Tentang Sekumpulan Remaja yang Membuktikan Harapan akan Selalu Ada

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com pada hari Sabtu, 21 Juli 2018. Saya terharu dengan perkembangan proses penyelematan dari awal hingga akhir, sehingga semua korban dapat terselamatkan.

***thai cave.jpg

Ketika pertama kali diceritakan istri saya mengenai sejumlah anak remaja yang terperangkap di sebuah gua di Thailand, saya mulai mengikuti tagar thaicaverescue di twitter.  Awal-awal mengikuti ini pikiran logis saya menolak semua fakta yang ada. Mengapa seorang pelatih berani sekali membawa sekumpulan anak remaja itu pergi jauh ke dalam sebuah gua, mengapa ketika mendapati sebuah gua itu telah teraliri air mereka tidak lekas keluar—di awal saya mengira mereka hanya berteduh dari hujan yang begitu deras di luar sana, lalu mengapa mereka mampu bertahan hidup selama sembilan hari lamanya tanpa makanan, gelapnya ruang gua, pengap dan lembabnya udara di sana, dan kepanikan yang mungkin saja akan kita rasakan ketika berada di tempat seperti itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu sedikit demi sedikit terjawab ketika saya mengikuti #thaicaverescue. Sang pelatih bernama Ekapol Chanthawany—tepatnya asisten pelatih, karena sang pelatih pada hari kejadian sedang berhalangan hadir—membawa kumpulan anak remaja itu masuk ke dalam gua untuk melatih fisik dan mental mereka, terutama untuk melatih pernafasan mereka. Karena terlalu jauh masuk ke dalam lorong gua tersebut—pertanyaan kedua saya terjawab—tanpa  mereka sadari di mulut gua telah dibanjiri air sehingga mereka tidak mungkin lagi berbalik pulang, solusi logis, mereka harus mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelematkan diri.

Mereka terus mencari tempat yang lebih tinggi, terus masuk ke dalam. Saya ikut merasakan, bagaimana kepanikan mereka ketika harus beradu cepat dengan air yang masuk menenggelamkan seisi gua tersebut. Ketika mereka mendapatkan tempat yang aman, yang hanya seluas 10m2, di tempat tersebutlah mereka menghabiskan hari-hari mereka. 12 orang remaja berusia antara 11 hingga 17 tahun itu terus berharap ada orang lain di luar sana yang menyelamatkan mereka, membawakan mereka makanan, menghapuskan ketakutan mereka, dan membawa mereka dari kegelapan.  Continue reading “Tentang Sekumpulan Remaja yang Membuktikan Harapan akan Selalu Ada”

Iklan

Hoax, Minat Baca dan Clicking Monkey

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com Rabu, 11 Juli 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 

***

HoaxSetidaknya ada dua hal yang harus diwaspadai di dunia maya saat ini, yaitu berkata bohong (Hoax) dan ujaran dengan kebencian (hate speech). Dalam kasus Hoax, hal yang paling berbahaya adalah ketika informasi yang tidak benar menjadi alat pemecah belah keragaman masyarakat Indonesia. Hoax menjadi isu hangat saat ini ketika oknum tertentu memanfaatkan melimpahnya arus informasi untuk menyebarkan kebohongan, kebencian, bahkan fitnah di dunia maya.

Berita hoax ini pun makin meningkat karena masyarakat kita kehilangan tradisi tabayyun atau mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Berdasarkan hasil survei Unesco pada tahun 2011, tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001. Hal ini berarti hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki minat serius dalam membaca.

Kajian lainnya dari Central Connecticut State University pada  tahun 2016 mengenai World’s Most Literate Nations, dimana tingkat literasi masyarakat Indoensia berada di urutan 60 dari 61 negara. Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Botswana, negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk 2,1 juta jiwa. Continue reading “Hoax, Minat Baca dan Clicking Monkey”

Melaju Bersama Mobil Listrik

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Rabu, 9 Mei 2018. Merupakan pandangan saya terhadap pengembangan mobil listrik, sebagai upaya dalam pengurangan emisi kendaraan bermotor.

