneliti.

Bukannya meanggap para ilmuwan itu matre, yang hanya butuh materi dan tak mau berkorban demi bangsanya. Tapi ketika biaya hidup semakin hari semakin menghimpit, tanggungan keluarga semakin banyak dan kompleks, biaya pendidikan hingga kesehatan melambung tak terjangkaukkan lagi. Apakah mereka masih bisa idealis meneliti dan menemukan sesuatu dengan otak mereka yang encer lalu setelah itu, hanya dianugerahkan secarik kertas, ucapan terimakasih, plus senyum manis sebagai pemanis ketika berjabat tangan. Orang bodohpun tak ingin seperti itu, jadi wajarlah mereka lebih senang mengabdi kepada negara lain walaupun dihati kecil mereka sangat mencintai negara ini.

Lalu ketika para orang-orang pintar dinegeri ini bermigrasi keluar negeri, lantas siapa yang membangun negeri ini? Ya tentu jawabannya para orang-orang bodoh. Orang-orang yang meraih nilai dan gelar dengan cara apapun dan bagaimanapun. Entah uang melayang ratusan juta ketangan rektor atau mobilnya diparkirkan kehalaman rumah dekan agar lulus dengan nilai yang meyakinkan. Agar ketika masuk kepemerintahan dengan meyakinkan pula ia tersenyum lebar bahwa akulah para jenius negeri ini yang memiliki nilai dan gelar selangit diusia yang relatif muda.

Setelah masuk kedalam surga pemerintahan para orang bodoh inipun masih melakukan hal bodohnya. ‘Aku masuk kedalam sini mengeluarkan uang yang tak sedikit, memasukkan uang tebal kedalam kantong kepala kantor. Jadi sudah sewajarnya aku mengambil lagi sesuatu yang sudah menjadi hakku.’ Mungkin itu sedikit kelekar para orang bodoh negeri ini.

Dia dengan mudah mengatakan uang yang ada dihadapan mereka adalah hak mereka. Padahal itu adalah hak para penghuni bawah jembatan yang ketika musim hujan ikut kebasahan karena air sungai meluap, itu adalah hak para pengamen jalanan, yang ketika siang, kepanasan, dan ketika malam, kedinginan. Itu adalah hak para fakir miskin yang setiap harinya kelaparan dan makan dari bekas makanan yang kau anggap sangat menjijikan. Hakmu? Dari mana kau berpikiran seperti itu. Ow yaa, maaf! Aku lupa kalau kalian adalah para orang bodoh terbaik negeri ini. Para orang bodoh yang telah mendapatkan sertifikat mengagumkan dari universitas terkenal. Maaf aku terlampau bodoh untuk mengenal kalian dan memahami maksud jalan pikiran kalian.

Siapa yang mau menangis denganku ketika para bintang hanya mengejar nilai dan gelar?

Ahh, sepertinya tulisan yang ku buat sudah mulai ngaco, aku mabuk karena kebanyakan makan tape, sehingga tidak sadar akupun demikian. Aku terlalu naif, aku dengan sok dewanya mengatakan seperti itu, aku dengan laga yang sok suci menuliskan ini semua, aku sudah merasa menjadi seorang malaikat bersayap indah, yang perkataanku selalu benar dan selalu menuruti perintah tuhan Akulah makhluk yang tak pernah salah, tak pernah cacat dan tak ada noda cela sedikitpun ditubuhku. Aku merasa demikian, bahkan perasaan ini telah mendominasi dan menyembunyikan akal sehatku.

Karena akupun demikian, akupun melakukkkannnya, akupun sama seperti dirinya,  aku hanyalah seorang hypocrite yang ingin terlihat putih padahal aku hanya seorang abu-abu bahkan hitam menurut sebagian orang.

Dengan mudahnya aku mengatakan, aku kecewa pada generesai sekarang yang mementingkan nilai dan gelar. Padahal aku amat kecewa ketika teman karibku mendapatkan nilai lebih tinggi daripadaku, aku akan sedih ketika temanku yang duduk dibelakang ketika ujian beruntung mendapatkan nilai yang tinggi, Atau ketika nilai khsku dipenuhi dengan C dan D  akupun akan sangat murung, atau ketika nilai finalku  dibawah standar yang ada, aku akan sangat murka.

Wahh betapa munafiknya aku menuliskan panjang lebar tentang kekecewaan para pemburu nilai dan gelar. Sedangkan akupun tak jauh berbeda dengan mereka, akupun acap kali menghalalkan segala cara ketika ujian, celingak-celinguk kiri-kanan, lempar kertas berharap ada yang mengisikan jawaban, membuka catatan lalu mata waspada melihat gerak-gerik pengawas diujung sana. Ternyata aku tak jauh berbeda dengan para orang bodoh terbaik negeri ini, ataukah aku adalah bakal penerus mereka. Para makhluk yang miskin hati nurani.

Apakah semua orang penulis ingin terlihat baik disemua tulisannya, ingin terlihat putih dan tanpa cacat dihasil karyanya sendiri. Ya jelaslah, kalo bukan dihasil karyanya sendiri maka dimana ia bisa menjadi seorang pahlawan atau seorang berhati malaikat. Kasihan memang, seperti diriku ini, yang ingin terlihat baik setidaknya ditokoh buatanku sendiri.

Bolehkan aku berpendapat sedikit, terkadang seorang penulis itu hypocrite terhadap keadaan aslinya. Ahh  masa seperti itu? Atau jangan-jangan aku saja yang seperti itu. Aku saja yang menuliskan kebaikan dan kecewa kepada keburukan sedangkan wujud aslinya adalah para monster yang mengerikan.

Aku hanya bisa terpaku didinding kamar, apakah kelak negeri ini akan dipimpin kembali oleh orang bodoh negeri ini—seperti aku—atau orang bodoh itu bisa merubah dirinya lebih baik didetik-detik terakhir ketika hati nurani akan tertutup dan terkunci selamanya.

Iklan

12 thoughts on “Siapa yang mau mengangis bersamaku?

  1. Saya rasa tidak mungkin sampai terjadi semua mahasiswa kerjanya hanya belajaaaaar melulu. 😀 Saya yakin pasti mahasiswa akan selalu terbagi ke dalam dua bagian, yang kutu buku (tak acuh dengan kegiatan politis) dan yang hobi kemahasiswaan (lawan dari kutu buku). 🙂

  2. inilah realitas yg juga bikin saya prihatin sejak lama. Cuma, dulu di radio saya bikin acara parodi, nyindir2 juga ‘kaum intelektual wannabe’ ini, yg tiba2 pethenthengan dgn gelar yg ‘ujug2’, yg gak pernah ngrasain proses naturalnya spt gimana ngrasain duit habis di kos, capek ngejar nilai, down ketika IP turun, sulitnya konsultasi ke dosen dll. Akibatnya, ketika mereka jadi ‘some one’ di negeri ini yg punya jabatan, yg dihasilkan mereka juga gak ada kualitasnya! Rasa instan, doang! Dan parahnya, di daerah saya, banyak para pendidik yg juga ‘kegatalan serta kejangkit’ penyakit ini…

  3. Segenap Keluarga Besar Ejawantah’s Blog mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1432 H.Taqobballahu Minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.

    Semoga segala amal perbuatan kita di bulan suci Ramadhan diterima disisi Allah SWT dan kembali kepada fitrahnya.

    Seiring salam dengan kerendahan hati kami berharap sudikiranya sahabat menjemput kartu ucapan dari kami di
    http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/08/kartu-lebaran-idul-fitri-1432-h-untuk.html#comments

    Sukses selalu dan salam untuk keluarga.
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s