Menulis untuk Keabadian

Karena Hidup Penuh Cerita

Puisi untuk Anggota Dewan

with 11 comments

Prahara gedung baru

Dengan mudahnya engkau meminta gedung baru

Padahal gedung lamamu masih kokoh berdiri tegak

Seolah engkau tak melihat

Rakyat yang tinggal di bawah jemabatan yang sudah retak

 

Digedung baru engkau meminta fasilitas kolam renang dan spa

Tak cukupkah  gaji engkau yang puluhan juta

Hingga engkau memanfaatkan uang rakyat untuk kesenangan anda

Dan berhati-hatilah akan jutaan doa rakyat teraniyaya

 

Mati dilumbung padi

Mengapa harus ada bayi-bayi kekurangan gizi

Ditengah melimpahnya sumber daya alam negeri ini

Dimanakah anggota DPR sebagai penyalur aspirasi

Apakah mereka hanya tidur sambil mengelap liur basi

 

Mengapa kita tidak bisa menikmati kekayaan negeri ini

Sekarang saya baru menyadari

Kita ini seperti ayam mati dilumbung padi

Kita mati ditengah kekayaan negeri kita sendiri

 

Mewakili kesejahteraan

Kenapa rakyat harus kecewa

Ketika anggota DPR hanya tidur dan bolos kerja

Ketika mereka tak dapat mengemban amanah kita

Ketika gaya hidup mewah menjadi keseharian mereka

 

Bukankah anggota DPR perwakilan kita?

Ternyata hanya mewakili untuk mendapatkan kesejahteraan kita

Karena negara ini terlalu miskin

Hingga kesejahteraan negeri ini hanya bisa diwakilkan

 

Dengarlah tangisan kami

Pada saat kampanye engkau berjanji dengan bualan manis

Seolah-olah engkau pemimpin jujur dan idealis

Tapi setelah terpilih engkau menjadi sangat apatis

Tak menghiraukan rakyat mati akibat sembako gratis

 

Mengapa engkau tak menjalankan amanah kami

Kami disini sedang menangis

Karena kami menyimpan bom LPG 3Kg dirumah yang minimalis

Seakan-akan kami  menunggu kematian kami yang tragis

 

About these ads

Written by makhluklemah

Oktober 22, 2010 at 22:06

Ditulis dalam puisi

Tagged with , , , , , ,

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. selamat pagi …
    begitulah memang anggota dewan yang terhormat, makanya ada peribahasa “kuman diseberang laut tampak tapi gajah dipelupuk mata tidak tampak”
    ( ada hubungannya gak ya.. ?)

    hpnugroho

    Oktober 22, 2010 at 22:50

    • malam mas..
      peribahasanya salah mas, yang bner “Tong kosong nyaring bunyinya”
      *Makin ngawur

      makhluklemah

      Oktober 22, 2010 at 23:01

  2. beeeeh mantep ni puisi,, kiriiim maas :P

    edda

    Oktober 22, 2010 at 23:39

  3. puisinya sangat bagus kawan
    met beraktifitas ya

    Tip Trik Blogger

    Oktober 23, 2010 at 10:05

  4. hanya ada satu kata untuk dpr: bubarkan saja!

    joe

    Oktober 23, 2010 at 10:43

  5. Puisinya menarik, bisa menampilkan kekontrasan negeri ini;

    Masbro

    Oktober 23, 2010 at 17:14

  6. gw rasa para wakil rakyat sudah tidak bisa mendengar lagi.. mereke tuli! kuping ditutup dengan setumpuk uang rakyat yang mereka ambil

    adhie

    Oktober 23, 2010 at 23:25

  7. Tambahan:
    Dan apakah kau sadar
    bawa diluar sana
    sangatlah banyak
    jemuran yg belu diangkat

    ageng

    Oktober 24, 2010 at 16:18

  8. anggota dewdn penjilat rakyat.

    didin sadewa

    April 4, 2014 at 14:26


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 448 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: