Cat 19 – Untuk Apa Menuliskan Kalimat Bijak

DP-BBM-Kata-Bijak-TerbaruKali ini aku tergerak untuk menuliskan sesuatu yang kerap aku lakukan dan mungkin banyak orang lakukan pula, yaitu, menuliskan kata bijak, harapan, penyemangat maupun motivasi di akun sosial media. Salahkah ini? Aku memikirkan hal ini cukup lama.

Mungkin banyak alasan mengapa banyak orang melakukan hal ini. Agar orang lain mengira bahwa diri ini adalah orang yang arif dan bijaknsana. Bukankah sesuatu yang melekat pada diri ini dapat menjadi cerminan diri, dengan menuliskan kata-kata bijak, mungkin saja orang tersebut ingin dianggap bijak pula oleh orang lain atau setidaknya menjadi pribadi yang dapat menangkap hikmah dari segala kejadian dalam hidup.

Adapula yang beralasan untuk menyembunyikan kelemahan atau keadaan terpuruk yang sekarang sedang dialami. Inilah alasanku kerap menuliskan kata bijak, penyemangat di sosial media. Aku merasa hidup yang sedang terpuruk, tak layak rasanya di umur yang sudah dewasa ini menuliskan keluhan untuk orang banyak. Maka dari itu aku menuliskan kata bijak, agar aku menyemangati diriku sendiri. Agar aku mendapatkan pompaan semangat dari kata-kata artifisial yang sebenarnya menipu diri sendiri.

Inilah mungkin alasan mengapa orang lain menuliskan kata bijak di sosial media miliknya. Di fase ini aku mulai memikirkan, apakah benar-benar berpengaruh aku menuliskan kata bijak tersebut, dengan perubahan yang terjadi di hidupku, ternyata tidak juga. Aku masih saja seperti ini, ya, tak ada perubahan rasanya. Continue reading “Cat 19 – Untuk Apa Menuliskan Kalimat Bijak”

Overthinking

Ada satu hal yang menjadikan hidupku terus mengalami kegelisahan, sebagian kalian mungkin mengetahuinya, sebab kegelisahan, pintu dari masalah yang aku hadapi kini. Tak berwujud tetapi selalu menemaniku di saat-saat seperti ini, dengan setia.

Aku mengerti, mungkin aku hanyalah seorang yang bermental lemah, pengecut yang bermimpi menjadi pemimpin, pemimpi buruk yang ingin dikenal dunia. Dan tak ada usaha besar yang pantas aku banggakan agar aku menjadi orang yang besar.

Mungkin aku yang terlalu pandai atau aku yang terlalu banyak waktu. Aku memikirkan hal itu lebih dari semestinya, seakan dengan memikirkan akan menyelesaikan masalah. Ternyata tidak, overthingking menjadikan hidupku semakin gelisah, tak bergariah. Segala hal yang aku lakukan terselip pikiran buruk ini. Makanku tak lagi kegiatan makan, dipikiranku. Tidurku terganggu dari kenyamanan yang seharusnya aku dapatkan, perjalananku hanya menghasilkan lelah dan pikiranku masih saja penuh.

Tentu saja yang aku lakukan ini tidaklah menyelesaikan masalah. Menambahnya malah mungkin, aku seperti anak kemarin sore yang baru saja memecahkan vas bunga mahal milik orang tua temanku. Ketakutan, kusembunyikan pecahan vas itu di balik lemari, berdoa semoga temanku, orang tuanya atau pembantunya tak mengetahui, atau setidaknya tak menyadari hilangnya benda indah di meja makan sampai aku pulang nanti.

Hari demi hari hanya tumbuh rasa pesimis, yang seakan aku pupuk dan rawat ia hingga menjadi subur. Ketakutan menjadi teman sehari-hariku. Ia berwujud seperti makhluk tinggi besar yang gelap, memelukku dengan erat. Hingga aku tak melihat apa-apa, tak kutemukan jalan keluar, dan hilangnya cahaya dari arah mana saja.

Mungkin di titik akhir aku mengalami stres. Sebuah situasi yang mana aku sering bersisian dengan tekanan, tak menjadikan aku seperti panci bertekanan yang kuat, melainkan menjadi kulit telur yang terasa rapuh dan ringkih. Entahlah mungkin terlau berpikir berlebihan membutakan segala hal

Dunia tanpa Suara

Rasanya benar-benar enggan untuk meninggalkan dunia menulis sementara waktu. Besar keinginan untuk terus menulis di blog ini, walaupun hanya tulisan pendek tanpa makna.

Aku membayangkan sebuah dunia yang tak ada suara. Segala hal dilakukan dengan jalan menulis. Percakapan pendek, memesan makanan di cafe, mengajar di depan kelas, mendukung klub sepak bola. Semua itu dilakukan dengan tulisan. Tanpa ada kata yang terucap, tak ada umpatan dan makian yang terdengar kasar, semua dunia begitu tenang.

Tetapi dari semua itu aku melihat begitu banyak tulisan yang berhamburkan. Membuat mata ini bingung, tulisan mana yang layak dibaca dan mana yang sama sekali tak perlu untuk ditengok. Begitu banyak arus informasi yang datang, perhatian terpecah oleh banyak hal.

Seseorang yang dulunya begitu banyak omong, menjadi banyak menulis. Membagikan apa saja, tak perduli benar atau salah. Baginya kunci sukses adalah menonjol dari yang lainnya. Dia tak mengetahui, bahwa dia sukses terlihat bodoh di mata orang lain.

Dan tak lama kebosanan pun datang. Semua orang enggan membaca, mematikan handphone mereka, televisi, laptop bahkan menutup kotak surat di depan rumah. Semua orang bosan membaca dan merindukan untuk mendengar suara. Dan selanjutnya segala hal terulang kembali, dan kembali.

Mengembalikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 11 Juli 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap kondisi sungai di Kota Banjarmasin yang sekarang cukup memprihatinkan, dikarenakan hilangnya jiwa ‘sungai’ yang dimiliki masyarakat Banjar tempo dulu.

 ***

Parade-Kelotok-RPA-Kalsel-di-Sungai-MartapuraDulunya Kota Banjarmasin menjadi kota terpandang karena suangainya. Banjarmasin menjadi bandar pelabuhan untuk kapal-kapal dari jawa, arab dan singapura yang berlabuh di Pulau Kalimantan. Pada masa itu keberadaan sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan masyarakat dari berbagai wilayah. Di samping itu aktifitas perdagangan sehari-hari juga diselenggarakan di sungai, aktifitas jual beli yang masih tersisa di atas sungai kini lebih terkenal sebagai pasar terapung. Dan seiring waktu para pedagang pun mulai berkurang, budaya asli Kota Banjarmasin yang menjunjung tinggi keberadaan sungai perlahan mulai mati ditinggalkan.

Pandangan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai dulunya terlihat jelas dengan banyaknya masyarakat membangun rumah panggung yang dibangun berdampingan menghadap sungai dan juga rumah-rumah lanting (rumah terapung) yang berada di atas tepian sungai. Sungai pada masa itu juga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan konsumsi air minum. Sehingga wajar saja, sungai bagi Masyarakat Banjar tempo dulu ibarat sebuah rumah dan jiwa yang harus selalu bersih dan lestari. Continue reading “Mengembalikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai”

Efektivitas Larangan Kantong Plastik

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Selasa, 19 Juli 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap kebijakan Pemrintah Kota Banjarmasin atas larangan memberikan kantong plastik kepada konsumen di toko ritel dan modern.

***

larangan kantong plastikBeberapa kota besar di Indonesia yang beberapa waktu lalu menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar kini kembali menggratiskan kantong plastik di pasar modern maupun ritel. Penerapan kantong plastik berbayar yang bertepatan dengan peringatan Hari Perduli Sampah Nasional, pada tanggal 21 Februari 2016 yang lalu hanya berumur tiga bulan saja.

