Siapkah Kalimantan Menjadi Ibukota Negara?

Tulisan ini telah dimuat di harian Radar Banjarmasin pada hari Kamis, 16 Mei 2019. Berisi pandangan saya mengenai wacana pemindahan ibukota negara ke luar Pulau Jawa.

***

jakarta night viewRapat terbatas digelar Senin (29/04) dipimpin presiden dan wakil presiden, dihadiri jajaran Menteri Kabinet Kerja dan sejumlah kepala daerah, mengangkat tema yang senantiasa timbul tenggelam, yaitu pemindahan ibu kota negara.

Pertanyaan mendasar yang harus terjawab lebih dahulu, seberapa urgensi untuk memindahkan ibukota negara? Sejak zaman penjajahan wacana itu telah ada, studi kesehatan di kota-kota pantai Pulau Jawa oleh Hendrik Freek Tillemia, hasilnya menyimpulkan bahwa kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa dianggap tak sehat. Hal ini dikarenakan kota tersebut umumnya berhawa panas, tidak sehat, dan mudah terjangkit wabah penyakit.

Tetapi nyatanya Jakarta tetap digdaya setelah puluhan tahun Indonesia merdeka. Jakarta menjadi pusat, menarik segala hal untuk melekat, entah untuk hal-hal yang positif maupun negatif. Masih mampukah Jakarta mengemban ini? Jakarta mulai tertatih untuk terus menjadi ibukota negara sekaligus pusat ekonomi Indonesia. Jakarta sudah tidak layak, banyak dari kita menjawab demikian.

Segenap permasalahan telah menghinggapi Jakarta jauh sebelum hari ini, banjir yang terus terjadi, kemacetan yang tak bisa dielakkan, kepadatan penduduk yang tinggi, kota yang penuh polusi udara. Lahan yang menipis, menjadikan harga tanah melambung, masyarakat kecil tak mampu memiliki hunian, hingga berbagai kesemerawutan yang membuat manusia Jakarta menemui dua pilihan, menjadi ekstra sabar atau menjadi depresi. Continue reading “Siapkah Kalimantan Menjadi Ibukota Negara?”

Iklan

Untitled

Mungkin ini adalah salah satu pemaksaaan dalam hidup ini, sudah terlampau lama aku tidak menulis dengan gayaku sendiri. Selama ini aku membaca terlalu banyak data, sehingga ingin semua informasi itu aku masukan. Hingga aku lupa, dimana batas antara referensi dan tulisan yang aku buat sendiri. Aku seakan membuat skripsi, memindahkan data ke dalam sebuah tulisan yang berlaga ilmiah tetapi miskin sekali keingintahuan. Ya pembaca tak ingin tahu apa yang aku tulis, aku seperti melukis sebuah benda yang kaku, tak ada keindahan, tak menarik untuk diperhatikan.

Banyak data yang aku sajikan, tetapi semua itu berisi kekosongan, mungkin saat ini semua orang muak akan data. Seakan data dapat diproduksi siapa saja, semua orang berbicara berdasarkan data dan fakta, tanpa pernah kita sadari bahwa hal itu benar-benar nyata atau sekedar kenyataan yang dibuat-dibuat tak ubahnya variabel statistik yang membuang data-data outlier yang akan merusak kurva linier atau eksponensial.

Aku tak menyebut data saat ini merupakan dusta atau fakta yang diambil dari sebuah sudut pandang tertentu. Semua bisa mengaku kebenaran, berasal dari sumber valid, tetapi semua orang mengakui telah mengetahui sebuah fakta, telah membaca sederet data, hingga tak mempercayai fakta yang bersebrangan, tak ingin tahu data versi lainnya.

Sehingga di titik ini, mungkin semua orang muak dengan data, tak peduli akan sederet angka hasil formulasi, lelah untuk membaca barisan informasi dari sumber ini dan itu. Aku pun demikian, telah sekian lama aku membaca fakta-fakta, tetapi semakin membaca aku semakin malas untuk menuliskannya. Seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Semakin aku menyisihkan data, semakin data itu seperti menjadi sampah. Sehingga di suatu titik aku enggan untuk kembali lagi mengais sampah itu.

Aku tetap berusaha menulis sesuai fakta, berdasarkan data, berdasarkan referensi yang valid tetapi aku tak ingin lagi terperdaya sehingga aku takut untuk menulis seperti gayaku. Kemarin aku merasa, untuk membuat tulisan yang bagus harus berasal dari bahan-bahan yang terbaik, tetapi ternyata aku salah, semakin aku mencari yang terbaik, aku semakin masuk ke dalam labirin yang menyesatkan diriku sendiri, sehingga aku lelah untuk memulainya.

Aku berusaha untuk melepaskan ini semua, walaupun menulis bukan lagi sesuatu yang menarik lagi ketika semua orang bercerita langsung melalui video. Tetapi menulis bagiku masih memiliki magnet sendiri yang membuat kita larut, hanyut, dan tenggelam pada suatu momentum yang membuat waktu seakan berhenti dan berlari begitu cepat di waktu yang sama.

Ya aku tidak peduli, menarik atau tidak tulisan yang aku posting ini.

Palmerah, 29 Maret 2019.

Pujian Banjarmasin dalam Gerakan Indonesia Bersih, Apakah Pantas?

Tulisan ini telah dimuat dalam media online jejakrekam.com pada edisi 28 Maret 2019

***

Animasi SampahPada tanggal 21 Februari 2019 yang lalu telah diperingati sebagai Hari Perduli Sampah Nasional, pada momentum tersebut diselenggarakan Rapat Kerja Nasional Gerakan Indonesia Bersih yang dihadiri oleh Kementerian/Lembaga, Gubernur, Walikota, Bupati serta para Kepala Dinas Lingkungan Hidup di Seluruh Indonesia. Gerakan Indonesia Bersih ini merupakan salah satu bagian dalam Gerakan Revolusi Mental yang telah ditetapkan dalam Instruksi Presiden No 12 Tahun 2016.

Ada satu hal yang spesial yang ingin penulis ceritakan mengenai rapat kerja nasional beberapa minggu yang lalu tersebut. Kegiatan yang diselenggarakan di Auditorium Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan  itu dibuka sekaligus launching Gerakan Indonesia Bersih oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. Pada saat memberikan pidato pembukanya Menko Maritim berkali-kali memuji Kota Banjarmasin sebagai kota yang patut dicontoh dalam kebijakan pengurangan sampah plastik.

Cukup lama sudah penulis tidak berkunjung ke Kampung Halaman di Banjarmasin, ketika nama kota ini disebut berkali-kali di level nasional timbullah kebanggaan yang membuncah di dada ini, bahkan Menko Maritim menganjurkan kepada pemerintah daerah yang ingin belajar terhadap kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik, tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, tak perlu mengeluarkan anggaran APBN untuk studi banding ke negara maju, cukup pergi dan lihat bagaimana Kota Banjarmasin telah sukses dalam menjalankan kebijakan dan mengedukasi masyarakat untuk membawa kantong belanja sendiri dari rumah ketika berbelanja di toko ritel dan supermarket. Sebagai gambaran Banjarmasin telah mentapkan Peraturan Walikota No 18 tahun 2016 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik dan telah diterapkan sejak 1 Juni 2016 yang lalu. Continue reading “Pujian Banjarmasin dalam Gerakan Indonesia Bersih, Apakah Pantas?”

Ada Apa dengan Tiket Pesawat Mahal?

tiket pesawat

Tulisan ini telah dimuat di harian Radar Banjarmasin pada hari Jumat, 1 Februari 2019. Berisi pandangan saya mengenai alasan tiket pesawat domestik yang mengalami peningkatan mencapai dua kali lipat akhir-akhir ini.

***

Libur natal, sekolah, dan tahun baru telah berakhir. Peak season yang membuat harga tiket melambung di dunia penerbangan seharusnya tak terjadi, tetapi pada kenyataannya, akhir-akhir ini harga tiket pesawat masih berlipat hingga mencapai dua kali lipat. Belum lagi akan diberlakukannya bagasi berbayar yang selama ini kita dapatkan secara cuma-cuma sebesar 20 kg.

Di dunia maya netizen ramai mengisi petisi meminta diturnkannya harga tiket pesawat, masyarakat banyak mengeluh moda transportasi yang sangat cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia, harganya meningkat tajam tak terjangkau lagi untuk masyarakat umum. Terlebih lagi mendapati fakta bahwa beberapa rute penerbangan internasional jauh lebih murah dibandingkan penerbangan domestik. Lebih baik berlibur ke Kuala Lumpur dari pada ke Bali kalau harga tiket seperti ini, seloroh salah satu netizen di halaman dunia maya. Bahkan, ada masyarakat yang rela transit di negara lain dan menginap di bandara demi bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Menganggapi hal ini penulis mencoba memberikan pandangan terkait permasalahan tiket domestik yang meroket ini, sebelumnya penulis ingin melakukan disclaimer bahwa pernyataan penulis bukan merupakan pernyataan resmi dari Kementerian Perhubungan, ini merupakan pandangan pribadi yang mungkin saja sejalan dengan pernyataan pihak pemerintah dan mungkin saja malah bertolak belakang. Continue reading “Ada Apa dengan Tiket Pesawat Mahal?”

Menanti Tanah Laut Menjadi Negeri Kincir Angin

Tulisan ini telah dimuat di harian Radar Banjarmasin pada hari Rabu, 14 November 2018. Berisi pandangan saya mengenai rencana pemerintah pusat untuk mengembangkan energi terbarukan berupa pembangkit listrik tenaga bayu di Tanah Laut, tanah kelahiran saya.

***

PLTA (1)

Tak selamanya energi fosil dapat menjadi energi utama untuk penyediaan listrik di Indonesia. Di samping karena energi ini sukar diperbaharui, bahan bakar ini menghasilkan emisi karbon yang cukup besar ke atmosfer sehingga berdampak pada peningkatan perubahan iklim di masa mendatang. Eksplorasi energi fosil yang masif juga berdampak pada perubahan bentang alam, pencemaran air dan tanah, serta perubahan psikologis masyarakat di wilayah kaya sumber daya alam ketika sumber daya alam tersebut telah habis dan ditinggalkan tanpa perbaikan lingkungan yang berarti.

Penggunaan energi fosil seperti solar dan batubara untuk penyediaan tenaga listrik ke depannya akan dikurangi dan perlahan digantikan dengan energi terbarukan. Target pemerintah, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran ditargetkan mencapai 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050.

Pemerintah telah banyak merencanakan untuk mengembangkan EBT sebagai energi untuk mensuplai listrik di Indonesia. Tak banyak memang jika dibandingkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), tetapi upaya ini perlu diapresiasi karena ketergantungan kita terhadap energi fosil turut menggangu kelestarian lingkungan dan EBT merupakan sumber energi masa depan yang tengah gencar dikembangkan oleh negara maju dengan menyasar sumber energi seperti matahari, angin, geothermal, gas, air, dan sampah. Continue reading “Menanti Tanah Laut Menjadi Negeri Kincir Angin”

Biodiesel B20, Beban Berat untuk Semua Harapan

Tulisan ini telah dimuat di harian Banjarmasin Post pada hari Kamis, 13 September 2018. Berisi pandangan saya mengenai kebijakan pemerintah mengenai Biodiesel B20 yang menjadi salah satu jalan untuk menangani pelemahan rupiah. 

***

B20.jpg

Nilai tukar rupiah atas dolar semakin menurun hingga mencapai 15.000 rupiah. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menggenjot ekspor dan mengurangi ketergantungan kita terhadap impor. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah dengan mempercepat implementasi Biodiesel B20.

Mungkin sebagian besar dari kita masih bingung dengan kebijakan yang diambil pemerintah, bagaimana bisa biodiesel B20 dapat menjadi salah satu solusi dalam pelemahan rupiah ditambah lagi sebagian besar masyarakat memandang kebijakan ini bermuatan politis. Hal ini dikarenakan, Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah asal Indonesia ditolak oleh Pasar Eropa karena parlemen Eropa telah melarang penggunaan CPO untuk biodiesel pada tahun 2021 dan kampanye makanan sehat tanpa minyak sawit di negara-negara Eropa.

Indonesia yang merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan luas perkebunan kelapa sawit 11,92 juta Ha pada tahun 2016 tentunya sedang memiliki surplus CPO yang besar dan mengalamai kebingungan untuk pemanfaatannya, pemerintah dengan gerak cepat mengambil kebijakan ini. Kita bersama perlu mengkritisi hal ini dan apakah kebijakan ini dapat berjalan dengan baik sesuai harapan banyak pihak.

Menurut definisi, Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan dari makhluk hidup (Bahan bakar nabati) dan dalam kebijakan ini B20 berarti mencampur biodiesel dari minyak kelapa sawit dengan solar melalui perbandingan 20 % : 80 %. Melalui pencampuran ini pemerintah dapat menghemat impor BBM sebesar 5-6 Milyar US$ dan tentunya dapat meningkatkan pemanfaatan minyak kelapa sawit domestik. Continue reading “Biodiesel B20, Beban Berat untuk Semua Harapan”

Sadarkah Makanan Kita Menjadi Sampah

Tulisan ini telah dimuat di media online geotimes.co.id pada hari Jumat, 24 Agustus 2018. Berisi pandangan saya bahwa kita acapkali membuang makanan kita dengan berbagai alasan. 

***

food waste

Saat ini ada sebuah kebiasaan yang mungkin secara sengaja atau tidak pada suatu acara atau di tempat makan untuk tidak menghabiskan makanan yang kita ambil. Hal ini karena  ada anggapan bahwa yang melicinkan piring hingga tandas adalah prilaku orang rakus atau sedang kelaparan. Bahkan dianggap ‘tidak pernah’ makan, makanan yang enak. Maka dari itu, terkadang kita menyisakan makanan sesendok untuk menjaga gengsi kita, walaupun sebenarnya perut ini masih sanggup untuk menampung satu sendok tersebut.

Tak mengherankan jika menurut studi The Economist Intelligence Unit pada tahun 2016, Indonesia sebagai negara yang memproduksi sampah makanan nomor dua terbesar di dunia, sebanyak 300 kg per tahunnya. Kita mengungguli negara yang memiliki pendapatan kapita besar seperti Amerika Serikat yang membuang sampah makanan 277 kg dan hanya kalah kepada negara kaya dengan minyak yaitu Saudi Arabia dengan produksi sampah makanan mencapai 427 kg per tahunnya.

Hal ini menandakan bahwa gaya hidup masyarakat kita cenderung lebih konsumtif dan rendahnya kesadaran dalam bijak memperlakukan makanan.Terlihat di media sosial, kita begitu bersemangatnya memesan makanan dan mengabadikannya dalam foto, tanpa tahu nasib akhir makanan yang kita pesan masih banyak yang bersisa dan tidak sanggup untuk dihabiskan. Continue reading “Sadarkah Makanan Kita Menjadi Sampah”