Melawan dengan Kata, Bukan Angka

Ijinkan aku berontak dengan keluh kesahku. Malam ini memang terasa sepi, menyendiri dirumah yang berada dipojok komplek. Suara serangga malampun hanya terdengar sayup-sayup penuh kehati-hatian. Seakan memahami kondisiku yang sedang dijamah oleh pikiran kalut akibat sesuatu yang pernah aku kusai, aku rajai dan aku kangkangi tanpa ampun.

Ya dimalam ini aku benar-benar bingung dengan suatu cabang ilmu yang pernah aku sukai. Entah sejak kapan aku mengenalnya, yang jelas ketika aku masih makan disuapi mama hingga umurku yang telah kepala dua, masih saja makhluk satu ini memenuhi ruang kosong dalam otak ini, masih saja aku jumpai baik disaat tepat maupun disaat aku ingin mengumpat, masih saja aku temui disaat aku lebih cenderung menyukai kata dibandingkan angka.

Makhluk ini selalu saja hadir ketika aku menuntut ilmu dimanapun, dari TK hingga Mahasiswa. Dari baru mengenal angka hingga integral yang memusingkan mata. Ahh, entahlah sampai kapan aku akan talak 3 dengan makhluk seperti ini. Tapi sepertinya aku tak pernah bisa memutus hubunganku dengan ia, karena segala aspek kehidupanku akan selalu berdampingan dengan angka. Aku akan menghitung gaji diawal bulan, menganggarkan segala kebutuhan dengan cermat, mengalokasikan segala kejadian yang tak terduga, hingga mungkin pekerjaanku yang berhubungan erat dengan angka yang selalu saja membutuhkan ketelitian dan energi yang dibutuhkan oleh otak. ahh lagi-lagi harus menambah karbohidrat dan lemak agar otak ini bekerja dan bercinta dengan nyaman dengan kekasihnya yaitu Angka.

Akan tetapi bukan berarti aku membenci makhluk ini, bukan berarti aku menyerahkan segala harga diriku pada makhluk yang penuh kepastian ini. Tidak, aku bukan tipe orang yang gampang menyerah oleh sesuatu sepele seperti ini, aku tak akan membiarkan dia menjamahi dan menertawakan ruang diotakku yang penuh dengan potensi.

Setidaknya dulu aku pernah menggagahi ia, sampai ia menyerah dan mengangkat bendera putih dengan nilai hampir sempurna dirapot SD dan SMPku, aku pernah menguliti ia dan kuhisap dalam-dalam sari patinya hingga rasa pahit kurasakan seperti madu yang tak ada habisnya. Aku keranjingan menaklukkan angka, aku candu dengan barisan koma, Pythagoras, hingga luas bangun beraneka rupa. Aku telah memperkosa soal ujian nasional dengan membabi buta tanpa ampun, hingga dengan rela ia menyerahkan nilai yang membanggakan untukku, aku telah membombardir keluarga dan antek-anteknya hingga ia menjerit ampun.

Tapi itu dulu! Sekarang? Sekarang ia menang telak TKO,  ia telah berwujud seperti monster yang mengerikan dengan barisan Integral, cos sinus, persamaan deferensial, hingga rumus-rumus yang menjadi senjata andalannya melawanku. Ia gantian menelanjangiku dengan kebodohan, ia menertawakanku hingga air matanya keluar, ia merendahkanku seperti tikus got yang mencari mangsa. Bertemu dengan dirinya 5 menit saja aku sudah bingung, menjalani waktu dengannya satu jam saja aku sudah muak. Ia menang dan ia tertawa terbahak-bahak.

Maafkan aku Aristoteles aku tak mampu menaklukkan kesombongan makhluk ini disaat otakku sedang cemerlang dan penuh energi, maafkan aku Galileo aku tersungkur diumur ketika engkau mepercundanginya dengan penuh kebanggaan. Ahh aku malu dengan pendahuluku yang mampu menjadikan makhuk ini menjadi budak.

Hanya ada satu cara ketika engkau tak mampu menaklukkan ia, jatuh cintalah kepadanya hingga ia mau membuka hatinya untuk anda. Begitulah mungkin kata-kata bijak yang coba menggaungi isi kepalaku.

Sudah kawan! Aku sudah berusaha mencintainya, berusaha mengencaninya dan membawakan seikat mawar semangat yang kusirami dengan air niat setiap pagi, akan tetapi ia tak mampu untuk luluh, ia terlalu sombong dengan senjatanya yang telah menghujam isi kepalaku. Aku telah membacakannya berbait-bait sajak-sajak angka yang sengaja ku ingat sebelum tidur dimalam-malam sebelumnya, tetapi ia tak bergeming dengan puisi murahan itu. Aku telah mencoba menyanyikan barisan teori yang pernah ditemukan oleh para penemu masa lampau, tetapi ia tetap saja menampakkan muka jutek seakan tak mau menerima kehadiranku didekatnya.

Baiklah jika mau mu demikian, aku akan terus mencoba membuka hatimu, walaupun aku tak tau kapan engkau membukanya dengan kunci yang telah lama berkarat dan ganggang pintu yang telah dijadikan sarang oleh laba-laba hitam. Tapi dimalam ini aku cuma meminta denga tulus semoga besok dalam mid test kamu menyerah dengan ku ketika aku menjawab teka-teki dalam hidupmu, duhai Matematika!

Iklan

2 thoughts on “Melawan dengan Kata, Bukan Angka

  1. Hahaha, Emang hidup kita tidak akan bisa lepas dari angka. Saat ngetik nih komentar pun aku harus berhadapan dengan angka yang ada di keyboard. Mau tak mau kita harus menyukai angka toh. Tinggal seberapa dalam kita menguasai permainan angka untuk mencapai perhtungan yang cermat dan tepat…

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s