Hal ini berdasarkan pada surat edaran yang ditandatangani antara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dengan bupati/walikota di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri bahwa program kantong plastik berbayar berlaku 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

Sehingga sejak 1 Juni, maka tidak ada payung hukum yang menaungi regulasi kantong plastik berbayar ini. Para pengusaha ritel dapat mengambil langkah yaitu dengan menghentikan atau melanjutkan program kantong plastik berbayar tersebut. Terbukti, di Kota Bandung, minimarket-minimarket kembali menggratiskan kantong plastik bagi konsumennya.

Akan tetapi kebijakan ini bukan berarti mengalami kegagalan setelah dilakukan uji coba. Pemerintah pusat sedang merancang peraturan menteri guna menindaklanjuti hasil penerapan kebijakan kantong plastik ini. Dengan kata lain, kantong plastik gratis yang kembali diberikan pengusaha ritel ini bersifat sementara menunggu regulasi baru di bawah Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Continue reading “Efektivitas Larangan Kantong Plastik”

Indonesia Tanpa Jakarta

jakartaTerpantik untuk menulis esai tentang Jakarta setelah membaca esai Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Jakarta Tanpa Indonesia’ yang termuat didalam buku kumpulan esai ‘Tiada Ojek di Paris’. Seno begitu anggunnya menggambarkan ringkihnya Jakarta—yang dipandang digjaya, oleh banyak orang—tanpa daerah yang menopang penghidupan kota pusat segala-galanya Indonesia ini.

Jakarta bagi manusia yang berasal dari daerah, terlebih yang berasal dari luar Pulau Jawa adalah sebuah kota yang gemerlapan, kilauan yang tak ada akhir. Cahaya yang mengundang laron untuk mengerubungi. Jakarta adalah gula, dimana semut dari penjuru rumah akan menghampiri, berkumpul, berdesakan. Jakarta bagi saya bukanlagi menjadi sebuah ruang, tetapi telah menjelma menjadi identitas yang tak tergapai.

Rasanya saya menjadi begitu inferior ketika berhubungan dengan Jakarta. Kota yang dipenuhi oleh gedung bertingkat, kompleksitas kehidupan, dan kemacetan yang tak terobati. Saya selau berpikir, Jakarta merupakan gambaran Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Jakarta merupakan pusat pemerintahan, pusat pengendali arus uang, kokpit dimana Indonesia menentukan arah tujuan. Continue reading “Indonesia Tanpa Jakarta”

[Cerpen] Kisah Duka Petani Miskin

petani miskinMenjadi petani adalah pahlawan bagi manusia lainnya. Dia menghidupkan kehidupan yang sebelumnya tiada, dengan penuh kesabaran ia menunggu, dan dengan penuh senyuman ia menuai. Tetapi tetap saja, nasib petani tak pernah lebih tinggi dari para pekerja kantoran.

Tak perduli pergi pagi dan pulang ketika matahari ingin tenggelam. Merelakan kulit yang terpanggang oleh matahari, sedangkan hasil panen yang didapat selalu saja diakali oleh tengkulak. Berlaga seperti malaikat, menampakan raut wajah penuh kesedihan bahwa harga gabah sedang hancur akhir-akhir ini. Dan kami, yang bodoh ini hanya mampu percaya, karena negeri ini lahir dari kejujuran rakyat yang sama-sama ingin merdeka.

Belum lagi sebagai petani miskin yang tak memiliki tanah untuk hidup. Hidup di antara belas kasihan dan kenyataan pahit hidup sebagai budak yang bekerja keras tanpa mendapatkan hasil yang sesuai atas keringat yang keluar.

Tuan tanah yang memiliki lahan berhektar-hektar luasnya, sejauh mata memandang masih belum bertemu ujungnya. Disanalah tempat kami, para petani miskin, mengiba. Mengadahkan tangan, menjual tenaga kepada para manusia yang menjadi sombong seakan telah memiliki seisi dunia.

“Susahnya hidup di negeri ini, tak ada bedanya kita merdeka dan dijajah. Kita masih tak bisa hidup layak. Hidungku masih dicocok seperti kerbau, dijalankan sekehendak hati seperti budak belian,” selalu ingat kata kawanku tersebut, ia mengeluhkan hidup yang tak berubah ketika negeri ini telah merdeka. Continue reading “[Cerpen] Kisah Duka Petani Miskin”