Metamorfosiskan dirimu

Sungguh tidak mudah merubah diri kita menuju apa yang kita harapkan, bahkan untuk menjadi seekor kupu-kupu yang menawan harus melalui proses yang berliku dan panjang. Ketika menjadi ulat, ia merayap didahan kering dan dedaunan untuk mencari makan dan bila tidak beruntung bisa saja ulat tersebut dimakan oleh burung atau serangga pemangsa. Tragis memang, tapi inilah hidup. Selalu ada rotasi rantai makanan yang begitu sempurna. Tanpa skenerio, apalagi sutradara handal.

Setelah menjadi larva ia pun harus bersabar ketika fase kepompong menjemputnya. Ia harus menjalani istirahat panjang tanpa rasa jenuh dan bosan, menahan diri dari hal yang menyenangkan, berpuasa dari nikmat hijaunya dedaunan dan terus bertahan ketika terik matahari menyerang, menahan tusukan dinginnya malam, dan bahkan tak jarang hujan menghujamkan disekujur kepompongnya. Ia tetap kokoh bertahan hingga waktu yang cukup panjang.

Mereka memang terlihat seperti istirahat tapi disanalah proses pembentukan serangga yang sempurna, disanalah tahap pendewasaan diri yang menawan. Disanalah proses pengujian kesabaran untuk menjadi kesempurnaan. Setelah keluar dari kepompongpun, kupu-kupu akan bersusah payah merangkak keatas ditambah dengan sayapnya yang lemah, kusut dan agak basah. Lagi-lagi diperlukan kesabaran agar sayapnya mengering dan mengembang secara sempurna.

Setelah semua fase dijalaninya dengan sempurna muncullah sosok hewan yang indah, penuh warna, dan mempesona. Menabjubkan mata, dan menghipnotis indra. Ketika kupu-kupu mengepakkan sayap dengan penuh kelembutan ia telah mengalihkan pandangan dunia

dengan aksinya yang menawan, mengeluarkan seluruh gejolak keteduhan. Memberi kesegaran pada retina yang selama ini

hanya dijejali tontonan yang menjemukkan.

Itulah yang dilakukan kupu-kupu untuk menawan, butuh pengorbanan, dan terus bersabar. Sedangkan manusia? Tentu harus lebih dari itu. Untuk menjadi manusia menawan kita tak cuma hanya bisa mengkhayal dan dengan sekejap mata akan menjadi sosok pribadi sempurna.

Kita harus ditempa dengan hari-hari yang keras, kita harus berlatih digejolak permasalahan hidup, kita harus bertahan pada hinaan dan celaan para lawan. Tak mudah untuk menjadi tampil menawan, bagaikan kupu-kupu kita perlu waktu bersabar, karena semua akan indah pada waktunya. Kapan itu? Jangan pernah tanyakan waktu pastinya karena bila kita telah mendapati hakikatnya. Proses yang kita jalani itulah sumber dari kebahagiaan kita.

Bukankah tuhan tidak menilai kita dari hasil akhir, tapi tuhan menilai kita dari proses. Ya proses yang berliku dan penuh jalan curam.

Sebagai analogi sederhana, akan sangat biasa dan standar jika pemain bola menendang bola dijarak  5 meter dari gawang ditambah tak ada kiper yang menjaganya. Bagaimana perasaan pemain itu. Ahh, anak berumur 5 tahun pun bisa melakukkannya.

Berbeda jika ketika pemain itu membawa bola dari tengah lapangan, sendirian saja, melewati beberapa pemain tengah dengan skill dan kecepatan yang menawan. Ketika dihadang oleh pemain belakang, ia melakukkan tipuan dengan kaki kiri yang tak disadari lawan, dan dalam sudut sempit menembakkan bola kearah gawang. GOLLLL. Kiper hanya tercengang karena lesatan bola yang luar biasa.

Bagaimana perasaan pemain itu? Bahagia? Tentu. Bangga? Pasti. Begitulah hidup sudah saatnya kita menuikmati proses dan berusaha untuk memaksimalkan hasil.

Menjadi manusia lah meski itu tak mudah, karena tak selamanya manusia mampu berlari. Terkadang kita jatuh dan tertatih menuju tujuan.

“Bergerak berkali-kali karena hidup hanya sekali” begitulah kata-kata seorang sahabat yang juga menjadi penutup cerita ini.

Metamorfosiskan dirimu, karena dirimu akan semakin tua, sedangkan kedewasaan belum tentu mengiringinya.

Iklan

4 thoughts on “Metamorfosiskan dirimu

  1. Seep!
    Sesekali kita perlu bertapa di gua dulu buat merenungkan hidup dan intropeksi diri, setelah itu kita keluar menjadi kupu-kupu, gitu kan mas?
    hihihi… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s