***

mobil listrikMasalah lingkungan telah menjadi isu menarik yang selalu diangkat dalam forum-forum global. Terutama dalam hal pemanasan global, Indonesia memiliki target untuk menurunkan 26% gas rumah kaca pada tahun 2020. Sebuah angka penurunan yang terbilang besar, mengingat kondisi saat ini, kita begitu sangat tergantung akan bahan bakar fosil dalam pemenuhan energi.

Dalam proyek pembangkit listrik 35.000 MW misalnya, dominasi ada pada pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan bakar batubara. Merupakan sumber bahan bakar yang sangat besar dalam melepaskan karbon ke udara. Begitupun di sektor transportasi, terutama pada kendaraan pribadi, kita tidak bisa lepas pada ketergantungan akan bahan bakar minyak (BBM).

Upaya pemerintah dalam diversifikasi energi dengan pemakaian gas dan bahan bakar nabati tidak berjalan secara maksimal. Lalu akankah target pemerintah untuk menurunkan gas rumah kaca menjadi hanya menjadi janji kosong belaka? Tentu tidak, segala upaya tetap digiatkan untuk mengurangi ketergantungan kita dengan energi fosil yang tidak dapat diperbaharui ini. Continue reading “Melaju Bersama Mobil Listrik”

Efek Korupsi dan Peran Kita

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Jumat, 13 April 2018. Merupakan pandangan saya terhadap maraknya korupsi di negara dan efek yang ditimbulkan baik dari sisi psikologis dan lainnya.

anti_corruption_by_edwiniwde-d4pemst

Hampir tidak habisnya berita mengenai KPK yang melakukan OTT kepada kepala daerah dan pejabat pemerintah. Kerja KPK kini tidak hanya menciduk pejabat-pejabat di Jakarta. Kini wilayah jelajahnya hingga ke level daerah. Pejabat daerah yang selama ini merasa aman hidup ‘berdampingan’ dengan oknum aparat penegak hukum, saat ini mulai was-was.

OTT KPK tak dapat diprediksi, waktu pertemuan dengan klien mungkin saja sudah dipantau, ruang gerak oknum pejabat korup mulai terasa sempit. Hingga Ketua MPR, Zulkifli Hasan sempat khawatir jika KPK terus melakukan operasinya, melakukan OTT kepada pejabat dan kepala daerah, maka suatu saat nanti semua pejabat akan habis menjadi tahanan KPK.

Sebuah kekhawatiran yang dangkal. Jika banyak pejabat korup, serakah, dan tak perduli dengan nasib rakyat untuk apa dipertahankan. Mengapa takut kehabisan pejabat yang mau mengurusi negeri ini. Sedangkan, setiap lima tahun sekali kita memilih pemimpin kita secara langsung melalui demokrasi yang kita banggakan.

Sebagian besar rakyat berpikir bahwa demokrasi adalah jalan keluar untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin yang unggul. Tetapi, sudah empat kali pemilu dan ratusan pilkada yang digelar secara langsung, melibatkan partisipasi seluruh rakyat, kucuran dana yang besar, dan sampai saat ini masih saja korupsi menjadi penyakit yang seakan masih belum ada obatnya.  Continue reading “Efek Korupsi dan Peran Kita”

Merantau

Sudah lama rasanya aku tidak bercerita di blog ini. Sudah jarang menulis, jika menulis pun, aku memfokuskan untuk menulis essay, supaya bisa masuk koran dan mendapatkan honorium. Hee. Masih sempit rasanya tujuanku menulis.

Merantau

Kesempatan ini aku ingin berbagi tentang merantau. Merantau bagiku bukan lagi menjadi sesuatu yang baru, karena sedari usia remaja aku telah merantau, pertama kali untuk melanjutkan SMA di luar kampung halamanku. Setelah SMA aku melanjutkan kuliah S1 di Banjarbaru, bisa dibilang ini pun merantau dan rasanya hidup begitu bebas karena jauh dari pantauan orang tua. Setalah lulus S1, aku kembali merantau ke Bandung untuk melanjutkan S2, menuntut ilmu ke tempat yang terbaik, pikiranku rasanya tak ada beban ketika memutuskan merantau untuk menuntut ilmu.

Tapi ketika memasuki dunia kerja, aku harus menghadapi kenyataan kalau aku harus kembali merantau. Kali ini bukan untuk bilang tahun. Aku harus meninggalkan kampung halaman untuk menetap, mungkin untuk selamanya. Berat rasanya, terlebih tujuanku merantau adalah Jakarta, kota yang aku benci selama ini. Kota yang membuatku frustasi ketika melihat kemacetannya di televisi. Kota yang kata orang begitu kejamnya dalam mengikis nurani, kota yang pribadinya hidup sendiri-sendiri.

Aku harus menjalani hidup di kota ini, kota yang seharusnya sudah tak mampu lagi menampung manusia yang datang. Tetapi tetap saja, tangannya masih saja membuka lebar kepada siapa saja yang mencari peruntungan. Manusia dibiarkan berdesakan, yang penting pusat uang tidak melayang kemana-mana. Manusia dibuat frustasi dengan membuang waktu berjam-jam setiap hari hanya untuk menuju ke tempat kerja.  Continue reading “Merantau”

Sampah Plastik yang Berumur Panjang di Laut

sampah lautSudah sejak lama kota kita mengemban city branding sebagai Kota Seribu Sungai. Walaupun jika dihitung secara kuantitas jumlah sungai dan anak sungai yang mengaliri kota ini tak mencapai angka seribu. Apalagi pada saat ini sungai-sungai di Kota Banjarmasin mengalami banyak permasalahan seperti: pendangkalan, kualitas air sungai yang menurun dari waktu ke waktu, hilangnya sungai/anak sungai akibat bangunan atau lahan permukiman, tidak lancarnya aliran sungai akibat tumpukan sampah maupun lumpur, dan longsornya tebing sungai.

Sudah banyak penulis yang mengkritisi permasalahan ini dengan berbagai sudut pandang dan solusi deskriptif untuk mengatasi permasalahan ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin lebih dalam membahas mengenai sampah plastik yang sering kali terlihat mengalir di sungai-sungai di Kota Banjarmasin. Jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak, bergabung dengan tumbuhan air, potongan kayu dan bambu yang mengalir menuju hilir dan bermuara ke laut. Permasalahannya sampah plastik tersebut akan berumur panjang, bahkan mungkin lebih panjang dari umur kita.

Pada awalnya sampah-sampah, terutama sampah plastik yang terdapat di sungai karena prilaku masyarakat yang masih membuang sampah mereka dengan sembarangan. Hal ini menjadi indikasi bahwa masih buruknya tata kelola sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat akan sampah di wilayah ini, baik itu di kota maupun wilayah hulu aliran sungai.  Continue reading “Sampah Plastik yang Berumur Panjang di Laut”

Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com Kamis, tanggal 28 Juni 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 
transpol***

Keberadaan transportasi berbasis online masih mengalami penolakan keras di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di daerah kita.  Pada awal Januari ini terjadi kejadian yang  terekam dalam video dan viral di media sosial, memperlihatkan sekelompok orang sedang mengejar seorang yang diduga pengemudi taksi online di area sekitar Bandara Syamsuddin Noor.

Walaupun sebelumnya telah terjadi kesepakatan bahwa taksi online boleh mengantarkan penumpang ke bandara, tetapi tak boleh mengangkut penumpang dari bandara. Tetapi tetap saja para pengemudi taksi konvensional masih waspada terhadap oknum pengemudi taksi online yang nakal dan nekat untuk menarik penumpang. Ditambah lagi, penghasilan mereka yang terus menurun semenjak hadirnya angkutan online ini.

Hal inilah yang mendasari kejadian beberapa hari yang lalu, sikap curiga para sopir taksi ini membuat mereka terkadang tidak rasional dalam bertindak. Melihat gelagat pengemudi mobil yang mencurigakan, mereka langsung mengambil tindakan yang cenderung represif. Pada akhirnya, seorang yang mereka curigai, mereka kejar seperti ingin menghakimi pelaku kriminal, padahal ia hanya ingin menjemput keluarganya. Akibatnya banyak komentar di media sosial yang takut dikira sopir taksi online ketika menjemput kerabat atau keluarga di bandara. Continue reading “Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?”